Masmil Poncol Saksi Bisu Penahanan Letkol Untung di Cimahi

Masmil Poncol Saksi Bisu Penahanan Letkol Untung di Cimahi

Whisnu Pradana - detikJabar
Kamis, 29 Sep 2022 06:00 WIB
Lemasmil Poncol Cimahi
Lemasmil Poncol Cimahi (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Cimahi -

Belanda yang menjajah Indonesia selama 3,5 abad lamanya punya segudang peninggalan yang masih berdiri tegak dan berfungsi dengan baik. Satu di antaranya yakni Penjara Poncol.

Berada di belakang lapangan sepakbola Rajawali, penjara khusus militer itu gagah memandang langsung ke Jalan Raya Gatot Subroto, Kota Cimahi. Di baliknya, terselip rapi sejarah yang belum banyak diketahui banyak orang.

Penjara yang kini disebut dengan Lembaga Pemasyarakatan Militer (Lemasmil) II Cimahi itu dibangun pada tahun 1886. Tahun pembangunan lemasmil itu tercetak tegas pada bagian atas fasad bangunan.


Lemasmil Poncol di Cimahi sendiri dibangun oleh Pemerintah Belanda kala itu sebagai bangunan penjara pengganti yang sudah tidak layak dan tak manusiawi di Semarang.

"Jadi bangunan ini perencanaannya dari 1885 dibangun tahun 1886. Jadi Poncol di Cimahi menggantikan penjara di Semarang, yang berada di Jalan Poncol. Nah yang ada di sini, jadi disamakan persis dengan yang ada di Semarang," ungkap Kepala Seksi Rehab Lemasmil Poncol Mayor CHK Kowad Novi Susanti kepada wartawan, Rabu (28/9/2022).

Mengutip sejarah pembangunan Lemasmil Poncol yang ada di dalam bangunan tersebut, Militaire Huis van Arrest alias rumah tahanan militer Poncol oleh Belanda disebut dengan nama Militaire Strafgevangenis.

Lemasmil Poncol CimahiLemasmil Poncol Cimahi Foto: Whisnu Pradana/detikJabar

Menurut surat kabar Java Bode terbitan 27 Januari 1886, setengah dari Batalyon Infanteri 4 dan penghuni penjara militer Benteng Pendem Ambarawa Semarang akan dipindahkan ke kamp baru di Cimahi yakni ke Lemasmil Poncol. Pemindahan menggunakan kapal laut menuju Tanjung Priok, selanjutnya dibawa ke Cimahi menggunakan kereta api yang tiba pada 9 Oktober 1886.

Kemudian pada zaman penjajahan Jepang, Militaire Strafgevangenis digunakan sebagai kamp tahanan para petinggi dan anggota militer Hindia Belanda yang menentang pemerintahan Jepang.

Beroperasi sejak 1886, artinya hingga saat ini Lemasmil Poncol sudah berusia 136 tahun. Namun bangunan yang sepenuhnya diarsiteki dan dibangun oleh Belanda masih berdiri kokoh. Hanya ada sedikit perawatan di setiap bagian bangunan.

"Sampai sekarang renovasi hanya kecil-kecilan saja, karena enggak boleh mengubah bentuk bangunan. Bahkan warnanya juga masih sama seperti dulu, dibuat semirip mungkin dengan warna dasar putih," kata Novi.

Lemasmil Poncol berdiri di atas lahan seluas 4,7 hektare. Di dalamnya terdapat sejumlah ruangan yang berfungsi sebagai kantor staf dan Kalemasmil. Kemudian ada empat blok untuk tahanan dan satu blok karantina.

"Di dalamnya itu ada 4 blok penjara dan 1 blok karantina. Jadi itu sebagai tempat singgah tentara yang mau dipenjara di sini disimpan dulu di blok karantina untuk penyesuaian, setelah itu baru disimpan di blok-blok yang tersedia," tutur Novi.

Lemasmil Poncol CimahiLemasmil Poncol Cimahi Foto: Whisnu Pradana/detikJabar

Keunikan lainnya yakni penggunaan kompor tungku serta cerobongnya yang berusia sama dengan bangunan Lemasmil Poncol. Sampai sekarang kompor tungku itu digunakan untuk memasak makanan bagi prajurit yang menjalani pembinaan di tempat tersebut.

"Nah itu salah satu keunikannya, kompor tungku. Mungkin dulu pakai batubara juga untuk memasak, kalau sekarang pakai kayu tapi tetap bentuknya tungku," kata Novi.


Nama-nama yang Pernah Menghuni Lemasmil Poncol

Sederet nama dari kalangan militer pernah mendekam di balik jeruji besi Lemasmil Poncol yang dibatasi oleh dua buah gerbang berwarna hitam berukuran raksasa di bagian luar dan bagian dalam.

Sebut saja nama-nama kontroversial seperti Komandan Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa Letkol Untung dan Mantan Wakil Perdana Menteri merangkap Menlu zaman Orde Baru Dr Soebandrio yang berkaitan dengan kasus G30S PKI.

"Kemudian ada Eddy Sampak, narapidana yang fenomenal tahun itu. Jadi Eddy Sampak itu kan fenomenal tahun '77 karena membunuh anggota TNI sebagai juru bayar," kata Novi.

Saat ini di Lemasmil Poncol hanya ada sekitar 70 tahanan militer yang melakukan beragam pelanggaran hingga harus ditahan di tempat tersebut.

"Saat ini tersisa ada 70 tahanan, dengan kesalahan bermacam-macam. Kalau narkotika tidak ada. Jadi yang ditahan di sini prajurit yang nanti kembali lagi aktif, kalau yang dipecat enggak di sini dan keputusan pengadilannya sudah inkrah," kata Novi.

Selain Poncol, TNI punya penjara militer di daerah lainnya mulai dari Lemasmil Medan, Surabaya, Makassar, Banjarbaru, dan di Sentani Papua.

"Jadi total itu ada 6 Lemasmil termasuk Poncol Cimahi ini. Kalau di Cimahi, tahanan militernya ini berasal dari Palembang, Bengkulu, Lampung, Solo, dan paling jauh Jogjakarta," ujar Novi.

(yum/yum)