Batu Melingkar di Tasik Diyakini Peninggalan Leluhur Sunda

Batu Melingkar di Tasik Diyakini Peninggalan Leluhur Sunda

Deden Rahadian - detikJabar
Selasa, 23 Agu 2022 09:00 WIB
Situs Batu Melingkar di Tasikmalaya.
Situs Batu Melingkar di Tasikmalaya. (Foto: Deden Rahadian/detikJabar)
Tasikmalaya -

Sebuah situs yang menggambarkan keberadaan leluhur masyarakat Sunda ditemukan di Desa Jahiang, Kabupaten Tasikmalayapada 2020. Situs ini dinamakan Batu Melingkar atau Circle Stone.

Lokasi Batu Melingkar berada di komplek makam keramat Lemah Tuan Alam, Cipeujit, Desa Jahiang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Lemah Tuan Alam diyakini masyarakat sekitar sebagai leluhur yang berhubungan dengan Kampung Adat Naga.

Sesuai namanya, Situs Batu Melingkar ini terdiri dari deretan batu yang bentuknya melingkar. Ukuran batunya berbeda beda mulai kecil hingga ukuran batu sedang. Posisi batu tertata rapi dalam keadaan berdiri tegak.


Lingkaran batu ini ada yang satu lingkaran saja dengan batu ukuran besar di tengahnya. Terdapat juga lingkaran batu yang berurutan, seolah berderet dari lingkaran besar, mengecil sampai terpusat satu batu saja.

"Kami masyarakat Desa Jahiang awalnya tidak tau ada batu melingkar. Puluhan tahun kami mengetahui makam yang dikeramatkan warga, nggak ada yang tahu tersimpan batu melingkar. Tapi pas ada tim ekapedisi yang digagas Pak Anton Charliyan, tokoh Sunda yang juga mantan Kapolda Jawa Barat, akhirnya ditemukan," kata Gandi Sugandi (68), Kepala Desa Jahiang dikonfirmasi detikjabar belum lama ini.

"Awalnya hanya satu yang muncul seolah batu nisan. Tapi setelah penggalian hampir dua bulan ditemukanlah batu melingkar di kedalaman setengah meter hingga satu setengah meter," sambungnya.

Situs Batu Melingkar di Tasikmalaya.Situs Batu Melingkar di Tasikmalaya. Foto: Deden Rahadian/detikJabar

Total ditemukan 36 batu melingkar setelah penggalian. Keunikannya, terdapat semacam Menhir atau Lingga ditengah tengah lingkaran batu. Beberapa buah batu juga ditemukan lekukan menyerupai coet atau alat untuk membuat sambal dari batu.

Diyakini batu melingkar merupakan peninggalan leluhur Sunda dari zaman kerajaan dulu. Periodenya diperkirakan sebelum masuknya budaya Hindu dan Buddha dari India.

Bila dilihat dari bentuk batuannya dikategorikan sangat sederhana dan tidak berbentuk. Ini diyakini sebagai budaya asli leluhur Sunda Galunggung yang melambangkan kondisi alam Tatar Pasundan. Disinyalir penemuan batu melingkar sebagai lokasi kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda hingga lokasi tempat pendidikan.

"Menurut ahli dari Unpad yang turut dalam ekspedisi lalum namanya Pak Undang Ahmad Darsa menjelaskan pada kami pihak Desa dan masyarakat kemungkinan lokasi batu melingkar merupakan peninggalan leluhur dulu yang jadi lokasi tempat kegiatan orang dulu sehari hari," ungkapnya.

"Mungkin kegiatan pendidikan pada zaman dulu. Malahan disinyalir lokasi ini ada kaitan dengan keberadaan Kampung Adat Naga yang letaknya berada di Desa Neglasaru, lumayan jauh dari desa kami. Di lokasi tidak ditemukan peninggalan seperti benda lainya atau jasad," tambah Gani.

Selain temuan situs batu melingkar, di lokasi Lemah Tuan Alam juga ditemukan Goa Mahar. Menurut cerita orang tua, goa ini dipercaya sebagai peninggalan para raja Sunda yang dilengkapi parit.

"Cerita turun temurun dari gia mahar ini sesuai namanya, konon merupakan kebiasaan Raja Sunda jika putrinya dilamar, meminta dibuatkan sebuah goa untuk bermunajat ke Hyang Widhi, dan goa itu dijadikan perlindungan dari ancaman sekaligus untuk pertahanan. Itu menurut cerita orang tua dahulu yang disampaikan dari mulut ke mulut," tambah Gani.

Situs Batu Melingkar di Tasikmalaya.Situs Batu Melingkar di Tasikmalaya. Foto: Deden Rahadian/detikJabar

Makam Lemah Tuan Alam sendiri biasa digunakan masyarakat sekitar untuk ziarah. Waktunya pada bulan bulan tertentu seperti setelah Lebaran.

"Biasa jadi lokasi ziarah masyarakat sini. Ramai bulan tertentu seperti habis Lebaran," ucap Gani.

Tokoh Sunda yang juga mantan Kapolda Jawa Barat Aton Charlyan menyebut batu melingkar sebagai situs budaya masa lalu. Selain bentuknya unik, terdapat keanehan lain yang berkaitan dengan frekuensi sinyal alat komunikasi HT. Penggunaan alat komunikasi di lokasi ini akan semakin jauh jangkauanya meskipun berada dipegunungan minim sinyal.

"Ada keunikan di komplek keramat dan situs batu melingkar ini. Di komplek Lemah Tuan Alam frekuensi pemancar HT dan HP akan jadi semakin kuat dan semakin jauh daya jangkaunya," ujarnya.

"Sebagai contoh HT yang kapasitasnya hanya 5 ampere yang max jarak jangkaunya paling hanya 2 kilometer, secara otomatis tiba-tiba bisa menjangkau jarak 20 kilometer. Bahkan dicoba sampai bisa menjangkau yang Gunung Sawal di Kabupaten Ciamis yang jaraknya sekitar 40 kilometer dan Gunung Ciremai Kabupaten Kuningan yang jaraknya lebih dari 150 kilometer," ucap Anton Charliyan.

(orb/orb)