Voice of Baceprot: Berasal dari Pelosok Garut ke Panggung Dunia

Hakim Ghani - detikJabar
Sabtu, 13 Agu 2022 15:00 WIB
Voice of Baceprot, band metal yang berasal dari Garut, Jawa Barat menjadi sorotan publik Tanah Air. Pasalnya band yang digawangi oleh tiga wanita berhijab ini berhasil mewujudkan mimpi bisa tampil di luar negeri.
Foto: Aksi VoB di panggung Eropa (Dok. Instagram/voiceofbaceprot).
Garut -

Voice of Baceprot (VoB) kini menjelma jadi sebuah grup band fenomenal yang dikenal dunia. Sebelum melanglang buana, VoB hanyalah band indie yang berasal dari pelosok pegunungan Kabupaten Garut.

Voice of Baceprot atau yang dikenal dengan sebutan VoB merupakan sebuah band dengan aliran musik cadas dari Garut. Tak lazim memang, bukan pria bertato dan berambut panjang, band ini justru digawangi trio hijabers yang jelita.

Mereka adalah Firdda Kurnia sebagai vokalis, Widi Rahmawati sebagai pembetot bass, serta Euis Siti sebagai penggebuk drum. Melalui lagu-lagu cadas yang mereka ciptakan sendiri, mereka kini menjelma sebagai band metal yang diperhitungkan di tanah air.


Lagu-lagu seperti School Revolution, God Allow me (Please) to Play Music, yang diciptakan sendiri para personel VoB sukses menghipnotis para pecinta musik metal tanah air, hingga mancanegara.

Bahkan, belakangan ini usai pandemi COVID-19 mereda, mereka mulai menunjukan taringnya dalam bermusik di luar negeri. Tercatat, mereka pernah manggung di Prancis hingga Belanda.

Jauh sebelum dikenal di berbagai negara, VoB ternyata terlahir dari sebuah kota kecil di barat Pulau Jawa, Kabupaten Garut. Para personelnya berasal dari sebuah kecamatan kecil di selatan Kabupaten Garut, bernama Banjarwangi.

Letaknya berada di antara perbukitan dan pegunungan khas kontur alam Kabupaten Garut. Dari kawasan Garut Kota, yang menjadi pusat perkotaan Garut, jaraknya sekitar 3 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Setidaknya dalam 7 tahun terakhir, tak satupun warga Garut yang tau apa itu VoB. Jangankan mendengar karyanya, para personelnya pun tak dikenal sama sekali.

Segalanya dikerjakan sendiri oleh para personel dan manajemen 'seadanya' mereka saat itu. Hingga mereka berhak dilabeli sebagai band independen. Belum lagi saluran distribusi karya yang terbatas menjadi kesulitan tersendiri bagi VoB.

"Bahkan tantangannya tidak hanya berasal dari luar, tapi dari dalam. Bagaimana meyakinkan keluarga, itu menjadi salah satu tantangan tersendiri," kata Bah Erza, pendiri Voice of Baceprot kepada detikJabar.

Bukan hal mudah bagi VoB untuk bisa berjaya dan seterkenal sekarang. Para personel yang merupakan tiga gadis berhijab sering dibully karena dianggap tak pantas menyanyikan lagu-lagu cadas. Bahkan keraguan itu tak hanya datang dari luar, tapi dari keluarga para personel VoB itu sendiri.

Namun VoB tak berhenti hanya di situ. Di tengah keterbatasan, mereka terus berkarya. Ikut festival dan perlombaan musik dari panggung ke panggung, hingga masuk stasiun televisi lokal.

Kini VoB menjelma menjadi salah satu grup band aliran metal yang cukup digemari para pecinta musik cadas. Tak hanya di dalam negeri, pecinta musik luar negeri juga berburu untuk bisa menikmati karya-karya Voice of Baceprot.

Kehadiran VoB yang kini bisa dikatakan sukses menjadi salah satu kekuatan besar di industri musik juga membawa pengaruh yang cukup signifikan untuk dunia permusikan independen atau indie di Kabupaten Garut.

Saat ini, mulai banyak bermunculan band-band indie yang kerap mengisi acara-acara musik di kota intan. Munculnya VoB ini diharapkan menjadi tonggak meroketnya musik-musik indie asal Garut.

Sebab, meskipun kini VoB sudah menjadi salah satu band yang bergabung dengan industri, namun hal itu tidak pernah menghalangi karya-karya mereka yang dibuat atas dasar kehendak sendiri atau independen.

"Semoga bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman musik di Garut untuk terus berkarya," ujar Abah Erza.

(mso/mso)