Bukan Cuma di Bandung, Kampung Angklung juga Ada di Ciamis

Dadang Hermansyah - detikJabar
Sabtu, 13 Agu 2022 10:00 WIB
Kampung Angklung di Ciamis
Kampung Angklung di Ciamis (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar)
Ciamis -

Angklung merupakan alat musik dari Jawa Barat. Tidak hanya Bandung dengan Saung Angklung Udjo nya, namun Kabupaten Ciamis pun memiliki Kampung Angklung. Dimana hampir semua penduduknya menjadi perajin atau pembuat alat musik angklung.

Kampung Angklung Ciamis dideklarasikan sejak 2014 lalu di Kampung Nempel, Desa Panyingkiran, Kecamatan Ciamis. Perintis Kampung Angklung Ciamis adalah Alimudin atau biasa disapa Kang Mumu.

Mumu ini awalnya hanya sebagian pegawai membuat angklung di Banjar, Jawa Barat, tahun 1975. Pada waktu itu Banjar masih bagian dari Kabupaten Ciamis. Namun Mumu memiliki keahlian membuat angklung secara otodidak.


Ketika sudah mahir dalam teknik membuat angklung, Mumu pun pindah ke Desa Panyingkiran Ciamis di tahun 1992. Di tempat yang sekarang ini, Mumu pun mulai merintis usaha dengan memproduksi angklung. Seiring berjalannya waktu, angklung buatan Mumu pun mulai dibanjiri pesanan dari berbagai daerah.

Untuk memenuhi pesanan, Mumu pun mengajak dan memberdayakan warga setempat. Mumu mulai mengajari warga ilmu cara membuat angklung yang berkualitas. Kini ada sekitar 100 warga yang berdaya menjadi perajin alat musik angklung. Produksinya sekitar 800 buah angklung per hari.

"Alhamdulillah warga pun tertarik dan sampai sekarang masih terus bertahan memproduksi angklung," ujar Mumu, Kamis (11/8/2022).

Hampir setiap rumah warga di kampung Nempel memproduksi angklung. Mumu pun berinisiatif untuk mendeklarasikan Kampung Angklung di tahun 2014. Bahkan kini sudah di bawah naungan Yayasan Kampung Angklung.

"2014 dideklarasikan sebagai Kampung Angklung Ciamis. Tahun 2016 dari Pemkab Ciamis meresmikannya. Alhamdulillah setelah jadi kampung angklung, pesanan semakin banyak dari berbagai daerah di Indonesia," ucap Mumu.

Kampung Angklung di CiamisKampung Angklung di Ciamis Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Mumu pun mengaku pandemi COVID-19 dua tahun lalu cukup berimbas terhadap Kampung Angklung Ciamis. Mengingat pasar dari angklung adalah pariwisata.

"Pada saat pandemi kemarin sangar berpengaruh, turun 80 persen. Pesanan sepi termasuk pelatihan pun tidak ada karena kan tidak boleh berkerumun. Alhamdulillah tahun ini pesanan sudah ramai lagi," katanya.

Mumu menyebut Kabupaten Ciamis kaya pohon bambu bahan pembuat angklung yang melimpah. Terutama di bantaran sungai besar seperti Citanduy. Sehingga ia tidak khawatir dengan ketersediaan bahan baku.

Kampung Angklung Ciamis pun sering dikunjungi oleh pelajar dan mahasiswa. Mereka umumnya ingin melihat proses pembuatan alat musik yang digoyangkan itu.

"Biasanya yang datang dari sekolah-sekolah. Datang untuk melihat, belajar membuat atau memainkan angklung. Sayangnya tempatnya sempit," ungkapnya.

Kampung Angklung di CiamisKampung Angklung di Ciamis Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Mumu pun berharap ke depan Kampung Angklung Ciamis ini memiliki sanggar. Nantinya, sanggar itu tidak hanya untuk angklung saja, namun mewadahi seluruh kesenian di Ciamis.

Sehingga ketika pengunjung datang, ada sesuatu yang bisa dipertunjukkan atau dipraktikkan. Minimal dalam seminggu dua kali berbagai kesenian bisa dipentaskan bersama angklung.

"Ingin sanggar. Sampai saat ini belum terwujud. Sanggar diibaratkan kalau makanan itu enaknya dicicipi. Enaknya angklung harus dimainkan," tuturnya.

(yum/yum)