Tekanan ekonomi yang membuat biaya hidup semakin mahal mendorong masyarakat mengubah kebiasaan sehari-hari. Mulai dari lebih sering membawa bekal dari rumah, menekan biaya transportasi, hingga mengurangi aktivitas di luar rumah yang tidak mendesak, berbagai cara dilakukan agar pengeluaran tetap terkendali.
Seperti yang dialami sejumlah warga Bandung, penyesuaian tersebut bukan semata-mata soal menghemat uang, melainkan juga upaya menjaga kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM).
Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, menilai kemampuan menyesuaikan diri menjadi salah satu kunci menghadapi kondisi ekonomi yang terus berubah. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki pola pikir untuk bertahan sekaligus mengembangkan inovasi agar dapat melewati tekanan ekonomi.
"Tipsnya masyarakat harus menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ya, dengan mood-nya itu adalah bertahan dan meningkatkan inovasi gitu ya. Jadi mood-nya itu," kata Acuviarta, Selasa (27/10/2026).
Ia menjelaskan, bertahan dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan tidak cukup hanya dengan mengurangi pengeluaran. Masyarakat juga perlu mencari cara-cara baru untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan ekonomi, termasuk dalam memenuhi kebutuhan maupun mencari peluang penghasilan.
"Jadi modenya kita ini bertahan, tapi juga harus diikuti dengan pengembangan inovasi. Karena kita berhadapan dengan iklim lingkungan, artinya ekosistem ekonomi yang berubah kan begitu ya," ujarnya.
Tinggalkan Gengsi, Utamakan Kemampuan Beradaptasi
Selain mendorong inovasi, Acuviarta mengingatkan masyarakat untuk mulai meninggalkan pola pikir yang terlalu mengutamakan gengsi. Dalam kondisi ketika kemampuan ekonomi menghadapi tekanan, keputusan sehari-hari perlu lebih berorientasi pada kebutuhan dan kemampuan finansial, bukan sekadar mempertahankan gaya hidup.
Menurutnya, tidak ada alasan untuk merasa gengsi ketika seseorang harus mengubah kebiasaan demi menyesuaikan pengeluaran. Membawa bekal dari rumah, mengurangi kebiasaan makan di luar, atau memilih alternatif yang lebih hemat merupakan bentuk adaptasi terhadap kondisi yang sedang dihadapi.
"Enggak ada (gengsi), jadi istilahnya paradigma-paradigma gengsi dan sebagainya itu sudah mulai harus dihilangkan ya, paradigma pemikiran yang ya seperti itu," tutur Acuviarta.
Ia menegaskan, kemampuan seseorang untuk bertahan tidak ditentukan oleh seberapa jauh ia mampu mempertahankan gengsi, melainkan oleh kemampuannya berinovasi dan menyesuaikan diri.
"Karena saya kira ya kemampuan bertahan itu ya tidak ditentukan oleh gengsi kan begitu ya gitu, tapi kemampuan untuk berinovasi dan menyesuaikan diri dan mampu melewati kondisi yang ada sekarang," katanya.
(bba/orb)