Pertamina Spill Harga Pertamax Bisa Berkisar Rp 18-20 Ribuan

Pertamina Spill Harga Pertamax Bisa Berkisar Rp 18-20 Ribuan

Retno Ayuningrum - detikJabar
Jumat, 11 Sep 2026 23:00 WIB
Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat di Jabodetabek. Setelah harga Pertamax resmi naik menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026, sejumlah pengendara mulai beralih ke Pertalite untuk menekan pengeluaran transportasi harian.
Antrean kendaraan di SPBU (Foto: Rifkianto Nugroho/detikFoto)
Bandung -

Masih panasnya konflik yang terjadi di TImur Tengah, khususnya di Selat Hormuz berdampak terhadap fluktuasi harga energi dan minyak mentah dunia. Eskalasi yang tak kunjung mereda ini juga turut berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM).

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menilai situasi saat ini jauh lebih pelik dibandingkan masa konflik Ukraina dan Rusia sebelumnya. Dampak dari perang di Timur Tengah membuat harga minyak dunia belum menunjukkan tanda-tanda stabil atau mengalami penurunan signifikan.

"Katanya hari ini harga dunia, BBM juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun US$ 70 per barel atau US$ 60 per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera," ujar Eko dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menjelaskan jika tren harga minyak global terus bertahan tinggi tanpa adanya indikasi penurunan, harga produk bahan bakar non subsidi, seperti Pertamax bisa berpotensi mengalami penyesuaian hingga ke level Rp 20 ribu per liter.

"Karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp 18-20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," beber Eko.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, perang antara Amerika Serikat (AS) yang kembali memanas dengan Iran membuat harga minyak dunia melonjak. Pada perdagangan hari Kamis saja sempat tembus US$ 108 per barel. Ini merupakan pertama kalinya harga minyak dunia setinggi ini sejak Mei 2026.

Harga minyak sudah naik lagi di atas US$ 100 per barel minggu ini seiring dengan meningkatnya pertempuran di Selat Hormuz dan Laut Merah. AS dan Iran saling melancarkan serangan, sementara Houthi yang didukung Iran menyerang Arab Saudi dan memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab.

Kondisi ini membuat para pedagang memborong banyak minyak mentah untuk bersiap menghadapi gangguan pasokan yang lebih berkepanjangan, secara otomatis membuat harga komoditas energi yang satu ini terkerek.

Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini.

(rea/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads