Tidak semua koperasi desa langsung bergerak setelah akta notaris ditandatangani. Sebagian masih mencari anggota. Sebagian lain belum menemukan model usaha yang sesuai dengan kebutuhan warga. Ketika modal pemerintah belum tersedia, pengurus mulai berguguran. Rita Puspita Sari menyaksikan sejumlah koperasi bahkan harus merombak kepengurusan hingga mengganti akta notaris.
Di tengah keadaan itu, koperasi juga masih dibayangi pandangan lama. Warga kerap menganggapnya sekadar tempat menyimpan dan meminjam uang. Di Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, koperasi bahkan lekat dengan sebutan 'bank emok' atau rentenir keliling.
"Koperasi yang sesungguhnya itu bukan melulu tentang simpan pinjam," kata Ketua Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Cipelang tersebut saat berbincang dengan detikJabar, Kamis (27/8/2026).
KDMP Cipelang lahir pada Mei 2025. Sebulan setelah menandatangani akta notaris di kecamatan, Rita memilih langsung bergerak. Ia memilih untuk tidak menunggu gedung berdiri terlebih dulu atau bantuan modal turun. Perempuan berusia 44 tahun itu bersama pengurus koperasi mendatangi satu RT ke RT lainnya untuk mencari anggota dan menyosialisasikan apa itu koperasi.
Upaya tersebut tidak segera membuahkan hasil. Selama dua bulan, Rita berkali-kali menjelaskan bahwa simpan pinjam hanyalah salah satu unit usaha. Namun, pengetahuan warga mengenai koperasi masih terbatas. Ia akhirnya menyadari satu hal, bahwa penjelasan saja tidak cukup. Masyarakat membutuhkan bukti bahwa koperasi dapat memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
"Saya harus membuktikan ke masyarakat dulu. Lewat apa? Modal Rp100 juta kan belum ada. Namanya baru dibentuk sebulan," ujarnya.
Rita lalu mencari kebutuhan warga selain sembako. Pilihannya jatuh kepada internet. Layanan itu telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat dan hampir tidak dapat dilepaskan dari setiap rumah. Ia kemudian menggandeng salah satu penyedia jasa internet.
KDMP Cipelang menjadi pintu pembayaran dan administrasi pelanggan. Internet murah dijadikan magnet untuk menarik anggota. Warga yang ingin berlangganan diarahkan bergabung dengan koperasi.
Dari pembayaran bulanan pelanggan, sebagian dana disetorkan kepada penyedia layanan. Sebanyak Rp 5.000 dialokasikan untuk RT yang mencari konsumen. Adapun Rp 20.000 digunakan untuk menopang operasional dan kas koperasi.
Perlahan, jumlah pelanggan bertambah hingga hampir 500 orang. Pemasukan tersebut menjadi penyangga kegiatan KDMP Cipelang ketika bantuan pemerintah belum tersedia.
"Menjalankan koperasi tanpa modal saja berjalan. Modal dengkul, modal kepercayaan," kata Rita.
Simak Video "Video: 6.300 Koperasi Merah Putih Berbasis Energi Terbarukan Masuk Tahap Operasional"
(mso/mso)