Gerhana Matahari Total (GMT) membuat wilayah barat Islandia mendadak gelap gulita pada Rabu (12/8/2026). Sayangnya, awan tebal dan hujan menghalangi pandangan warga serta wisatawan yang ingin menyaksikan langsung momen saat bulan menutupi matahari.
Dilansir AFP, Kamis (13/8/2026), kegelapan total menyelimuti Keflavik, sekitar 50 kilometer barat daya ibu kota Reykjavik, pada pukul 17.47 waktu setempat.
Fenomena astronomi langka itu menjadi gerhana matahari total pertama yang dapat disaksikan dari Reykjavik sejak 1433. Peristiwa tersebut sukses menyedot perhatian ribuan wisatawan dan warga dari berbagai penjuru Islandia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Astronom sekaligus komunikator sains populer, Saevar Helgi Bragason termasuk salah satu pengamat yang paling antusias menantikan fenomena tersebut.
Ia mengaku telah menantikan hari ini selama lebih dari 10 tahun setelah menyaksikan gerhana matahari sebagian di Islandia pada 20 Maret 2015.
Namun, antusiasme itu bercampur dengan kekecewaan setelah prakiraan cuaca menunjukkan awan tebal berpotensi menutupi pemandangan ketika bulan menghalangi matahari.
"Rasanya hampir seperti kehilangan seseorang," kata Saevar kepada AFP sesaat sebelum peristiwa itu berlangsung.
Gerhana total berlangsung paling lama di kawasan tebing Latrabjarg, bagian paling barat Islandia. Di lokasi tersebut, fase total gerhana berlangsung sekitar 2 menit 13 detik.
Sementara itu, warga dan wisatawan di pusat Kota Reykjavik yang berada lebih ke selatan hanya dapat mengalami fase total selama sedikit lebih dari satu menit.
Baca juga: Ngerinya El Nino 2026 di Mata Ilmuan |
Fenomena tersebut juga mendorong tingginya minat wisatawan untuk datang ke Islandia. Hotel-hotel di Reykjavik dan sejumlah wilayah lain bahkan telah terisi penuh.
Salah satu hotel di Desa Breidavik, wilayah barat Islandia, bahkan telah menerima pemesanan pertama untuk menyaksikan fenomena tersebut sejak 14 tahun lalu.
Baca berita selengkapnya di detikNews.
(fas/sud)
