Inflasi Sukabumi Juli 2026 Capai 2,47%, Emas Jadi Biang Kerok

Inflasi Sukabumi Juli 2026 Capai 2,47%, Emas Jadi Biang Kerok

Siti Fatimah - detikJabar
Kamis, 13 Agu 2026 21:08 WIB
Pramuniaga menata emas batangan Galeri24 di salah satu toko emas perhiasan di Cikini, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Ilustrasi emas perhiasan (Foto: Ari Saputra/detikFoto)
Sukabumi -

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sukabumi mencatat adanya inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 2,47 persen pada Juli 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,67. Namun, di balik angka tersebut, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melesat tajam dan menjadi biang kerok utama lonjakan harga di Kota Sukabumi.

Berdasarkan data Berita Resmi Statistik BPS Kota Sukabumi, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak hingga 9,80 persen secara tahunan. Dari kelompok ini, komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang yang paling dominan mengerek angka inflasi dengan memberikan andil tahunan sebesar 0,52 persen.

Kepala BPS Kota Sukabumi Dani Jaelani dalam laporannya mengatakan bahwa pergerakan harga komoditas pada bulan ini memang secara umum memperlihatkan tren peningkatan dibanding periode yang sama tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perkembangan harga berbagai komoditas pada Juli 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS Kota Sukabumi pada Juli 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 2,47 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,95 pada Juli 2025 menjadi 112,67 pada Juli 2026," papar Dani, Kamis (13/8/2026).

ADVERTISEMENT

Selain emas perhiasan, inflasi kelompok perawatan pribadi juga didorong oleh komoditas kebutuhan harian, seperti sampo dan pasta gigi yang masing-masing menyumbang andil 0,02 persen, disusul hand body lotion, parfum, kacamata, serta tarif gunting rambut wanita.

Tak hanya perhiasan dan perawatan diri, sektor kebutuhan pokok dan transportasi turut andil melambungkan inflasi. Pada Juli ini, sektor tersebut memberikan andil atau sumbangan inflasi bulanan (m-to-m) sebesar 0,05 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi yaitu bensin.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan inflasi 2,69 persen dengan andil sebesar 1,22 persen. Komoditas minyak goreng dan daging ayam ras menjadi pemicu utama di kelompok ini dengan andil masing-masing 0,13 persen, disusul rokok kretek mesin (SKM) serta tahu mentah.

Kendati secara tahunan melambung, perkembangan harga bulanan (month-to-month/m-to-m) di Kota Sukabumi pada Juli 2026 justru mengalami deflasi tipis sebesar 0,02 persen dibanding Juni 2026.

"Penurunan harga bulanan ini dipicu oleh koreksi harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 0,56 persen, serta kelompok perawatan pribadi yang terkoreksi 0,80 persen," ujarnya.

Dani menambahkan, tingkat inflasi tahun berjalan (year-to-date/y-to-d) Kota Sukabumi dari Januari hingga Juli 2026 saat ini berada di posisi 1,52 persen.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads