Tangis Ratusan Buruh Pabrik Tekstil Korban PHK Massal di Cimahi

Tangis Ratusan Buruh Pabrik Tekstil Korban PHK Massal di Cimahi

Whisnu Pradana - detikJabar
Selasa, 04 Agu 2026 18:11 WIB
Buruh pabrik garmen di Cimahi menangis kala jadi korban PHK
Buruh pabrik garmen di Cimahi menangis kala jadi korban PHK (Foto: Istimewa).
Cimahi -

Tangis ratusan buruh perempuan karyawan PT Namnam Fashion Industries di Kelurahan Cigugur Tengah, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, terabadikan dalam video yang viral di media sosial.

Air mata tak terbendung kala para buruh perempuan itu menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Dalam narasi yang beredar di media sosial itu, PHK terjadi karena produksi PT Namnam resmi dihentikan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cimahi, Asep Jayadi, mengatakan berdasarkan informasi yang diterima, jumlah buruh yang menjadi korban PHK sebanyak 178 orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menurut informasi memang ada PHK, total buruh yang terdampak itu sebanyak 178 orang," kata Asep saat dikonfirmasi, Selasa (4/8/2026).

Asep mengatakan pemilik perusahaan memutuskan melakukan PHK terhadap 178 buruh karena mereka tak sanggup lagi membiayai produksi di bidang garmen di tengah ketidakstabilan kondisi ekonomi Tanah Air dan global.

ADVERTISEMENT

"Informasinya mereka sudah nggak kuat biaya produksinya, rencana mau berubah jenis usaha juga. Kami sekarang mau melakukan penelusuran dulu untuk kepastiannya," ujar Asep.

Menanggapi PHK massal yang menimpa 178 buruh itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut bahwa PHK buruh di sektor industri garmen bukan hal baru karena ada pertimbangan soal cost produksi.

"Karakter industri padat karya seperti garmen itu memang begitu problemnya. Seperti ada siklus usaha yang membuat perusahaan bisa berpindah atau berhenti beroperasi ketika biaya produksi tak lagi kompetitif," ujar Dedi.

Pengusaha garmen di Jawa Barat cenderung memilih memindahkan produksinya ke daerah lain yang memiliki biaya tenaga kerja lebih murah. Hal itu mereka lakukan jika sudah mencapai titik impas atau break-even point (BEP).

"Kalau dia sudah break-even point, kemudian ada tempat lain yang tenaga kerjanya lebih murah, biasanya pindah. Itu sudah terjadi di mana-mana," kata Dedi.

Kondisi tersebut berbeda dengan industri padat modal yang cenderung memiliki karakter investasi jangka panjang. Oleh sebab itu, pekerja di sektor garmen dinilai perlu memahami adanya perubahan lokasi industri dari waktu ke waktu.

"Jadi, mereka tidak membuat perusahaan ini permanen seperti industri padat modal. Kalau memang ada industri padat karya sektor garmen, ya harus berhati-hati bahwa dalam siklus sekian puluh tahun, dia pasti menutup," kata Dedi.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Mencicipi Susu Domba yang Segar di Cimahi "
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads