Musim kemarau membawa berkah bagi para nelayan di Pantai Timur Pangandaran seiring datangnya masa panen raya udang rebon. Fenomena tahunan ini menjadi tumpuan penghasilan tambahan yang menjanjikan bagi warga pesisir.
Aktivitas di kawasan pantai kini didominasi oleh proses pengolahan hasil laut. Setelah berjibaku menangkap udang sejak dini hari, para nelayan memanfaatkan terik matahari siang untuk menjemur tangkapan mereka. Dengan bantuan alat khusus, mereka tampak telaten membolak-balikkan hamparan udang agar kering merata tanpa harus menguras banyak tenaga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nono (67), salah seorang nelayan setempat, menuturkan bahwa siklus tangkap udang rebon biasanya berlangsung mulai Juli hingga Oktober. Momentum inilah yang dimanfaatkan nelayan untuk beralih fokus memburu udang kecil tersebut.
"Biasanya kita menangkap udang rebon di bagang, dengan menggunakan alat tangkap jaring sirib (branjang) dengan ukuran yang cukup besar," kata Nono, Senin (27/7/2026).
Operasi penangkapan dimulai sejak pukul 18.00 WIB hingga 04.00 WIB di bagang yang berjarak ratusan meter dari bibir pantai. Dalam satu malam, Nono mampu mengumpulkan satu kuintal bahkan hingga satu ton udang rebon, tergantung kondisi perairan.
"Dalam waktus semalaman, kita biasanya mengangkat jaring beberapa kali, dalam rentan waktu satu jam sekali. Jumlah hasil tangkapan ini juga dipengaruhi oleh perubahan arus laut," terangnya.
Udang yang telah terkumpul kemudian dibawa ke Lapangan Katapang Doyong untuk menjalani proses pengeringan selama setengah hingga satu hari penuh. Setelah dipastikan kering, udang rebon segera dikemas untuk dipasarkan ke luar daerah.
"Biasanya ada bandar dari Tegal, Banjar, datang langsung ke Pangandaran untuk membeli udang rebon ini," ujarnya.
Secara ekonomi, udang rebon memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Kualitas terbaik dibanderol antara Rp40 ribu hingga Rp43 ribu per kilogram, sementara kualitas rendah dihargai belasan ribu rupiah.
Dari hasil tangkapan satu ton, Nono bisa mengantongi keuntungan bersih mulai dari belasan hingga puluhan juta rupiah. Komoditas ini nantinya akan diolah menjadi berbagai produk pangan, seperti terasi dan ebi.
