Sediakan Pembayaran Digital, Kini Warung Kelontong Tak Lagi Kalah dari Minimarket

Sediakan Pembayaran Digital, Kini Warung Kelontong Tak Lagi Kalah dari Minimarket

Tya Eka Yulianti - detikJabar
Senin, 20 Jul 2026 14:28 WIB
Toko kelontong tempat Ressa anak Denada mencari nafkah
Foto: Eka Rimawati
Bandung -

"Bisa pakai QRIS?" tanya konsumen sebelum bertransaksi.

Pedagang atau pemilik usaha biasanya akan menunjuk cetakan kode QRIS yang telah disiapkan sebelumnya. Tak ada lagi cerita pendapatan batal masuk gara-gara konsumen tak membawa uang tunai.

Kejadian seperti ini jadi hal yang lumrah terjadi di warung-warung atau toko kecil. Seperti cerita Imas Komala (53), pemilik Toko Kelontong SRC Dimas di daerah Tanjungkerta, Sumedang ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Walaupun lokasinya di kampung, toko kita enggak kalah sama Indomaret atau Alfamart. Mau bayar pakai dompet digital apapun kita siap," tutur Imas saat berbincang dengan detikJabar Jumat (10/7/2026) lalu.

Terbaru, ia menambah dompet digital AstraPay lengkap dengan fitur QRIS soundbox. Kini Imas tak perlu bolak-balik mengecek ponselnya untuk memeriksa uang dari konsumen berhasil masuk rekeningnya. Setiap ada transaksi berhasil, akan terdengar suara notifikasi.

ADVERTISEMENT

"Saya melayani pembayaran digital itu ada-lah dari tahun 2000an. Makin kerasa enak pakai QRIS, enggak perlu lagi catat uang masuk. Biasanya kan catat di buku. Sekarang tinggal lihat aja di pencatatan transaksi. Gampang, enggak ribet," kata Imas yang mengaku sudah 26 tahun menjalankan usaha toko kelontongnya itu.

Bukan hanya Imas, ada banyak pelaku usaha yang juga merasakan manfaat transformasi pembayaran digital. Kehadiran teknologi lewat pembayaran digital diakui Imas menjadi salah satu alasan tokonya selalu ramai.

"Dalam sehari pemasukan bisa sampai Rp2-3 juta kotor. Ya namanya jualan sih disyukuri saja. Tapi adanya QRIS ini menurut saya jadi faktor toko bisa bertahan," tuturnya.

QRIS Makin Diminati, Jawa Barat Jadi Pengguna Terbesar

Deputi Bank Indonesia Jabar Naniek Sekarningsih menyebut bahwa transformasi digital bukan sekadar tren, melainkan bagian dari perkembangan ekonomi.

"Kami melihat perkembangan ini perlu menjadi perhatian bersama agar transformasi digital bisa makin optimal," ujar Nanik dalam acara Media Gathering AstraPay.

Naniek menyebut, Bank Indonesia juga telah menyiapkan arah kebijakan melalui Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030. Fokusnya yakni pengembangan ekosistem pembayaran digital yang terintegrasi, inovatif, sekaligus mampu mengantisipasi berbagai tantangan yang akan dihadapi di masa mendatang.

Ia pun menyampaikan jika perkembangan pembayaran digital di Jawa Barat terbilang sangat pesat.

Berdasarkan catatan hingga Mei 2026, jumlah pengguna QRIS di Jawa Barat telah mencapai 14,17 juta pengguna atau sekitar 22,49 persen dari total pengguna QRIS nasional. Angka tersebut menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah pengguna QRIS terbesar di Indonesia.

Dari sisi merchant, tercatat terdapat 10,45 juta merchant atau sekitar 22 persen dari total merchant nasional, sekaligus menjadi kontributor terbesar secara nasional.

Sementara itu, volume transaksi QRIS di Jawa Barat telah mencapai 1,87 miliar transaksi dengan nilai transaksi sebesar Rp163,74 triliun.

"Data ini menunjukkan besarnya penggunaan transaksi digital di Jawa Barat. Peluangnya juga masih sangat terbuka," katanya.

Ia menjelaskan, jika dilihat dari skala usaha merchant QRIS, sekitar 65 persen merupakan usaha mikro, disusul usaha kecil sebesar 28 persen, sementara sisanya berasal dari usaha menengah dan besar.

Naniek menekankan bahwa keberhasilan digitalisasi UMKM tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.

"Digitalisasi UMKM bukan hanya soal transaksi pembayaran, tetapi juga bagaimana mendorong produktivitas, memperluas akses pembiayaan, dan membuka akses pasar. Semua itu membutuhkan kolaborasi bersama," ujarnya.

CEO AstraPay Rina AprianaCEO AstraPay Rina Apriana Foto: Tya Eka Yulianti

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM Lewat Ekosistem Astra

Salah satu aplikasi dompet digital atau uang elektronik yang juga gencar edukasi UMKM untuk bertransformasi digital yakni AstraPay. CEO AstraPay Rina Apriana menyampaikan jika pada tahun keenamnya, AstraPay telah memiliki lebih dari 17,5 juta pengguna di Indonesia. Jumlah ini meliputi 300 juta transaksi dengan nilai mencapai lebih dari Rp150 triliun.

Di sektor UMKM, AstraPay saat ini telah bekerja sama dengan lebih dari 30 ribu merchant* di seluruh Indonesia dan menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 50 ribu *merchant hingga akhir tahun.

"Seiring bertambahnya usia perusahaan, kami ingin terus tumbuh lebih besar dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi perkembangan digital payment di Indonesia," jelas Rina.

Salah satu fokus utama AstraPay adalah menjadi mitra bagi UMKM agar bisa meningkatkan pertumbuhan usahanya.

Pembayaran melalui QRIS dinilai lebih aman bagi pelaku usaha. Dana dari konsumen langsung masuk ke rekening sehingga mengurangi risiko uang palsu maupun penyalahgunaan uang tunai.

"Jangan lupa, seluruh transaksi digital ini tercatat. Berbeda dengan pencatatan manual yang bisa hilang, data digital dapat menjadi bukti ketika UMKM ingin mengajukan pinjaman atau pembiayaan ke bank maupun perusahaan multifinance," ujarnya.

Adapun keunggulan AstraPay dibanding dompet digital lain, ia mengatakan kekuatan utama perusahaan berada pada ekosistem Astra yang terintegrasi.

"AstraPay berada di dalam ekosistem Astra sehingga kami bisa menghadirkan berbagai layanan dan produk Astra dalam satu platform," kata Rina.

Ia mencontohkan, apabila pelaku UMKM membutuhkan pembiayaan kendaraan, tersedia layanan dari FIF Group. Selain itu, pengguna juga dapat mengakses berbagai produk Astra lainnya, mulai dari kendaraan bermotor, mobil, pembiayaan usaha, layanan umrah dan haji, hingga asuransi.



(tya/tey)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads