Miris! Lobster Jumbo Pangandaran Mulai Langka Imbas Perburuan Benur

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Sabtu, 06 Jun 2026 15:00 WIB
Ilustrasi lobster. Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar
Pangandaran -

Lobster berukuran jumbo kini mulai sulit ditemukan di laut Pangandaran. Padahal, dulu pesisir selatan ini menjadi gudangnya lobster besar.

Kelangkaan lobster itu dipicu oleh maraknya penangkapan benih lobster (benur). Kondisi ini diungkap oleh Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran, Jeje Wiradinata.

Mantan Bupati dua periode itu mengungkapkan, sejak 13 tahun lalu lobster berukuran jumbo mulai mengalami kelangkaan akibat penangkapan baby lobster. "Pagi tadi saat ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) untuk cek jual beli ikan, kebetulan sebagai ketua KUD. Setelah sekian lama saya baru lagi menemukan lobster jumbo berjenis mutiara dengan bobot 1 kilogram," ucap Jeje saat ditemui di TPI Cikidang, Sabtu (5/6/2026).

Menurutnya, jenis lobster mutiara itu saat ini sudah sangat langka dan makin sulit ditemukan di perairan Pangandaran. Ia pun menyayangkan jika di balik langkanya lobster tersebut ada nilai ekonomi cukup besar yang hilang.

Kondisi ini terjadi akibat ketidaksabaran nelayan yang memilih menangkap benur, padahal lobster ukuran jumbo memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Jeje pun membandingkan nilai ekonomis antara lobster muda yang diperkirakan baru berusia enam bulan dengan lobster dewasa yang dibiarkan hidup lebih lama di habitat aslinya.

Nilai Ekonomi Tinggi dari Lobster Jumbo

Kata Jeje, lobster muda berukuran kecil yang marak ditangkap saat ini hanya laku dijual sekitar Rp 300.000 per kilogram, yang umumnya berisi hingga lima ekor. Angka tersebut berbanding terbalik dengan nilai jual seekor lobster mutiara dewasa yang dapat menembus Rp 1.050.000 per kilogram.

"Coba bayangkan, kalau baby lobster ini tidak disakiti dan dibiarkan hidup hingga besar seperti ini, maka uang yang didapatkan nelayan akan berkali-kali lipat. Satu ekor saja bisa sejuta lebih,"ujarnya.

Krisis Ekologi Pesisir

Selain menimbulkan kerugian ekonomi, penangkapan benur secara serampangan juga menjadi alarm bahaya bagi ekologi laut Pangandaran. Jeje mengenang masa lalu ketika ekosistem pesisir belum tereksploitasi seperti sekarang, di mana nelayan dapat membawa pulang tangkapan dalam jumlah melimpah dengan sangat mudah.

"Di zaman saya kecil, bapak saya mencari lobster itu dapatnya bisa sampai satu kuintal atau 30 kilo. Dulu uang Rp 60.000-Rp 70.000 itu sudah sangat besar," kenangnya.

Kini, kondisi berbalik 180 derajat. Alih-alih mendapatkan puluhan kilogram, nelayan mulai kesulitan walau sekadar untuk menemukan bibit lobster. "Sekarang, mencari benur saja takut tidak ada barangnya. Susah," tambah Jeje.

Minta Tindakan Tegas Pemerintah

Melihat situasi di lapangan, Jeje menilai bahwa imbauan lisan tidak lagi cukup untuk mengurai permasalahan ini. Ia menegaskan perlunya regulasi dan intervensi nyata dari pemerintah daerah serta institusi berwenang terkait.

"Kita memberikan pemahaman seperti ini ke nelayan memang susah. Jadi saya bilang, ini adalah tugas pengambil kebijakan di daerah, para pemegang aturan," tegasnya.

Jeje menutup kunjungannya dengan pesan reflektif bagi seluruh pihak. Ia meyakini bahwa kunci kesejahteraan nelayan sejatinya terletak pada pelestarian alam itu sendiri. "Kalau semuanya bersinergi menjaga lingkungan dan laut kita, baby lobster ini tidak ditangkap secara serampangan, hasilnya pasti akan menyejahterakan nelayan kita sendiri," pungkasnya.




(sud/sud)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork