Menelusuri Lorong Pasar Kota Kembang yang Kian Redup

Menelusuri Lorong Pasar Kota Kembang yang Kian Redup

Shifa Lupiah Ajijah - detikJabar
Selasa, 07 Apr 2026 11:00 WIB
Pasar Kota Kembang di Bandung.
Kondisi Pasar Kota Kembang di Bandung. Foto: Shifa Lupiah Ajijah
Bandung -

Di tengah ramainya Jalan Dalem Kaum dan Asia Afrika, terdapat sebuah lorong yang menyimpan sejarah panjang perdagangan di pusat Kota Bandung.

Pasar Kota Kembang, yang dikenal sebagai salah satu destinasi belanja tas dan sepatu legendaris, kini menghadapi tantangan berat. Kondisi atap yang bocor, material bangunan yang melapuk, hingga deretan kios yang tutup menjadi pemandangan sehari-hari di pasar yang kini mendesak untuk direvitalisasi tersebut.

Jejak Sejarah Pasar Kota Kembang

Sejarah Pasar Kota Kembang bermula dari inisiatif pengembangan area di atas saluran air. Lorong yang membentang dari Jalan Dalem Kaum hingga Jalan Asia Afrika ini awalnya merupakan area terbuka, yang kemudian dikembangkan menjadi kawasan komersial oleh Haji Muhammad Yasin, seorang perantau asal Padang, sekitar tahun 1972.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rusmen, pengelola generasi kedua sekaligus Ketua Paguyuban, menceritakan pasar ini tumbuh dari pembangunan kreatif di atas saluran drainase kota.

ADVERTISEMENT

"Awalnya dari Jalan Dalem Kaum sampai Asia Afrika ini adalah selokan. Lalu dibangunlah pasar ini oleh kakek saya, Haji Muhammad Yasin. Beliau menutup bagian selokan itu dengan papan kayu agar bisa digunakan untuk berjualan," kata Rusmen saat ditemui detikJabar, Senin (6/4/2024).

Tanggung jawab pengelolaan pasar akhirnya tursun ke tangan keluarga, dan kini Rusmen meneruskan estafet tersebut. Karakteristik pasar ini tergolong unik karena pembagian lahannya dilakukan secara kekeluargaan oleh para pendahulu.

"Dulu masih kaki lima, belum ada kios seperti sekrang. Warga diberikan jatah lahan lah. Jadi sekarang, ukuran kios di sini bervariasi, ada yang satu meter hingga tiga meter," tambah Rusmen.

Salah satu aturan yang tetap teguh dipertahankan hingga kini adalah larangan menjual makanan dan minuman di dalam area pasar. Hal ini dilakukan guna menjaga ketertiban dan memastikan kawasan tetap fokus sebagai pusat perdagangan produk sandang.

Pasar Kota Kembang di Bandung.Pasar Kota Kembang di Bandung. Foto: Shifa Lupiah Ajijah

Perjalanan Pasar Kota Kembang dari Masa ke Masa

Mulanya, Pasar Kota Kembang menjadi primadona bagi pemburu barang berkualitas dengan harga miring. Hajah Maesaroh (52), seorang pedagang tas yang telah bertahan selama puluhan tahun, mengenang masa kejayaan saat lorong ini selalu sesak dipadati pengunjung.

"Dulu saya sempat mengontrak kios yang lebih besar dan memiliki banyak karyawan," kenangnya.

Hasil dari masa keemasan tersebut memungkinkannya berinvestasi properti dan menopang kebutuhan keluarga. Kala itu, tingkat kunjungan sangat tinggi hingga setiap sudut pasar nyaris tak menyisakan ruang gerak.

Namun saat ini, pemandangan kontras terlihat dari banyaknya kios yang tutup. Rusmen mengungkapkan bahwa ukuran kios yang tidak seragam serta degradasi infrastruktur menjadi persoalan pelik yang harus segera dicarikan solusi.

Tantangan utama saat ini terletak pada kebutuhan renovasi total. Rusmen menyatakan koordinasi dengan pihak Perumda Pasar Juara telah dilakukan, namun para pedagang masih menantikan langkah konkret di lapangan. Menurutnya, pembangunan pasar memerlukan standar kelayakan dan biaya besar yang tidak mungkin ditanggung secara swadaya.

Kendala teknis seperti kebocoran atap saat hujan deras kini menjadi santapan rutin. Meski pedagang kerap patungan melakukan perbaikan mandiri, kerusakan baru selalu muncul di titik lain akibat faktor usia bangunan yang sudah tua.

Terdapat pula beban finansial yang timpang terkait selisih antara pemasukan retribusi dan kewajiban pajak. Berdasarkan informasi pengelola, uang retribusi dalam setahun berkisar Rp 8 juta hingga Rp 12 juta, sementara beban pajak yang harus ditanggung mencapai Rp 28 juta.

Rusmen berharap ada peninjauan kembali mengenai besaran pajak atau solusi administratif lainnya, mengingat kondisi pasar yang kian sepi. Saat ini, pengelola sering kali merogoh kocek pribadi untuk perbaikan mendesak demi menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan pasar.

Pasar Kota Kembang di Bandung.Pasar Kota Kembang di Bandung. Foto: Shifa Lupiah Ajijah

Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Selain kendala fisik, para pedagang kini harus bertarung dengan pergeseran gaya belanja masyarakat ke platform digital. Maesaroh mengakui tantangan zaman ini cukup berat, namun ia sedikit bernapas lega karena anak-anaknya mulai membantu memasarkan produk secara daring.

"Penjualan online sangat membantu," ujarnya.

Meski toko fisiknya kini lebih sepi, ia memilih tetap bertahan karena status kepemilikan kios yang meringankan biaya operasional bulanan. Namun, bagi sebagian pedagang lain yang terbebani sewa, menutup kios menjadi pilihan pahit yang sulit dihindari.

Harapan para pedagang tetap sederhana: mereka menginginkan pembenahan fasilitas dasar, terutama atap dan penataan ruang, agar pengunjung kembali merasa nyaman berbelanja.

Rusmen menegaskan bahwa pada prinsipnya pengelola sangat terbuka terhadap solusi apa pun dari pihak berwenang, asalkan bertujuan untuk kepentingan umum dan keberlanjutan fungsi lahan legendaris tersebut.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads