Siang itu, lorong sebuah pasar di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, tampak cukup lengang. Keramaian hanya terlihat di blok sembako dan oleh-oleh. Sementara di lorong lain, salah satunya kios aneka plastik, terpantau sepi.
Seorang pedagang lansia bernama Neneng tampak santai duduk di kursi plastik sembari menghadap ke depan tokonya. Tak banyak aktivitas yang ia lakukan selain menunggu dan melayani pembeli. Saat pelanggan tak kunjung datang, Neneng hanya bisa berdiam diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Neneng merupakan generasi kedua penjual plastik di Pasar Kosambi yang meneruskan usaha keluarganya. Ia sudah berjualan hampir delapan tahun sejak 2018 lalu.
"Betul, lagi naik. Kenaikan Rp5 ribu, untuk semua produk, kaya kantong kresek, plastik kemasan cemilan, kenaikan terjadi sejak puasa, dan Lebaran," kata Neneng kepada detikJabar, Sabtu (4/4/2026).
Wanita berusia 72 tahun itu menyebutkan kenaikan harga terjadi sejak masa puasa dan tak kunjung turun hingga saat ini.
"Sudah beberapa kali naik, kenaikan bertahap. Misal dari sananya Rp28 ribu, jadi Rp32 ribu, gitu aja," tambahnya.
Neneng menyebutkan, produk plastik yang ia jual ada yang disuplai, ada juga yang dibeli langsung ke daerah Cibadak dan Astanaanyar. Akibat kenaikan ini, Neneng kerap mendapatkan protes dari pembeli.
"Kok terus naik, kok segini, ya nggak tahu, di sananya juga naik," tuturnya.
Naik Akibat Perang
Neneng menyebutkan, kenaikan harga plastik merupakan dampak perang di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Menurut Neneng, sebelumnya ia tidak menyangka harga akan melonjak akibat perang.
"Aku pikir nggak nyambung gegara perang," ujarnya.
"Nggak nyambung, orang perang, kita yang terdampak, ternyata bahan bakunya," tambahnya.
Setelah mendengar alasan penyuplai menaikkan harga plastik karena perang, Neneng pun menyadari dampak konflik tersebut sangat luar biasa. Akibatnya, ia harus mengurangi pembelian karena modal yang terbatas.
"Eh bener naik terus, saya kurangi pembelian, gimana kebutuhan, pengaruh sama modal," ujarnya.
Selain itu, Neneng juga membeli plastik ke penyuplai setiap hari agar uangnya terus berputar. "Belanja tiap hari, nggak kaya orang numpuk belanjanya," tambahnya.
Dengan kondisi global ini, Neneng berharap harga plastik kembali normal dan perang segera selesai.
"Inginnya normal kembvali, seperti sedia kala, kasihan ke pembeli, ke penjual kecil-kecil," pungkasnya.
(sud/sud)










































