Badai krisis mulai menghantam sejumlah negara akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. Filipina baru saja menetapkan status darurat energi nasional, sementara Bangladesh mulai terseok-seok menghadapi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Merespons situasi global yang kian mencekam, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara. Ia menegaskan bahwa ancaman darurat energi sebenarnya bukan terletak pada beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan pada stabilitas pasokan.
"Darurat energi itu bukan di APBN. Darurat energi adalah kalau misalnya suplainya berhenti, itu yang saya takut. Bukan harganya, (tetapi) suplainya nggak ada, ini kan masih ada suplainya. Jadi kalau dibilang darurat, nggak, tetapi kita mesti siap-siap terus ke depan," kata Purbaya seperti dilansir dari detikFinance, Kamis (26/3/2026).
Hingga detik ini, Purbaya menjamin postur APBN masih cukup tangguh untuk meredam gejolak kenaikan harga energi dunia. Ia memastikan tidak akan ada perombakan anggaran hingga tutup tahun, meski keputusan final tetap berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.
"Saya nggak akan ubah APBN atau subsidi yang ada sampai titik yang mungkin nanti harganya tinggi sekali. Pada saat sekarang, sampai akhir tahun dengan harga sekarang, kita masih tahan APBN, tergantung keputusan pimpinan nantinya, tetapi saya tawarkan, aman," ucap Purbaya.
Purbaya menilai, publik tidak perlu panik secara berlebihan. Menurutnya, terlalu prematur untuk mengutak-atik harga minyak maupun subsidi energi dalam APBN saat ini karena fluktuasi harga masih dalam batas perhitungan rata-rata.
"Nanti kalau naiknya (tinggi) baru kita hitung lagi berapa. Jadi nggak otomatis tiba-tiba jadi US$ 100, kan kita hitung rata-rata," imbuh Purbaya.
Artikel ini sudah tayang di detikFinance, baca selengkapnya di sini.
Simak Video "Video Jurus Purbaya Genjot Ekonomi Tumbuh 6%, Demi Kejar Hadiah Prabowo"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
