Fenomena Jasa Tukar Uang Jelang Lebaran di Bandung

Fenomena Jasa Tukar Uang Jelang Lebaran di Bandung

Shifa Lupiah Ajijah - detikJabar
Selasa, 03 Mar 2026 18:30 WIB
Penyedia jasa tukar uang baru mulai menjamur di Bandung
Penyedia jasa tukar uang baru mulai menjamur di Bandung (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar).
Bandung -

Suasana di sekitar Jalan Wastukencana hingga Jalan Merdeka, tepatnya dekat Balai Kota Bandung, mulai ramai dengan pemandangan khas tahunan. Di sekitar trotoar jalan, deretan penyedia jasa tukar uang baru mulai bermunculan walaupun Lebaran masih dua pekan mendatang.

Meski baru mulai terlihat ramai dalam beberapa hari terakhir, keberadaan jasa tukar uang di jalanan ini bukanlah hal baru. PS, salah satu penyedia jasa tukar uang di sekitar kawasan tersebut, menyebutkan bahwa praktik ini sudah eksis setidaknya selama dua dekade terakhir.

Untuk musim Lebaran tahun 2026 ini, ia mengaku baru saja memulai aktivitasnya di trotoar jalan tersebut. Meski begitu, pantauan detikJabar menunjukkan suasana saat ini masih relatif tenang dibandingkan puncak musim mudik nanti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi masyarakat yang ingin menukar uang di pinggir jalan, mereka harus membayar biaya jasa. Berdasarkan penuturan PS, tarif rata-rata yang dikenakan adalah 15% dari nilai uang yang ditukar.

"Ini uang baru, kalau tukar per Rp100.000 ke saya, jasanya 15%, jadi Rp115.000," ujarnya saat ditemui detikJabar pada Selasa (3/3/2026).

ADVERTISEMENT

Sistem ini berlaku kelipatan untuk berbagai pecahan, mulai dari Rp2.000 hingga Rp20.000. PS menegaskan bahwa tidak ada perbedaan tarif untuk setiap pecahan.

"Tidak dibedakan, pecahan Rp20.000 pun sama. Jadi kalau tukar Rp200.000 jadi Rp230.000 dengan jasanya," jelasnya.

Menariknya, tarif jasa 15% ini tidaklah permanen. PS mengungkapkan bahwa harga tersebut akan melonjak seiring semakin dekatnya hari raya karena ketersediaan uang baru yang mulai menipis di tingkat pengepul. "Seminggu lagi banyak yang jual 20 persen," ungkapnya.

Kenaikan ini dipicu oleh hukum permintaan dan penawaran di lapangan. PS menjelaskan bahwa para penyedia jasa saling berkomunikasi untuk menjaga stabilitas harga di berbagai titik.

"Di setiap titik ada teman saya, jadi kami saling tahu harga jualnya berapa. 15 persen itu yang paling murah," tambahnya.

Pecahan kecil seperti Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, hingga Rp20.000 menjadi yang paling banyak dicari. Namun, ada fenomena unik mengenai pecahan Rp1.000 yang kini sangat sulit ditemukan. Harganya pun melonjak drastis dibandingkan pecahan lainnya.

"Kalau pecahan Rp1.000 saya nggak punya, karena sekarang jasanya 25 persen, jadi Rp25.000 per Rp100.000," kata PS.

Meski peminatnya tidak sebanyak pecahan Rp5.000, uang baru pecahan Rp1.000 tetap diburu untuk keperluan spesifik. "Gak tahu pasti ya, setahu saya yang mencari pecahan Rp1.000 itu yang pakai mobil, untuk yang ngasih di jalan atau bayar parkir," tuturnya menebak alasan konsumen mencari pecahan terkecil tersebut.

Salah satu kekhawatiran terbesar dalam tukar uang di pinggir jalan adalah risiko uang palsu. Namun, selama bertahun-tahun menjalani profesi musiman ini, PS mengaku belum pernah menemui kendala tersebut. "Sepengalaman saya, baik saya maupun teman-teman saya belum pernah," ujarnya.

Untuk meminimalkan risiko bagi kedua belah pihak, kini transaksi tidak melulu menggunakan uang tunai. Banyak penyedia jasa yang sudah menerima pembayaran melalui transfer bank agar lebih praktis dan aman, salah satunya PS.

Meski terlihat sederhana, omzet dari bisnis musiman ini cukup fantastis, terutama saat memasuki akhir pekan. PS menyebutkan bahwa meski di hari biasa ia hanya melayani penukaran beberapa ratus ribu rupiah, omzet tersebut bisa melesat puluhan kali lipat pada hari tertentu.

"Hari Minggu kemarin saya menjual Rp500.000, namun omzet pada hari Sabtu, saya nggak bohong ya, bisa sampai Rp15.200.000," ungkapnya.

Ia menyadari bahwa pendapatan ini sangat bergantung pada keberuntungan dan lokasi. "Jadi tergantung rezekinya," tutup PS.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Tren Baju Lebaran Menurut Desainer dan Brand Owner"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads