Pundi-pundi kekayaan sejumlah pengusaha kakap nasional terpantau melonjak tajam. Berdasarkan data terbaru Bloomberg Billionaires Index per hari ini (11/2/2026), nama Sukanto Tanoto menjadi sorotan setelah hartanya melejit signifikan hingga menyentuh angka US$ 23,3 miliar atau setara Rp 390 triliun.
Loncatan ini membawa Sukanto bertengger di posisi 113 orang terkaya di dunia, tepat satu posisi di atas Robert Kuok. Sepanjang awal 2026 saja, kekayaan bos Royal Golden Eagle (RGE) ini sudah tumbuh sekitar 7,3% (year-to-date), atau bertambah US$ 1,62 miliar (setara Rp 26,8 triliun).
Baca juga: Daftar Terbaru 5 Orang Terkaya di Indonesia |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski Sukanto Tanoto melesat, takhta orang terkaya nomor satu di Indonesia masih kokoh digenggam oleh Prajogo Pangestu. Taipan energi ini memiliki kekayaan yang jauh lebih jumbo, yakni di kisaran US$ 34 miliar atau sekitar Rp 570 triliun. Angka fantastis ini menempatkan Prajogo di peringkat 71 orang terkaya di dunia.
Menyusul di posisi ketiga, ada nama Low Tuck Kwong dengan total kekayaan sekitar US$ 20,1 miliar atau setara Rp 337 triliun. Dengan angka tersebut, posisi Low Tuck Kwong kini berada tepat di bawah Sukanto Tanoto dalam ranking nasional.
Melengkapi daftar lima besar, duo Hartono masih menunjukkan taringnya. Budi Hartono menempati posisi ke-4 dengan harta US$ 17,8 miliar, disusul Michael Hartono di posisi ke-5 dengan kekayaan bersih mencapai US$ 16,3 miliar versi Bloomberg.
Jika diadu di level global, kekayaan Sukanto Tanoto memang masih terpaut jauh dari raksasa dunia seperti Elon Musk atau Bernard Arnault yang mengantongi ratusan miliar dolar. Namun, posisi Sukanto kini semakin kompetitif di jajaran miliarder dunia kelas US$ 20-25 miliar.
Secara rinci, selisih kekayaan antar-taipan ini cukup kontras. Prajogo Pangestu masih unggul jauh sekitar US$ 10,7 miliar dari Sukanto Tanoto. Di sisi lain, Sukanto berhasil mengungguli Low Tuck Kwong dengan selisih sekitar US$ 3,2 miliar.
Pertumbuhan positif aset Sukanto Tanoto secara year-to-date ini menjadi anomali menarik, mengingat beberapa taipan lainnya justru harus menghadapi fluktuasi nilai kekayaan akibat dinamika pasar modal dan pergerakan harga komoditas global yang tidak menentu.
(fdl/orb)










































