Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya sejak dulu dikenal memiliki hasil produksi pertanian yang ikonik, yaitu buah salak.
Salak Cineam dulu terkenal dan mampu merajai pasar di Jawa Barat bahkan di Indonesia. Bahkan tak jarang pula salak Cineam dijajakan di bus-bus antar kota. Landong puyeng alias obat pusing, demikian para pedagang asongan menjajakan salak kepada para penumpang.
Bagi masyarakat Cineam, sektor agribisnis ini menjadi penopang perekonomian masyarakat. Kebutuhan ekonomi masyarakat di Kecamatan Cineam, Manonjaya hingga ke wilayah Cimaragas Ciamis bisa dipenuhi dari menanam salak.
Namun saat ini masa keemasan salak Cineam seakan tenggelam. Produksi semakin minim karena dianggap tak lagi menguntungkan. Kini yang tersisa hanya cerita-cerita manis dari legitnya berbisnis buah bernama latin Salacca Zalacca itu.
Rasman (60), warga Kampung Margamulya, Desa Cikondang, Kecamatan Cineam mengatakan, menanam salak saat ini sudah tak lagi menguntungkan.
"Sekarang sudah nggak laku, kalau dulu sebelum tahun 2000-an, saya punya kebun salak 400 bata, itu cukup untuk menghidupi keluarga," kata Rasman, belum lama ini.
Dia mengenang, kala itu setiap 2 minggu sekali dia panen salak, lalu dengan mudah dijual di kebun karena banyak pengepul yang datang ke kampungnya untuk memborong salak.
"Pokoknya dua minggu sekali gajian, bandar-bandar datang ke sini. Cepat sekali jadi duitnya. Lah itu saya bisa punya rumah, menyekolahkan anak itu hasil dari salak," kata Rasman.
Kondisi menguntungkan yang sudah berlangsung puluhan tahun itu perlahan mereda ketika mulai memasuki tahun 2000-an. "Sejak akhir 90-an juga sudah mulai ada gejalanya, harga turun. Bandar banyak yang bangkrut. Jadi susah menjual," kata Rasman.
Bahkan di satu waktu, harga jual salak hanya Rp 100 per kilo. "Sampai 100 perak sekilo, itu kan sudah hancur, sama saja dengan nggak ada harganya," kata Rasman.
Saat itu berbagai upaya dilakukan, termasuk mengolah buah salak menjadi manisan. Namun tetap saja, salak Cineam kalah bersaing. "Sudah dibuat manisan, tapi kalau tak ada yang membeli kan percuma," kata Rasman.
AkhirnyaRasman pun membabat kebun salak miliknya, diganti dengan tanaman yang dianggap lebih menguntungkan. "Langsung ganti saja sama kapol (kapulaga), ya pohon salak disisakan beberapa batang sebagaititimangsa (kenang-kenangan)," kataRasman.
Simak Video "Video: Polisi Selamatkan Gadis yang Disekap Pria di Penginapan Tasikmalaya"
(mso/mso)