Perjalanan mempertahankan bisnis kuliner Mie Akup yang didirikan oleh Haji Akup Sanroat pada tahun 1987 telah membawa Muri Wibowo merasakan pahit manisnya dunia usaha. Sebagai penerus bisnis ini, Muri menghadapi tantangan besar, bukan hanya dalam persaingan bisnis saat ini, tetapi juga sejak dulu, bahkan sebelum ia terlibat langsung dalam usaha sang ayah.
Salah satu tantangan terbesar dalam perjalanan Mie Akup terjadi pada tahun 2015. Saat itu, seorang pegawai kepercayaan Haji Akup memilih keluar dan mendirikan usaha sejenis. Kejadian ini berdampak besar, karena banyak pelanggan setia yang turut beralih ke usaha baru tersebut. Melihat kondisi bisnis ayahnya yang hampir vakum, Muri yang saat itu sedang menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Islam Indonesia (UII) memutuskan untuk mengambil cuti demi menyelamatkan bisnis keluarga.
"Ya, saya sih kurang lebih ngalamin banget, lihat (kondisi bisnis sang ayah). Saya ngalamin banget. Karena pas kepala produksi cabut, bikin pabrik sendiri, orderan kita turun, saya sebetulnya jadi korbannya juga, tuh. Karena kan saya sebetulnya kuliah di kedokteran," kata Muri saat berbincang dengan detikJabar di Mie Akup di Jalan Mekar Utama, Mekarwangi, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kota Bandung, belum lama ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyadari bisnis sang ayah harus diselamatkan, Muri mengambil keputusan besar. Ia memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan kedokterannya setelah menempuh tiga semester, demi menekuni bisnis yang sudah dirintis sejak lama dan memiliki banyak pelanggan serta mitra.
"Kuliah di kedokteran, nggak nerusin. Ya, karena nggak nerusin, karena waktu itu kondisi bisnis lagi nggak oke. (Tahun) 2016 nggak ada yang nerusin, ya akhirnya nerusin bisnis dan sampai sekarang," tuturnya.
Saat ini, Mie Akup telah berkembang dengan tujuh outlet dan memiliki sekitar 60 mitra yang tersebar di Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Bandung Barat.
Bisnis Mie Akup Sempat Tidak Akan Diteruskan
![]() |
Haji Akup Sanroat memiliki tiga anak yaitu Agung Novita Setiani, Muri Wibowo, dan Satrio Wicaksono Pininggit. Pada awalnya, Haji Akup tidak berencana mewariskan bisnisnya kepada anak-anaknya. Ia berharap mereka sukses melalui jalur lain, seperti dengan menyekolahkan Muri untuk menjadi dokter. Selain itu, anak pertamanya sudah menikah dan ikut suaminya, sementara anak ketiganya masih duduk di bangku SMP. Namun, tekad kuat Muri untuk mempertahankan usaha keluarga membuatnya mulai memperbaiki berbagai masalah yang dihadapi sang ayah.
"Mie Akup kan awalnya itu, memang ga ada rencana buat nerusin ke anak-anaknya sebetulnya. Almarhum bapak memang, ah ini mah udahlah, ga akan diterusin ke anak-anak. Cuman ya mungkin takdir berkata lain. Akhirnya 2016, saya cuti kuliah, awalnya cuti tuh. Cuti, ternyata jalan setahun, wah kayaknya ini dunia saya tuh. Dunia bisnis nih kayaknya," ungkapnya.
"Awalnya saya bantuin. Tadinya kakak saya yang mau bantuin, cuman karena kakak saya perempuan kan, dibawa sama suaminya, akhirnya ga bisa bantu. Adik saya waktu itu juga masih SMP. Akhirnya, saya terusin," tambahnya.
Menurut Muri pada tahun 2015-2016 itu merupakan masa transisi, dia banyak belajar dari sang ayah, salah satunya mempelajari kesalahan atau cara berbisnis sang ayah yang tidak sesuai. Dia juga membuat aturan dan memperbaiki manajemen.
Beli 1 Outlet Mie Akup
Setelah hampir enam bulan membantu sang ayah, Muri melihat peluang untuk membeli salah satu outlet mitra di kawasan Metro Margahayu, Kota Bandung. Outlet tersebut akan dijual karena pemiliknya tidak memiliki penerus.
"Ada salah satu outlet mitra yang dijual. Akhirnya waktu itu saya beranikan diri itu buat beli. Saya beranikan diri buat ngambil. Waktu itu gak punya duit, dia minta Rp60 juta kalau gak salah. Gak punya uang, pinjam uang ke mama dan uwak dapat Rp30 juta, Rp30 juta saya kasih DP, Rp30 juta saya bayar cicil," jelas Muri.
Muri pun tertarik membeli outlet itu, karena menurutnya, jika salah satu outlet hilang otomatis berpengaruh pada produksi Mie Akup di pabrik ayahnya. Selain itu, penjualan Mie Akup ke pasar sedang tidak baik-baik saja, karena persaingan bisnis yang sebelumnya dijelaskan Muri.
"Disitulah saya mulai buka outlet sendiri. Jadi waktu itu kepikirannya gini, karena orderan di pabrik kan turun banget tuh, turun drastis, sempet juga canvassing ke resto-resto di Bandung, cuman gak ada peningkatan waktu itu. Akhirnya saya kepikirannya gini, gimana kalau saya buka outlet, outletnya rame, otomatis kan serapan dari outletnya juga lumayan banyak ke pabrik. Jadi waktu itu kepikirannya gitu, simple gitu aja. Bisa bantulah disitu," terangnya.
Maju Saat COVID
![]() |
Ketika pandemi COVID-19 melanda, banyak usaha yang gulung tikar. Namun, justru tidak demikian dengan Mie Akup. Produksi dan penjualan meningkat hingga hampir dua kali lipat, terutama di cabang Metro Margahayu, Kota Bandung.
"Tahun 2020 justru menjadi momentum bagi Mie Akup. Produksi kami meningkat drastis, dan outlet Metro Margahayu yang pindah ke tempat lebih besar justru semakin ramai," ungkap Muri.
Ia menilai, perubahan gaya hidup masyarakat yang mulai beralih ke pemesanan online turut membantu penjualan. Selain itu, lokasi baru yang lebih luas dengan fasilitas lebih baik juga menarik lebih banyak pelanggan.
"Waktu itu mungkin momentum online, saya gak tau ya agak sedikit terjadi anomali di daerah-daerah Metro karena mungkin penjagaannya tidak diperketat atau gimana saya gak paham jadi waktu itu kondisi online ramai, offline juga ramai tapi kalau saya sih ngeliat karena memang kita pindah tempat tempat, kita kan sebelumnya kecil pindah ke tempat yang lebih besar, tempat parkirnya juga lebih oke, tempat duduknya juga lebih sitting kapasitasnya lebih baik akhirnya ya jadi ramai," pungkasnya.
(wip/iqk)