Cegah Kerusakan Tanah, Petani di Lembang Gunakan Pupuk Organik

Cegah Kerusakan Tanah, Petani di Lembang Gunakan Pupuk Organik

Tim detikJabar - detikJabar
Rabu, 09 Nov 2022 03:25 WIB
Para petani tetap menggarap sawahnya saat sebagian orang memilih di rumah saat pandemi Corona. Seperti terlihat di areal persawahan Solokanjeruk, Bandung.
Ilustrasi Petani (Foto: Wisma Putra)
Bandung Barat -

Penggunaan pupuk anorganik oleh petani secara intensif dan berlebihan selama lebih dari tiga dekade berdampak negatif pada kondisi lahan garapan yang digunakan seperti kerusakan struktur tanah, soil sickness (tanah sakit), dan soil fatigue (kelelahan tanah).

Untuk itu Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong para petani untuk menggunakan pupuk organik agar membantu merehabilitasi tanah. Hal itu juga dilakukan agar dapat menutupi inefisiensi penggunaan pupuk anorganik atau kimia yang terjadi selama ini.

Pemerintah sendiri telah mengembangkan pembuatan pupuk organik tersebut dalam bentuk fasilitas seperti kegiatan pengembangan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) sehingga petani dapat menyediakan pupuk organik secara mandiri.


Melalui fasilitasi bantuan UPPO petani dapat memproduksi dan menggunakan pupuk organik secara in situ (usaha pelestarian alam yang dilakukan dalam habitat aslinya).

Manfaat UPPO tersebut sudah mulai dirasakan para petani, salah satunya oleh Dodih, petani asal Kabupaten Bandung Barat. Berkat program UPPO lahan pertaniannya kembali subur sehingga berdampak pada hasil pertaniannya.

"Yang paling kami rasakan itu tanah kembali subur dan gembur, dan dapat berpengaruh pada hasil tani kami," kata Dodih dalam keterangannya, Selasa (8/11/2022).

Pria yang menjabat Ketua Gapoktan Cluster Lembang itu juga mengungkapkan program UPPO atau pupuk organik yang dihasilkan dapat dijadikan solusi terhadap ketergantungan pupuk kimia.

"Sangat bisa, namun hal tersebut harus dilakukan secara bertahap. Selain itu juga kita sebagai pengelola harus menjadikan pupuk organik ini jadi solusi jangka panjang," kata Dodih.

Meski sudah memberi banyak manfaat ditingkat petani, namun program UPPO ini harus mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah karena masih ada beberapa kendala di tingkat petani.

"Peranan UPPO sejauh yang kami lakukan sampai saat ini masih butuh perhatian terhadap bahan baku yang masih mahal di biaya angkut," ucap Dodih.

Terlebih menurut Dodih pupuk organik secara kualitas juga bisa lebih baik dari pupuk kimia yang sebelumnya dipakai oleh para petani di lingkungannya. Maka dari itu ia pun memiliki harapan agar pupuk subsidi kimia dapat beralih ke pupuk organik.

"Dan juga program subsidi kimia dialihkan secara bertahap kepada pupuk organik dengan kualitas yang lebih konsisten dan dari fungsi pun setara dengan pupuk kimia tadi," kata Dodih.

Hingga saat ini Kementan terus berupaya mengkampanyekan agar petani menggunakan pupuk organik untuk keberlangsungan aktivitas pertanian berkelanjutan. Sehingga terus berproduksi walau dihadapkan tantangan perubahan iklim ekstrem global dan persoalan lainnya.

"Belum lagi bahan baku pupuk seperti gugus fosfat yang sebagian besar dikirim dari Ukraina dan Rusia tersendat, karena perang keduanya. Jadi, yang tidak dapat pupuk subsidi segeralah menghadirkan pupuk organik. Minimal setiap kabupaten harus jadi percontohan dan tidak mengandalkan bantuan pemerintah pusat," ujar Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian RI



Simak Video "Pupuk Bersubsidi Untuk Negeri "
[Gambas:Video 20detik]
(dir/dir)