Jeritan Petani Tomat Bandung Usai Harga BBM Naik

Yuga Hassani - detikJabar
Kamis, 22 Sep 2022 19:30 WIB
Petani tomat Bandung
Petani tomat Bandung (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Kabupaten Bandung -

Naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM) berimbas pada kenaikan biaya operasional pertanian bagi para petani sayuran di Kabupaten Bandung. Salah satunya adalah petani tomat di daerah Pangalengan.

"Kenaikan BBM sangat sangat berpengaruh ke petani. Selama ini kan memang pendapatan tidak menentu. Sekarang malah ditambah lagi permasalahan seperti ini, biaya melonjak harga anjlok," ujar Risa Permana (38), salah satu petani tomat, kepada detikJabar, Kamis (22/9/2022).

Risa juga mengungkapkan saat ini harga pupuk yang turut meroket. Meskipun ada pupuk subsidi, namun pupuk tersebut sulit didapatkannya.


"Harga pupuk kandang sekarang harganya Rp 12.000 per kilogram, padahal sebelumnya Rp 8.000 per kilogram. Terus harga pupuk kimia non subsidi sekarang harganya sampai Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta rupiah per 50 kilogram," katanya.

Dengan adanya kenaikan tersebut, pihaknya mengaku kesulitan membeli pupuk. Sehingga para petani pun keberatan.

"Kita gak bakal mampu petani dengan harga segitu, sekarang kalau kita tidak pakai pupuk kan hasil panennya yang buruk," jelasnya.

Dia juga menjelaskan saat ini kebutuhan para petani semuanya harganya melonjak tajam.

"Intinya mah semua kebutuhan petani sekarang pada naik. Pupuk, operasional kendaraan, bahkan sampai fungisida juga naik," tegasnya.

Sementara itu, saat ini para petani harus dihadapkan dengan adanya harga penjualan yang semakin merosot. Menurutnya penurunan harga penjualan begitu drastis.

"Sekarang tomat hasil panennya dibanderol Rp 3.000 per kilogram. Kalau mau bagus mah sebenarnya Rp 5.000 per kilogram. Itu paling tidak, sudah ada untung lah ke petani," ucapnya.

Pihaknya pun tidak mempermasalahkan jika harga BBM mengalami kenaikan. Namun harga jual harua bisa stabil.

"Saya pengennya pemerintah segera gerak cepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. BBM naik gak masalah, tapi harga jual harus bagus, jadi nggak papa BBM naik yang penting bisa seimbang pendapatan dengan biaya produksi," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung, Tisna Umaran mengatakan dalam waktu dekat akan berencana memberikan fasilitas penjualan bagi para petani. Hal tersebut dilakukan setelah dirinya menerima keluhan dari para petani.

"Kebetulan juga ada rencana membuat paket hasil pertanian untuk dijual sebagai antisipasi inflasi akibat kenaikan harga BBM," ucapnya, saat dihubungi terpisah.

Dia menurutkan selain itu pihaknya akan pihak lain diantaranya ormas islam yang ada di Kabupaten Bandung. Sehingga penyebaran penjualan dari petani bisa disebarkan ke masyarakat.

"Kepada ormas ini akan kami tawarkan pembuatan paket sayuran untuk dijual kepada jamaahnya," ucap Tisna.

Tisna menuturkan dengan cara tersebut bisa menyelesaikan permasalahan yang ada di petani. Salah satunya para petani bisa menjual sayurannya dengan harga tinggi tanpa harus menjual ke bandar.

"Kemudian masyarakat akan mendapat harga lebih rendah dibanding harga pasar. Kalau misalnya harga bawang di pasar Rp 40 ribu, sementara di tingkat petani harganya Rp 17 ribu, kan bisa mengambil jalan tengah. Misalnya harga jualnya hanya Rp 33.000/kg. Jadi masyarakat mendapat harga rendah dan petani mendapat harga tinggi," katanya.

Dia menambahkan para petani tersebut akan diundang terlebih dahulu dalam membahas rencana tersebut.

"Akhir pekan ini atau paling lambat awal pekan depan, akan kami undang kelompok petani dari daerah penghasil sayuran," pungkasnya.



Simak Video "Instruksi Jokowi ke Pemda Hadapi Kenaikan Harga BBM "
[Gambas:Video 20detik]
(dir/dir)