Inflasi Kota Tasikmalaya Terus Meningkat, Ini Penyebabnya

Faizal Amiruddin - detikJabar
Rabu, 10 Agu 2022 14:41 WIB
Ilustrasi Uang Receh Konsumsi Rupiah Inflasi Belanja
Foto: Ilustrasi (Ari Saputra).
Tasikmalaya -

Laju inflasi Kota Tasikmalaya terus meningkat dalam 2 bulan terakhir. Deputi Kepala Bank Indonesia Tasikmalaya Nurtjipto mengatakan realisasi inflasi Kota Tasikmalaya di bulan Juli 2022 sebesar 0,57 persen.

"Realisasi inflasi bulan Juli 2022 Kota Tasikmalaya sebesar 0,57 persen secara month to month atau 5,18 persen secara year to day," ucap Nurtjipto, Rabu (10/8/2022).

Inflasi ini cenderung meningkat karena pada bulan Juni 2022 berada di angka 0,41 persen. Nurtjipto menjelaskan pendorong utama inflasi ini dipicu oleh kenaikan harga sejumlah bahan pangan.


"Pendorong utama berasal dari kelompok volatile food sebesar 1,24 persen dengan komoditas antara lain bawang merah, cabai merah, cabai rawit, dan tomat," katanya.

Penyebab kenaikan beberapa komoditas itu disebabkan oleh beberapa faktor.

"Hal ini dikarenakan rendahnya hasil produksi akibat cuaca ekstrim dan diiringi pula peningkatan biaya produksi yang turut mendorong penurunan minat investasi produksi," kata Nurtjipto.

Kondisi ini menurut dia sudah disikapi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Salah satu aksi nyatanya adalah menggelar operasi pasar atau pasar murah.

"Pasar murah ini diharapkan bisa menyederhanakan rantai nilai komoditas strategis, untuk mendorong harga rendah dan stabil bagi masyarakat," kata Nurtjipto.

TPID Kota Tasikmalaya melaksanakan operasi pasar murah selama 3 hari yaitu tanggal 8 Agustus 2022 di Alun-alun Indihiang tanggal 9 Agustus 2022 di Lapangan Karang Sambung dan tanggal 10 Agustus 2022 di Lapangan Kecamatan Tamansari.

Rangkaian operasi pasar ini diarahkan untuk meminimalisasi tekanan daya beli akibat peningkatan harga komoditas strategis.

Animo masyarakat untuk pasar murah ini cukup tinggi dengan partisipasi lebih dari 500 pembeli. "Hal ini merupakan indikator bahwa harga komoditas pangan di pasar saat ini masih cukup tinggi, untuk itu diharapkan secara bersama-sama TPID dapat mendorong sektor produksi agar memenuhi permintaan sektor konsumsi," kata Nurtjipto.

(mso/mso)