Budi Daya Entok Hias, Jarang Dilirik Padahal Cuannya Serius!

Dwiky Maulana Vellayati - detikJabar
Selasa, 09 Agu 2022 07:00 WIB
Budi daya hewan entok hias di Desa Kaliangsana, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang.
Budidaya hewan entok hias di Desa Kaliangsana, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang. (Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar)
Subang -

Seorang warga asal Desa Kaliangsana, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang mengembangkan budi daya entok. Namun, budidaya entok kali ini bukan jenis entok yang dapat dikonsumsi pada umumnya melainkan jenis entok hias.

Pembudidaya entok hias asal Subang tersebut bernama Ijang Sobandi. Menurutnya, entok hias ini mulai banyak diminati oleh masyarakat luas untuk dijadikan hewan hias.

Ijang menceritakan, ia mulai menggeluti budidaya entok hias ini sejak dua tahun lalu saat masa pandemi COVID-19 dengan membeli entok hias sebanyak empat ekor entok masing-masing satu ekor jantan dan tiga ekor betina.


Ia awal membeli keempat hewan entok hias tersebut dengan bermodalkan sekitar Rp. 5 juta. Namun entok tersebut bukan untuk dibudidaya melainkan hanya sekedar merawat dan memelihara saja.

"Awal mulanya itu saya pernah punya hewan entok yang lokal yah awalnya enggak ada niat buat budidaya. Nah setelah masuk ke dalam komunitas pecinta hewan entok hias baru saya mulai tertarik untuk diseriuskan," ujar Ijang kepada detikJabar, Senin (8/8/2022).

Budi daya hewan entok hias di Desa Kaliangsana, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang.Budi daya hewan entok hias di Desa Kaliangsana, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang. Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar

Setelah masuk kepada komunitas pecinta entok hias di Subang, Ijang pun langsung tertarik untuk melakukan budidaya entok hias. Bahkan, saat mengetahui terdapat peluang bisnis yang dapat menghasilkan pundi-pundi Rupiah dari hasil budidaya entok tersebut ia menjadi lebih bersemangat.

"Sekarang sudah punya kandang sendiri di rumah saya, allhamdulilah terus berkembang terus sampai sekarang ada tujuh ekor indukan. Awalnya penjualan itu saya memanfaatkan media sosial saya ternyata responsnya bagus banyak pesanan juga," katanya.

Ijang yang juga merupakan anggota kepolisian dari Polsek Cipeundeuy Polres Subang itu melakukan budidaya hewan entok hias dibantu bersama dengan satu rekannya.

Dalam budidaya entok hias ini, Ijang menilai tidak terlalu sulit. Pasalnya untuk budidaya entok hias ini ia cukup menyiapkan sebuah tempat untuk bertelur dan kolam air yang kecil.

Setiap indukan biasanya bertelur hingga 18 telur dan menetas setelah 40 hari dierami. Satu bulan sejak menetas, entok hias sudah terlihat indah dan siap untuk diperjualbelikan.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk bertelur kembali, entok hias tersebut dapat bertelur sekitar dua minggu kemudian.

"Bisa dibilang gampang-gampang susah sih kalau masalah budidaya entok hiasnya. Cuman memang tempatnya juga harus bersih, kalau untuk pakan entok baru lahir sampai usia satu bulan full dikasih makan pur. Kalau usia sudah sebulan lebih dan seterusnya kita kasih makan seperti aron dan nasi sisa," ungkapnya.

Dijual Rp 500 Ribu hingga Rp 5 Juta per Ekor

Ijang mengaku budidaya entok hias ini mempunyai kepuasan tersendiri. Apalagi ketika ia berhasil mengawinkan beberapa jenis dan dapat menghasilkan anakan entok hias yang mempunyai warna serta motif bulu yang indah. Untuk menghasilkan anakan entok hias yang memiliki motif bulu yang indah dinilai cukup sulit.

Dikatakan Ijang, budidaya entok hias ini dinilai jauh lebih menguntungkan dibandingkan entok konsumsi. Meskipun proses budidayanya hampir sama, namun dari segi harga jauh lebih mahal dari entok pada umumnya. Untuk entok konsumsi kini harganya mulai dari Rp. 50 ribu hingga Rp. 100 ribu perekornya. Sementara entok hias paling murah dihargai Rp. 500 ribu dan paling tinggi bisa mencapai harga Rp. 5 juta per ekor.

Terlebih, untuk harga entok hias dapat terus melambung tinggi apabila sudah memenangkan kontes entok hias.

"Kalau saya sendiri baru mau ikutan kontes entok hias tahun ini, setahu saya jika hewan entoknya udah juara di kontes itu kalau dijual bisa sampai Rp. 10 juta," tuturnya.

Lebih lanjut, kata Ijang, pembeli dari entok hias tersebut cukup antusias. Bahkan, ia pun pernah menjual entok hias ke wilayah luar Pulau Jawa seperti ke Palembang.

Budi daya hewan entok hias di Desa Kaliangsana, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang.Budi daya hewan entok hias di Desa Kaliangsana, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang. Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar

Selain itu, dalam penjualan entok hias, Ijang memanfaatkan media sosial. Untuk saat ini dalam waktu satu bulan saja Ijang baru bisa menjual belasan ekor dikarenakan indukannya yang masih sedikit sementara permintaan cukup tinggi.

"Peminatnya ada dari lokalan di Subang, pernah juga transaksi sama orang Palembang buat beli entok hias saya. Allhamdulilah untuk omzet satu bulan saya bisa mendapatkan Rp. 1 juta hingga Rp. 2 juta," kata dia.

(yum/yum)