Cerita Pedagang Sapi di Tasik Hadapi Rewelnya Pembeli gegara PMK

Deden Rahadian - detikJabar
Rabu, 29 Jun 2022 15:21 WIB
Lokasi penjualan hewan kurban di Kabupaten Tasikmalaya.
Lokasi penjualan hewan kurban di Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Deden Rahadian/detikJabar)
Tasikmalaya -

Kurang dari dua pekan jelang Iduladha, pedagang sapi dadakan mulai menjamur di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Bermodalkan terpal, mereka membuka lapak lapak jualan di pinggir jalan, salah satunya di Jalan Raya Garut-Tasikmalaya.

Mereka berjualan di tengah ancaman wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Para pedagang mengaku omzet penjualan menurun akibat wabah PMK.

"Iya kita mulai jualan lagi, harapanya masih ada yang datang beli. Belum banyak yang beli sih. Tahun kemarin mah hari-hari sekarang ini kita udah laku 70 persen. sekarang mah baru 30 persenan sapi yang dibeli," kata Ridwan, salah seorang pedagang sapi dadakan di Tasikmalaya, Rabu (29/6/2022).


Karena penjualan hewan kurban berlangsung di tengah wabah PMK, karakter pembeli ternyata berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Mereka jauh lebih rewel. Bahkan, ada sebagian pembeli yang meminta pedagang menunjukkan surat keterangan kesehatan hewan.

Lokasi penjualan hewan kurban di Kabupaten Tasikmalaya.Lokasi penjualan hewan kurban di Kabupaten Tasikmalaya. Foto: Deden Rahadian/detikJabar

Namun hal itu harus tetap dihadapi. Pedagang tetap harus melayani pembeli dengan ramah. Pembeli adalah raja, prinsip itu yang tetap berusaha dipegang para pedagang sapi.

"Kalaupun ada yang beli jadi rewel juga. Nanya kesehatan sapi, nanya label sehat, sampai surat keterangan sehat sapi. Yah, mau gimana lagi pak, kita terima aja karena situasinya seperti ini," ucap Nana, pemilik lapak sapi dadakan di kawasan Sukarame.

Selain itu, sebagian pembeli meminta agar sapi yang sudah dibelinya dikembalikan ke kandang. Mereka tidak mau sapi disimpan di lapak jualan karena khawatir terjangkit PMK.

"Akhirnya jadi nambah kan biaya operasional. Udah di lapak, balik lagi ke kandang. Tapi nggak apa-apa asal laku lah pak," tutur Nana.

Dampak lain dari wabah PMK adalah harga sapi yang turut melonjak. Kenaikannya berkisar 10-20 persen dibanding tahun lalu.

"Jika biasanya Rp 20 juta sekarang mah Rp 21 juta per ekor," pungkas Nana.

(ors/ors)