Sembilan Matahari, Eksplorasi Imaji Kreatif Lewat Karya Visual

Anindyadevi Aurellia - detikJabar
Kamis, 16 Jun 2022 09:00 WIB
Adi Panuntun, CEO PT. Sembilan Matahari.
Adi Panuntun, CEO PT. Sembilan Matahari. (Foto: Anindyadevi Aurellia)
Bandung -

Sekitar 15 tahun yang lalu, seorang pria Bandung memulai karirnya di dunia visual desain. Setelah lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB), ia menciptakan PT. Sembilan Matahari, sebuah perusahaan yang berfokus pada desain, film, dan kreatif. Nama yang diusungnya rupanya memiliki makna tersendiri.

"Sebetulnya saya kerjakan bersama adik saya, Sony, kami coba menggabungkan art dan science dalam setiap project. Saya membuat Sembilan Matahari, yang diadaptasi dari jurus Sembilan Matahari di komik favorit saya semasa kecil hingga saat ini yaitu Tiger Wong. Saat saya merasa lelah, jatuh, saya lihat komik itu lagi supaya jadi semangat," cerita Adi Panuntun, CEO PT. Sembilan Matahari.

"Makna lainnya adalah angka terbaik untuk umat manusia itu adalah sembilan, sepuluh itu sempurna dan kesempurnaan milik Tuhan. Jadi Sembilan Matahari, dengan singkatan 'NM' mengambil akhir huruf 'sembilan' dan awal huruf 'matahari'. Karena setiap akhir pasti akan jadi awal suatu inovasi," imbuh Adi saat ditemui detikJabar.


Awal karirnya dimulai tahun 2009, ia memproduksi sebuah film berjudul Cin(T)a yang menyabet prestasi sebagai Best Script Category at Festival Film Indonesia (FFI) dan Most Favorite Indonesian Feature Film at Jakarta International Film Festival (JIFF).

Dunia digital digali lebih jauh lagi, NM melakukan eksplorasi video mapping di Museum Fatahillah Jakarta pada tahun 2010. Tahun demi tahun terus mengembangkan ide, hingga Adi membawa arah tujuan visual yang ia nahkodai.

"Sembilan Matahari selalu akan mengusung konsep yang sama yakni membawa pesan tentang lingkungan, kultur, sejarah, dan sains. Akhirnya kami tahun 2014 membuat project Naaradewa, bekerjasama dengan Pemprov Jabar untuk membuat video mapping di Gedung Sate. Ditonton secara gratis oleh banyak warga, kami membawa pesan jangan buang sampah ke sungai," ujar pria berusia 44 tahun tersebut.

Membawa pesan "Dont Feed the Monsters", cerita animasi ini membawa pesan agar warga tak lagi memberi makan bakteri dengan membuang sampah sembarangan dan menimbulkan berbagai bencana. Menggunakan layar dari fasad Gedung Sate, NM menyasar anak muda dan anak-anak untuk menjadi penggerak perubahan.

"Bagaimana caranya agar memberitahu tanpa menggurui serta menarik perhatian anak-anak. Karena lebih mudah mengarahkan anak-anak untuk mengubah pemikiran, mengajak mereka untuk jangan membuang sampah di sungai. Menarik karena diberi pengetahuan bahwa perilaku itu sama saja memberi makan monster atau bakteri jahat," tuturnya.

Menurut Adi, pemahaman melalui visual jauh lebih mudah ditangkap. Ia pernah membuktikan dengan melakukan eksperimen di salah satu selokan yang dipenuhi sampah.

"Dibuat ilustrasi gambar di mulut selokan seolah-olah seperti itu mulut monster, jadi kalau ada yang buang sampah di situ seperti memberi makan monster. Akhirnya karena bagus, dipakai buat foto-foto dan dibersihkan dari sampah. Orang tidak lagi mau buang sampah di situ," cerita Adi dengan sumringah.

Masih dengan misi yang sama, satu tahun yang lalu ia membawa kesuksesan besar pada program penghijauan lingkungan. Sembilan Matahari menggarap Hutan Menyala Tahura di Kompleks Tahura, Jalan Insinyur Haji Djuanda Nomor 99, Bandung. Kini, proyek ini dipindahkan ke Fairy Garden di Jalan Maribaya Patrol KM 3,9, Bandung.

"Waktu pandemi, pemerintah Bandung membuat program penghijauan menanam 50 juta pohon. Akhirnya melalui program hutan menyala yang kami buat di Tahura, tiktokers berdatangan dan membuat banyak yang datang dengan membeli tiket di harga Rp 50.000. Satu tiket itu senilai menanam dua pohon, kami berhasil menyumbang 20.000 pohon sehingga mampu menghijaukan Bandung Utara," papar Chairman Bandung Creative City Forum (BCCF) tersebut.

Ada sembilan titik bersinar di dalam hutan tersebut. Dibuat video mapping ke pepohonan, menggambarkan rusa, burung, aneka satwa hutan, bunga, dengan warna-warna cantik di pohon dan tangga-tangga hutan.

"Awal misinya sederhana, karena kita baru dengar kata hutan setiap terjadi bencana. Adanya kebakaran hutan, banjir karena penebangan liar di hutan. Sekarang coba untuk memperkenalkan hutan sebagai tempat wisata dan bermain, membangun pemikiran bahwa seharusnya bumi dekat dengan hutan," terangnya.

Sederet prestasi berhasil ditorehkan oleh Sembilan Matahari, tak hanya di dalam negeri tapi juga kancah dunia. Seperti 'Constellation Neverland 1.0' pernah diapresiasi di ARTJOG Yogyakarta dan ICAD Jakarta, Mapping Festival Jenewa - Swiss, World of Projection Mapping-Jepang, Wonder of Fantasy, Art and Technology Exhibition-Taiwan, dan VDNKh Building di Moscow.

Saat ini Adi masih terus bergeliat dalam visual dan membawa pesan terkait lingkungan. Dalam waktu dekat ini, ia ingin bergerak di negara sendiri dan menggandeng lebih banyak lagi pihak untuk bekerja sama.

"Saat ini kami sedang mematangkan rencana dan menyusun proposal projek Sembilan Matahari Bersinar, tahun ini akan bekerja sama dengan Bank Sampah Bersinar. Kami ingin membenahi sembilan wilayah di Jawa Barat, menyoroti sembilan permasalahan sosial yang ada. Harapannya, dengan langkah kecil ini bisa jadi gerakan yang akan diteruskan dan disebarkan ke wilayah lainnya," pungkas Adi sambil tersenyum.



Simak Video "Begal Dikeroyok Warga di Bandung, Disebut Sempat Todongkan Pistol"
[Gambas:Video 20detik]
(aau/tey)