Suami Versus Istri di Pilkades Sumedang, Rumah Disekat Jadi Posko

Suami Versus Istri di Pilkades Sumedang, Rumah Disekat Jadi Posko

Dwiky Maulana Velayati - detikJabar
Jumat, 30 Okt 2026 18:28 WIB
Dadang Supriatna dan Ripah Karmini, pasutri asal Desa Sukadana yang bertarung di Pilkades serentak digital di Sumedang.
Dadang Supriatna dan Ripah Karmini, pasutri asal Desa Sukadana yang bertarung di Pilkades serentak digital di Sumedang. (Foto: Dwiky Maulana Velayati/detikJabar)
Sumedang -

Pesta demokrasi desa di Kabupaten Sumedang menyisakan cerita unik yang sarat kehangatan dan pelajaran politik tingkat akar rumput. Di tengah modernisasi pemilihan kepala desa (Pilkades) secara digital, sebuah drama kekeluargaan tersaji di bilik suara, yakni seorang petahana harus bertarung melawan istri tercintanya sendiri.

Adalah Dadang Supriatna, sang Kepala Desa petahana, yang terpaksa 'berduel' dengan istrinya, Ripah Karmini, dalam Pilkades serentak digital di wilayahnya di Desa Sukadana, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Alih-alih melawan kotak kosong karena minimnya pendaftar, sang istri memilih turun gunung menjadi rival politik demi menghidupkan kembali ruh demokrasi di desa.

Hasil akhirnya, sang suami, Dadang Supriatna yang mengenakan nomor urut 2, kembali mendapat kepercayaan warga dengan meraup 2.306 suara. Sementara sang istri, Ripah Karmini, yang juga memegang nomor urut 2, harus puas di posisi kedua dengan perolehan 491 suara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dadang bercerita, ide bertarung satu rumah ini bukan lahir dari ambisi kekuasaan, melainkan dari kekhawatiran yang menggantung di benak dirinya. Sebab, menjelang penutupan pendaftaran, tak kunjung ada warga lain yang mendaftarkan diri sebagai calon kepala desa.

Tak ingin warga dihadapkan pada opsi melawan kotak kosong yang aturannya menuntut kemenangan harus di atas 50 persen mengambil langkah berani. Atas inisiatif sendiri, istrinya memutuskan maju sebagai penantang dirinya.

ADVERTISEMENT

"Kalau kaget sih enggak, karena mungkin pertimbangannya daripada lawan sama buku kosong, lebih baik ada lawan," ujar Dadang saat ditemui detikJabar, Jumat (30/10/2026).

Meski terlihat santai, Dadang mengakui ada rasa waswas yang menyelimuti hatinya selama masa kampanye. Bagaimanapun, lawan politiknya adalah orang yang tinggal satu atap dengannya. Hati dan dukungan warga tentu menjadi misteri yang baru terungkap di hari pencoblosan.

"Tentu ada waswas, karena kita ingin tahu kan hati orang bisa juga ke istri. Beban beratnya, pendukungnya bisa juga ke saya. Tetap itu khawatir ada," ungkapnya sambil tersenyum.

Menariknya, atmosfer persaingan ketat ini tidak merusak keharmonisan rumah tangga mereka. Selama masa kampanye, keduanya berbagi peran dan wilayah secara profesional.

Dadang bergerak dengan timnya sendiri, sementara sang istri blusukan bersama kelompok ibu-ibu, bahkan mendaki gunung untuk menemui warga. Uniknya lagi, rumah mereka yang sempat diklaim sebagai posko pemenangan disekat dan dibagi menjadi dua bagian.

"Ruangan dibagi dua. Ruangan untuk saya di depan, istri di belakang. Kalau debat di rumah sih enggak, enggak terlalu debat. Bersaing hanya turun kampanye ke lapangan saja, di rumah tetap kita bersama," tutur Dadang.

Selama masa kampanye, Dadang sering mendapati pertanyaan yang menggelitik dari warga. Pertanyaan itu seputar bagaimana jika sang istri yang menang dalam pertarungan Pilkades tersebut.

Pertanyaan itu biasanya hanya dijawab Dadang dengan senyuman, sementara sang istri menanggapinya dengan tawa lepas. Saat hari pencoblosan tiba, keduanya pun kompak mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) secara bersamaan sejak pagi buta, membuat warga sempat berseloroh menyebut mereka sebagai 'pengantin baru' yang sedang ngunduh mantu di arena Pilkades.

Di balik keunikan pertarungan suami-istri ini, ada pesan teladan yang ingin disampaikan Dadang kepada masyarakat luas. Ia membuktikan bahwa kontestasi politik tidak harus selalu dilumuri oleh praktik money politics (politik uang).

Dengan sengaja tidak menggunakan politik uang, Dadang ingin mendidik warga bahwa kepemimpinan yang tulus lahir dari kedekatan program, bukan dari tebaran lembaran rupiah.

"Kami punya inisiatif bagaimana kita coba untuk mendidik warga kalau caranya tidak pakai uang. Dan buktinya, alhamdulillah sekarang membuktikan bahwa tanpa uang pun bisa sebetulnya. Ini bisa jadi contoh ke tiap desa, ternyata perolehan suara bukan dari uang, tapi tergantung kita mengajak," tegasnya.

Selain itu, Dadang turut memuji efektivitas pelaksanaan Pilkades serentak secara digital di Sumedang. Menurutnya, sistem digital jauh lebih unggul dibanding metode tradisional konvensional karena memangkas biaya operasional, menghemat tenaga, serta meminimalisir beban penyelenggara dari awal hingga akhir tahapan.

Kini, setelah mandat kembali berada di tangannya, Dadang menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh warga desa yang telah mempercayakan kembali kepemimpinan kepadanya.

Ke depan, ia berencana mengebut program-program prioritas yang belum tuntas, dengan fokus utama pada sektor infrastruktur, ekonomi, sosial, pendidikan, serta keagamaan. Salah satu sorotan utamanya adalah penekanan angka penggangguran melalui penguatan sinergi dengan perusahaan-perusahaan lokal di wilayah Sumedang agar warga setempat makin mudah terserap di dunia kerja.

"Semoga kepemimpinan saya diridai oleh Allah SWT, bisa menjaga amanah dari masyarakat, dan bisa terus berjuang untuk memajukan warga," pungkasnya.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads