Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memantau pelaksanaan Pilkades serentak berbasis digital di Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Rabu (28/10/2026). Dedi menegaskan pelaksanaan ini merupakan salah satu upaya transformasi digital khususnya pada proses demokrasi di tingkat lokal.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari uji coba sebelumnya yang sempat dilaksanakan secara bertahap di beberapa daerah di Jawa Barat. Menurut Dedi, perkembangan teknologi digital yang kini telah akrab di kalangan masyarakat desa harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produktivitas, salah satunya melalui penyelenggaraan Pilkades Digital.
"Ini sebenarnya sudah yang ketiga. Yang pertama di Indramayu, tetapi belum semuanya. Kemudian yang kedua di Bekasi, belum semuanya. Di Karawang juga belum semuanya," ujar Dedi saat diwawancarai awak media.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dedi menyatakan, telah menginstruksikan para kepala daerah di Jawa Barat agar pelaksanaan Pilkades ke depan beralih sepenuhnya menggunakan sistem digital. Setelah Sumedang, sejumlah wilayah seperti Subang, Cianjur, Ciamis, dan Karawang diproyeksikan untuk menerapkan sistem serupa secara menyeluruh.
Menurutnya, penerapan Pilkades Digital dinilai menawarkan sejumlah keunggulan signifikan dibandingkan metode konvensional berbasis kertas suara. Menurut Dedi, sistem ini memberikan beberapa manfaat, yakni biaya lebih murah, mempersingkat waktu, memperpendek jarak, hingga meminimalisir kecurangan.
"Dengan perangkat digital ini, pertama, biayanya lebih murah karena tidak ada lagi biaya pencetakan kertas suara. Kedua, waktunya lebih pendek karena biasanya yang memakan waktu lama dalam sebuah pemilihan adalah proses penghitungan suara. Bayangkan kalau jumlah pemilihnya sangat banyak. Penghitungan suara akan memakan waktu. Apalagi kalau ada beberapa jenis pemilihan dalam satu hari, semuanya harus dihitung satu per satu. Dengan pola ini, proses penghitungan menjadi tidak diperlukan lagi karena sudah otomatis," katanya.
"Berikutnya, waktu pelaksanaan menjadi lebih singkat sehingga masyarakat tidak perlu menunggu hasil dari pagi sampai malam. Pukul 11.00, 12.00, atau 13.00 sudah selesai. Yang ketiga adalah memperpendek jarak. Jaraknya itu, misalnya kalau dalam pemilu, dari sini ke sini, ke sini, ke sini. Nah, sekarang itu sudah tidak ada. Ini adalah model demokrasi digital yang melahirkan efisiensi," sambungnya.
Dedi mengungkapkan manfaat lainnya dari pelaksanaan Pilkades serentak digital, terutama fokus dalam hal meminimalisir kecurangan dalam setiap tahapan hingga pelaksanaan.
"Yang paling utama adalah meminimalkan kecurangan. Karena sering kali dalam penghitungan suara ada dua hal. Pertama, kertas suara sering kali sudah dicoblos menggunakan jarum kecil sehingga ketika diangkat dan dipilih oleh orang, ada dua lubang dan menjadi tidak sah. Kemudian, salah mencoblos, tidak dicoblos pada gambarnya, sehingga tidak sah lagi. Nah, ini menarik sekali. Sekarang memilih pemimpin tidak perlu dicoblos, cukup disentuh," ungkapnya.
Menanggapi tantangan literasi digital bagi sebagian masyarakat lanjut usia (lansia), Dedi menilai hal tersebut sebagai bagian dari dinamika transisi generasi. Kelompok usia muda dan Gen Z dinilai sudah sangat terbiasa dengan perangkat digital, sementara warga senior akan senantiasa didampingi oleh petugas di lapangan.
Sementara itu, Kabupaten Sumedang menjadi daerah pionir yang sukses menggelar Pilkades serentak berbasis digital di seluruh desa dan TPS. Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyampaikan apresiasi atas arahan dan dukungan penuh dari Gubernur Jawa Barat. Ia mengatakan, untuk di Sumedang sendiri terdapat 92 desa yang melaksanakan Pilkades serentak berbasis digital.
"Sumedang semua desa, semua TPS digital. Ada 92 desa, ada 423 TPS dengan jumlah pemilih yang menggunakan pilihan digital ini mencapai sekitar 270 ribuan," ungkap Dony di lokasi yang sama.
Untuk memastikan kelancaran hajatan demokrasi digital pertama secara serentak ini, Pemkab Sumedang mengerahkan mobilisasi dan orkestrasi lintas sektor secara masif. Mulai dari dukungan perangkat dari provinsi, penerjunan tim IT, camat, hingga penempatan satu orang pranata komputer di setiap desa untuk mengawal fungsi perangkat agar berjalan optimal.
Dony juga menekankan pentingnya rangkaian bimbingan teknis (Bimtek) bagi seluruh panitia Pilkades dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), serta sosialisasi dan simulasi intensif yang turut melibatkan para calon kepala desa beserta masyarakat.
Pelaksanaan Pilkades Digital di Sumedang ini turut menarik perhatian Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang memantau langsung jalannya proses pemilihan. Dony berharap kesuksesan di Sumedang dapat menjadi inspirasi dan model percontohan nasional yang direplikasi oleh Kemendagri untuk diterapkan di berbagai wilayah lain di Indonesia.
"Kementerian Negeri pun setelah melihat ini akan langsung rapat evaluasi dan mudah-mudahan apa yang dilaksanakan di Sumedang sukses bisa menjadi bagian inspirasi direplikasi di tempat-tempat lainnya oleh Kementerian Dalam Negeri. Tapi sekarang fokus sukseskan dulu di Sumedang nanti pasti Kementerian Negeri akan evaluasi seperti apa follow up-nya, apakah sebuah desa di Indonesia akan mulai dengan dekade secara serentak dan digital," kata Dony.
Dari sisi partisipasi publik, antusiasme warga Sumedang terpantau sangat tinggi. Hal ini terlihat dari antrean para pemilih di TPS. Kendati sebagian pemilih dari kalangan lanjut usia memerlukan bantuan teknis, kerahasiaan pilihan tetap terjamin dan terjaga dengan baik.
Dengan keberhasilan model percontohan ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat optimistis ke depan seluruh proses pemilihan kepala desa di Tatar Pasundan akan bertransformasi sepenuhnya ke dalam ekosistem demokrasi digital yang transparan, cepat, dan efisien.
Simak Video "Telkomsel Raih Anugerah Pertumbuhan Ekonomi & Ekosistem Digital Detikcom Awards 2025"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
