Hujan deras yang mengguyur Bandung Raya sejak beberapa hari belakangan, memicu rentetan longsor di Perumahan Buana Flamingo, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.
Rentetan longsor yang terjadi di perumahan tersebut diawali pada 3 Oktober 2026 malam. Saat itu, bagian yang pertama kali longsor yakni Tembok Penahan Tanah (TPT). Beberapa hari berselang, longsor kembali terjadi, sampai akhirnya tercatat ada lima kali longsor hingga Kamis malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Area yang longsor lebarnya lebih dari 22 meter dengan ketinggian sekitar 20 meter. Ada empat bangunan rumah yang rusak berat akibat bahala itu, serta permukaan jalan dengan lapisan paving block ikut terbelah karena tanahnya mulai tergerus sedikit demi sedikit.
"Ya awalnya itu longsor di tanggal 3 Oktober, kejadian waktu hujan deras. Ada suara gemuruh, ditambah warga melapor ke kita. Setelah dicek, longsor dari TPT. Kemudian kejadian terbaru itu Kamis malam kemarin," kata perwakilan pengembang perumahan, Jalu, saat ditemui, Jumat (30/10/2026).
Saat kejadian, ada satu rumah yang dihuni pemiliknya. Beruntung penghuni berhasil menyelamatkan diri sesaat setelah ia mendengar suara gemuruh dari samping rumahnya.
"Pas kejadian ada satu rumah yang terisi, alhamdulillah selamat dan langsung dipindahkan dulu ke rumah yang ready. Tapi kalau 3 rumah lainnya itu memang kosong," kata Jalu.
Pihaknya langsung mencari tahu penyebab bencana longsor yang cukup parah itu. Hasilnya diketahui ada aliran air di bawah tanah yang diduga memicu longsor tersebut saat diguyur hujan deras sehingga menyebabkan ranah menjadi gembur.
"Setelah kita analisis, memang ada beberapa titik air yang muncul di dalam tanah menyebabkan tanah itu labil dan gembur. Sekarang kita sedang lakukan perkerasan di area atas karena ditakutkan kalau hujan besar bakal longsor lagi," kata Jalu.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan mengatakan, pihaknya sudah melakukan assessment di lokasi longsor itu sekaligus mencari tahu penyebab longsornya.
"Kita sudah monitor sejak kejadian pertama, hasil assessment itu beberapa rumah rusak parah terutama pada dinding belakangnya, ada yang retak dengan lebar sekitar 5 sentimeter. Kemudian ada beton dan besi tulangan sudah terbuka putus," kata Fithriandy.
Selain itu, ada enam rumah lain yang terancam longsor susulan. Dugaan sementara, longsor rayapan itu terjadi akibat lereng curam, tanah vulkanik lapuk, jenuh air, dan beban bangunan di atas lereng.
"Kami sudah sampaikan kepada penghuni enam rumah yang berpotensi terdampak untuk siap evakuasi mandiri jika terjadi hujan atau ada retakan baru. Dugaan sementara, tanahnya jenuh air dan posisi rumah di lereng," kata Fithriandy.
