Di tengah lanskap kawasan panas bumi Kamojang yang berada di Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, raungan suara uap melengking dari pipa-pipa raksasa memecah kesunyian pagi. Ada pemandangan yang tak biasa di kawasan tersebut saat ini. Alih-alih dibiarkan tandus atau ditanami sayuran seperti lazimnya dataran tinggi, setiap jengkal lahan kosong di kawasan ini kini tampak menghijau asri. Lahan-lahan yang sebelumnya kurang produktif itu telah disulap menjadi perkebunan kopi yang subur.
Tak jauh dari titik Sumur KMJ 11, seorang pria paruh baya mematikan mesin motornya. Langkah kakinya menyiratkan keteguhan jemarinya erat menggenggam peralatan berkebun. Dia adalah Darman, sosok petani senior yang hari demi harinya terus mendedikasikan diri untuk merawat kebun kopi yang menjadi denyut nadi kehidupannya.
Pria berkaus merah dan bertopi hitam itu segera melangkah cepat menuju sebuah saung sederhana di tengah kebun kopinya. Setibanya di sana, pria berusia 65 tahun tersebut langsung meletakkan bekal makanan yang dibawanya dari rumah, bersiap untuk dinikmati begitu waktu istirahat tiba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kala itu, pada pertengahan 2026, jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi. Tanpa membuang waktu, Darman langsung meninjau kebun kopinya. Sambil berkeliling memeriksa kondisi tanaman yang tumbuh subur, tangannya cekatan memunguti daun-daun kering, membersihkan batang pohon, serta mencabut rumput liar dan gulma yang mengganggu di sekitar akar.
Tak berhenti di situ, Darman juga sigap membongkar pohon-pohon kopi yang mati akibat terserang penyakit. Begitu tanaman yang sakit itu tercabut, ia segera menggantinya dengan bibit baru yang siap tanam. Langkah cekatan ini ia lakukan demi menjaga produktivitas serta kualitas kebun kopinya tetap terjaga.
Selesai dengan urusan pembersihan, Darman kembali melangkah menyusuri kebun untuk mulai memetik buah kopi, atau yang biasa disebut cherry. Ia hanya memetik buah yang sudah matang dengan warna merah legam, sementara buah hijau yang masih muda dibiarkannya tetap di dahan. Buah-buah hijau itu baru akan dipetiknya nanti setelah matang dan berubah warna.
"Sebelumnya ini sudah dipetik, yang dipetik yang merahnya saja. Panen kali ini disiapkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor," kata Darman yang merupakan Anggota Kelompok Tani Wanoja membuka perbincangan dengan detikJabar.
Mantan Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas PU Kabupaten Bandung ini berkisah bahwa ia telah mendedikasikan dirinya di dunia kopi selama lebih dari dua dekade. Langkahnya di perkebunan ini bukan tanpa alasan, Darman tengah melanjutkan jalan hidup sang ayah yang telah lebih dulu berpulang.
"Dari dulu sudah tahu kopi dari orang tua. Dulu orang tua sambil menjaga hutan karena kerjanya di Perhutani sebagai Mantri. Namanya Bapak Suken, asli dari Ibun," ujar Darman.
Darman mengungkapkan bahwa ketika ia masih aktif bekerja sebagai PNS, luas kebun kopinya sempat mencapai 20 hektar. Namun, karena pengawasan yang kurang optimal, banyak hasil panennya yang dicuri saat musim panen tiba, hingga kini luas kebunnya tersisa empat hektar. Meski lahan yang dikelolanya menyempit, pohon kopi yang ditanamnya mencapai puluhan ribu pohon.
"Kalau dihitung lebih dari 20 ribu pohon. Kemarin ada yang ditebang sekitar 4 ribu pohon untuk peremajaan. Saya mau coba-coba teori baru, dipotong dulu lalu dikasih pupuk. Tapi sekarang hasilnya lagi jelek, tidak ada buahnya karena teknik okulasi tunas baru dan kebanyakan cabang," ucap Darman yang sudah bergabung dengan Kelompok Tani Wanoja sejak Tahun 2011 lalu.
Darman mengungkapkan bahwa pada masa-masa produktif, rata-rata satu pohon kopi miliknya mampu menghasilkan hingga 15 kilogram. Kendati demikian, karena saat ini banyak pohon yang sedang dalam tahap peremajaan, dari total empat hektar lahan, ia hanya dapat memanen sekitar 1 ton buah kopi.
Peremajaan ini terpaksa dilakukan karena usia produktif tanaman kopi umumnya berkisar antara 5 hingga 15 tahun saja, sehingga perlu segera diganti dengan tanaman baru agar kualitasnya tetap terjaga. Sebagai petani uyang sudah lama bergelut di bidang kopi, penurunan produktivitas itu sudah biasa.
Kisah Petani Hijaukan Kembali Kamojang Lewat Kopi
Penampakan kopi Kamojang. Foto: Wisma Putra |
Meski matahari sudah hampir mencapai di atas kepala, Darman yang ditemani anak dan istrinya tetap fokus dengan tugasnya masing-masing. Disamping melakukan perwatan dan memetik buah kopi, anak dan istrinya memiliki tugas berbeda, yakni mengolah tanah dan menebar pupuk. Kerja sama ini menjadi kunci agar tanah tetap gembur dan nutrisi pupuk kandang mampu meresap subur ke akar pohon-pohon kopi yang baru merangkuh tinggi kurang dari satu meter.
"Kopi memiliki fungsi konservasi. Fungsi di alam untuk menahan air dan menjaga lingkungan," ujarnya.
Darman menyebut, kopi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan dapat mensejahterakan para petani. Bahkan menurutnya, banyak petani sayur yang melakukan alih komoditi. Meski demikian, dia tak menampik jika di Kamojang masih banyak petani sayur. Menurut Darman, masih banyak petani yang mementingkan keuntungan tanpa memikirkan lingkungan.
"Jadi yang saya bilang tadi, yang instan aja maunya, asal jadi uang. Tapi kan sekarang udah banyak yang beralih ke kopi juga. Dulu pemikirannya, kalau kopi kan panennya setahun sekali, kalau sayuran mah 3 bulan udah bisa diambil," tutunya.
Tak hanya dengan Darman, detikJabar berkesempatan berbincang dengan Jaja Januri yang merupakan Anggota Kelompok Tani Wanoja lainnya. Jaja mengatakan jika sebelum bertani kopi dia berprofesi sebagai staf desa, namun pada tahun 2018 lalu dia putuskan berkebun kopi karena selain ingin meningkatkan kesejahteraan keluarga, dia juga ingin membantu memperbaiki kawasan Kamojang yang sebelumnya banyak beralih fumgsi menjadi lahan pertanian sayur.
"Kalau kondisi awal kawasan hutan Kamojang dibilangnya itu, sebelum ditanaman kopi sebetulnya udah termasuk hampir rusak. Perambahan kayak yang tebang-tebang pohon itu banyak. Kalau sekarang, alhamdulillah, Kamojang sudah mulai hijau kembali setelah ditanamin kopi. Alhamdulillah itu," ujar Jaja kepada detikJabar.
Jaja awalnya hanya menggarap lahan seluas 350 tumbak dengan sekitar 800 pohon kopi. Seiring berjalannya waktu, area garapannya meluas hingga mencapai 2 hektare dengan populasi tanaman mencapai ribuan pohon. Berbeda dengan Darman, Jaja mengelola dan merawat kebunnya dengan mempekerjakan pegawai.
Jaja mengisahkan, sebelum ditanami kopi, tanah di kawasan hutan Kamojang sempat mengalami erosi parah hingga hanyut ke aliran sungai dan memicu sedimentasi. Namun, berkat ditanami kopi, kini tidak ada lagi erosi yang mencemari sungai, bahkan aktivitas penambangan pasir pun otomatis berhenti.
"Kopi dampak baiknya untuk alam itu bagus. Alhamdulillah, semenjak kopi-kopi di hutan Kamojang tumbuh besar, para penabang pasir itu sudah tidak ada. Soalnya, tanah dari hutan nggak turun lagi, karena ketahan akar kopi," jelasnya.
Menurut Jaja, kerusakan kawasan Kamojang di masa lalu juga pernah memicu bencana alam seperti banjir bandang. Sebagai warga asli Ibun, ia menyebutkan bahwa sejak kawasan tersebut ditanami kopi, bencana serupa tidak pernah terulang lagi.
"Ya, kerasa banget. Dulu, sampai pernah banjir bandang di sinim sampai makan korban juga. Sekarang, alhamdulillah. Dulu kalau musim hujan, yaudah orang-orang itu pada di sungai semua panen pasir, sekarang sudah tidak ada," tambahnya.
Jalan Panjang Kopi Wanoja
Anggota Kelompok Tani Wanoja sedang melakukan pemilihan green bean. Foto: Wisma Putra |
Usai melihat langsung proses penanaman kopi, perawatan pohon hingga panen kopi. detikJabar juga berkesempatan melihat langsung proses produksi kopi di tempat produksi Kelompok Tani Wanoja yang berada di Jalan Sangkan, Desa Laksana, Kecamatan Ibun.
Di tempat tersebut, buah kopi segar atau cherry yang baru dipetik dibersihkan terlebih dahulu melalui proses pencucian, daun yang terbawa juga turut dipisahkan. Setelah bersih, kopi disebar secara merata di atas rak-rak penjemuran yang telah disediakan. Selama proses penjemuran berlangsung, para pekerja secara berkala membalik-balikkan biji kopi agar kering secara merata.
Buah kopi yang masih berwarna merah diposisikan menghadap ke atas agar mendapat paparan sinar matahari secara optimal dan menghasilkan tingkat kekeringan yang sempurna. Selain itu, buah kopi yang telah kering sempurna diangkut menuju ruang pengupas atau huller. Di tempat ini, biji kopi dimasukkan ke dalam mesin huller untuk memisahkan kulit luar dari biji kopi atau green bean.
Tidak berhenti di sana, green bean ini kemudian disortir sesuai kelasnya. Proses penyortiran dilakukan dengan teliti oleh para petani perempuan di atas meja stainless. Mereka memilah biji kopi ke dalam beberapa kategori ukuran. Dalam hal ini, green bean dengan kualitas terbaik dipisahkan secara khusus untuk diekspor ke luar negeri. Selain memenuhi pasar ekspor, Coffee Wanoja nama produk unggulan dari Kelompok Tani Wanoja juga dipasarkan di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan kedai kopi (coffee shop), salah satunya di wilayah Bandung Raya.
Tidak hanya menjual green bean, Kelompok Tani Wanoja juga menawarkan produk kopi yang telah diroasting dan digiling, serta dikemas rapi ke dalam berbagai ukuran kemasan pouch. Lebih dari itu, produk kopi ini juga disajikan langsung di Warung Kopi Kamojang atau sebuah kedai kopi yang dikelola sebagai salah satu lini pengembangan bisnis mereka.
Jauh sebelum ekosistem kopi berhasil dibangun. Ketua Kelompok Tani Wanoja Eti Sumiati mengisahkan, jika dia sebelumnya tidak memilki tujuan bisnis dari kopi yang dia tanam. Sama seperti petani kopi lainnya di Kamojang, tujuan awal berkenun kopi untuk memperbaiki lingkungan Kamojang. Dengan menanam kopi, para petani memiliki andil untuk menjaga tanah kelahirannya.
"Awalnya tidak ada tujuan bisnis, ingin bertani saja, ingin buka lapangan pekerjaan buat masyarakat, apalagi ekspor jauh, gak ada tujusan kesana, cuman kasihan ke orang-orang. Dulu juga saya gak kepikiraan rugi dan seperti apa pasarnya. Pasar enggak tahu, bahkan sampai ada gabah sebanyak 1 ton di rumah di mainkan sama anak, kaya main bola katanya," terang Eti yang karib disapa Nenek Eti.
Nenek Eti, seorang pensiunan PNS dari BKKBN, menceritakan bahwa ia terjun ke dunia pertanian kopi untuk mengisi hari tuanya. Terlebih lagi, setelah suaminya wafat, ia harus berjuang seorang diri menanggung seluruh kebutuhan keluarganya, terutama biaya pendidikan anak.
"Jadi PNS BKKBN tahun 1977, awalnya tugas di Sukabumi. Terus balik lagi ke Bandung, soalnya suami bekerja di geothermal di Kamojang, lalu tugas di Kabupaten Bandung, kantornya di Baleendah dan pensiun tahun 2010, suami meninggal tahun 2001. Nenek bertani untuk menghindari jenuh, keahian bertani tidak punya, nenek bukan dilahirkan dari keluarga petani dan pebisnis, semua keluarga nenek PNS, ayah PNS di Dinas Kesehatan bahkan saudara-saudara PNS guru, ada yang sudah jadi kepala sekolah," tuturnya.
Nenek Eti menceritakan bahwa dua tahun setelah pensiun pada tahun 2012, ia mendirikan Kelompok Tani Wanoja dengan dibantu oleh enam orang petani perempuan. Saat itu, tanaman kopi baru bisa dipanen ketika berumur tiga tahun sehingga sempat ada anggapan bahwa kopi tidak ekonomis.
"Saya ingin Wanoja terus berkembang dan besar. Bisa merekrut dan memberdayakan lingkungan, bisa berbagi bersama, berbagi rasa dan ilmu. kita juga berbagi ilmu ke banyak orang dari ilmu yang kita dapatkan," tutur Nenek Eti.
Kepada detikJabar, Nenek Eti menceritakan pengalaman kelamnya akibat kerusakan kawasan Kamojang. Ia pernah menjadi korban selamat dari terjangan banjir bandang dan hampir merenggut nyawanya. Bencana alam tersebut tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga menimbulkan korban jiwa serta menghanyutkan berbagai harta benda akibat tersapu air bah.
"Tahun 1987 nenek terbawa banjir, waktu mengandung anak kedua, dulu sungai ini masih saluran air biasa, dipenuhi pohon pisang, mudah diloncati, saat terjadi banjir bandang saluran jadi besar,. Dulu di atas ada pertanian sayur dan tembakau, di atas juga ada beberapa bendungan, gak kuat ke bawah, buat 8 orang meninggal dunia," ucap Nenek Eti, menjawab pertanyaan mengapa ingin bertani kopi.
Nenek Eti Sosok Sentral di Balik Ketangguhan Kelompok Tani Wanoja
Ketua Kelompok Tani Wanoja Eti Sumiati. Foto: Wisma Putra |
Nenek Eti adalah sosok perempuan tangguh yang memegang prinsip kuat bahwa kaum hawa harus selalu produktif. Semangat inilah yang ia wujudkan saat mendirikan Kelompok Tani Wanoja. Alih-alih cara biasa, ia memilih pendekatan personal yang merangkul para ibu di kampungnya untuk bersama-sama bangkit dan berkarya.
"Perempuan itu gampang diajak ngobrol, komitmen kuat. Kalau pendekatannya ke petani pria, anggapannya kopi itu lama katanya, buat apa nurutin bu haji karena kopi enggak ada nilai ekonomisnya, kalau laki-lakinya mentok, jadi pendekatannya ke istri-istrinya," terangnya.
"Jika sudah direkrut, kan suami dipengaruhi sama istrinya gampang, jadi nenek ajak ibu-ibunya dulu kalau ajak laki-lakinya pasti menolak," tambahnya.
Menjalankan bisnis ini tentu bukan hal yang mudah bagi Nenek Eti. Ia mengaku telah menghadapi beragam persoalan pelik, baik internal maupun eksternal. Di antaranya adalah kasus penggelapan, pencurian gabah kopi, hingga tindakan premanisme yang mengancam keamanan anggotanya saat beraktivitas.
Jika ada kasus pidana dan tidak bisa diselesaikan secara ,usyawarah, Nenek Eti berkoordinasi deng tokoh masyarakat dan pihak kepolisian. Tak hanya itu, terkadang juga Nenek Eti kerap mendapatkan keluhan langsung dari individu anggotanya dan dengan masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan kopi.
"Intinya semua masalah kita tangkap di dengerin, kita tulis, kita pecahkan bareng-bareng. Lalu kita juga selelu melakukan pertemuan rutin, pertemuan itu dilakukan sebagai sarana evaluasi kelompok. Itu dilakukan demi kenaikan kelompok," tuturnya.
Perkembangan Kelompok Tani Wanoja sangat pesat. Hingga tahun 2025, luas lahan yang digarap di lahan milik Perum Perhutani telah mencapai 118 hektare dengan total 108 anggota. Jika awalnya didominasi oleh perempuan, kini kelompok ini juga telah memiliki banyak anggota laki-laki. Meski demikian, kaum perempuan tetap memegang peran penting, terutama di bagian produksi, sementara kaum pria mayoritas mengelola langsung di kebun.
"Awal-awal sih perempuan semua. Tapi sekarang banyak prianya, soalnyakan semakin luasnya kebun semakin banyaknya luasan tanaman kan perlu yang bawa pupuk, yang angkut hasil panen, danlainnya, masa iya pekerjaan berat itu harus sama perempuan semua," imbuhnya.
Selain piawai berkomunikasi dengan para anggotanya, Nenek Eti juga memiliki kemampuan diplomasi yang kuat dengan berbagai pihak demi kemajuan kelompoknya. Berkat kepiawaian ini, ia berhasil mendatangkan beragam dukungan, mulai dari bantuan infrastruktur, peralatan pengolahan kopi, bibit, pelatihan anggota, studi banding, hingga akses pameran untuk membuka pasar luas dan difasilitasi dalam ekspor kopi.
19 Ton Kopi Kamojang di Ekspor ke Saudi Arabia
Anggita Kelompok Tani Wanoja melakukan penjemuran kopi. Foto: Wisma Putra |
Wajah Nenek Eti tampak begitu sumringah, memancarkan perpaduan sempurna antara kebahagiaan yang mendalam dan rasa haru yang tak terperi. Senyum tulus terukir jelas di bibirnya, merekam sebuah momen puncak dari perjuangan panjang yang akhirnya berbuah manis.
Tepat pada tanggal 27 Oktober 2026, hari bahagia tersebut benar-benar menjadi kenyataan baginya. Bertempat di Center of Excellence Korporasi Petani Kopi, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, sebanyak 19,2 ton kopi specialty Java Preanger asal Kamojang resmi dilepas untuk melakukan perjalanan ekspor perdana menuju Arab Saudi.
Sebelum bersama-sama menggunting pita dan melepas kontainer berisi 19,2 ton kopi, Nenek Eti berkesempatan berbagi cerita dengan para hadirin. Ia mengisahkan perjuangannya dalam membela petani kopi lokal Kamojang hingga hasil produksinya berhasil mellanglang buana ke Timur Tengah.
Kisah Nenek Eti mengenai ekspor kopi dari Bumi Pasundan ke mancanegara melalui akses keuangan berkelanjutan yang membawa Kopi Wanoja mendunia berhasil membuat para hadirin terenyuh. Sesekali, mereka yang berada di ruangan itu bertepuk tangan, terinspirasi oleh perjalanan dan perjuangannya.
"Kopi yang diekspor 19,2 ton, tujuan ke Jeddah. Sekarang yang menarik kerjasamanya dengan OJK dan Bank bjb," kata Nenek Eti.
"Keberhasilan ini menjadi motivasi besar untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produk, serta memperluas jaringan ekspor ke berbagai penjuru dunia," sambungnya.
Nene Eti menyebutkan bahwa kegiatan serupa kembali digelar pada 6 November 2026. Ekspor kopi tersebut ditujukan ke Jeddah, Arab Saudi, dengan volume yang sama, yakni 19,2 ton. "Jadi ekspornya, difasilitasi sama tim OJK dan timnya bjb. Kalau nenek dan para petani yang punya barang," sambungnya.
Sebelum memfasilitasi kegiatan ekspor tersebut, jajaran OJK dan Bank bjb sempat berkesempatan mengunjungi Kamojang untuk meninjau langsung kebun, proses produksi, hingga produk hilirisasi kopi berupa kopi shop. Kunjungan ini dikemas dalam sarasehan keuangan berkelanjutan bertema 'Penguatan Kapasitas Manajemen Keuangan dan Pembiayaan UMKM Ekspor'. Kegiatan tersebut merupakan langkah nyata dalam meningkatkan pemahaman petani terkait pengelolaan keuangan dan akses pembiayaan guna memperkuat daya saing Coffee Wanoja di pasar global.
"Semoga kolaborasi dan sinergi yang terjalin ini dapat terus berlanjut, memberikan manfaat nyata bagi para petani kopi, serta mendorong pertumbuhan UMKM kopi Indonesia yang mandiri, berkelanjutan, dan mampu menembus pasar global," ucap Nenekl Eti.
Dukungan OJK dan Bnak bjb untuk Kopi Wanoja
Pelepasan 19,2 ton kopi asal Kamojang ke Jeddah, Arab Saudi. Foto: Dinas Pertanian Kabupaten Bandung
Menurut Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman, peningkatan produktivitas serta kesejahteraan petani kopi arabika bernilai ekonomis tinggi harus didukung oleh ketersediaan pembiayaan yang memadai. Inisiatif ini sekaligus menjadi langkah strategis untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Jawa Barat lewat pemerataan akses layanan keuangan.
"Pelepasan ini momentum awal pemberdayaan petani kopi di lahan Perhutani di Kamojang," kata Darwisman.
Pengembangan 1.000 hektare lahan kopi diproyeksikan memakan waktu 3-5 tahun secara bertahap. Agar sejalan dengan kesiapan petani, keberlanjutan hasil, dan pemasaran, diperlukan sinergi perbankan serta para pemangku kepentingan. Dengan asumsi Rp50 juta per hektare, total kebutuhan modal mencapai sekitar Rp50 miliar, angka ini masih sebatas estimasi pembiayaan, bukan dana definitif yang telah disetujui.
"Masyarakat dan petani kita di Kamojang komitmennya tinggi. Kreditnya semua lancar tanpa hambatan," tuturnya.
Senada dengan hal itu, Dirut Bank bjb Ayi Subarna menyatakan kesiapan pihaknya mendanai perluasan lahan kopi. Menurutnya, pembiayaan tersebut perlu berjalan seiring dengan penguatan ekosistem yang merangkul petani, offtaker, pemerintah daerah, dan bank
"Ke depan, tambah jadi 1.000 hektare, Bank bjb siap men-support untuk pendanaannya," kata Ayi.
Menurutnya, keberhasilan kemitraan dengan Kelompok Tani Wanoja tidak sekadar diukur dari besarnya nominal kredit yang disalurkan, melainkan dari sejauh mana pembiayaan tersebut mampu mendongkrak produktivitas, mengoptimalkan pendapatan petani, serta menjamin keberlangsungan usaha secara jangka panjang.
"Kemitraan ini menunjukkan keberhasilannya bukan hanya diukur dari jumlah kredit yang disalurkan, tapi juga dari manfaat dan peningkatan produktivitas, memperkuat pendapatan petani kopi dan menjaga keberlangsungan usaha," pungkasnya.
Simak Video "Video: Astra Agro Lestari hingga Alfamart Raih Anugerah Ekonomi Hijau"
[Gambas:Video 20detik] (wip/tya)




