Deru mesin bus Metro Jabar Trans beradu dengan bising knalpot angkutan kota di lajur kiri Jalan Ir. H. Djuanda, Kota Bandung, Rabu (28/10/2026). Saat pintu tengah bus terbuka, para penumpang bergegas melangkah turun, memijak ubin taktil kuning yang terhampar rata di atas trotoar.
Di dekat mereka, halte percontohan tipe small shelter BRT Dago berdiri kokoh memamerkan desain minimalis berlapis cat hitam arang.
Bangunan halte berkanopi datar ini menjadi titik awal perubahan wajah transportasi massal di kawasan Cekungan Bandung. Kehadirannya menandai upaya pemerintah menata mobilitas warga yang selama ini terbiasa dengan ruang tunggu seadanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik deretan tiang pancang pinggir jalan yang memisahkan area pejalan kaki dari kerasnya arus lalu lintas campuran (mixed traffic), halte ini mencoba menawarkan sisi yang lebih manusiawi bagi para komuter kota.
Ruang Sempit yang Membawa Kenyamanan
Keterbatasan lahan membuat ukuran halte terasa sempit saat pergerakan penumpang memuncak. Calon penumpang kerap berhimpitan di dekat bangku kayu cokelat saat menunggu bus tiba.
Meski ruang bergeraknya terbatas, fasilitas baru ini mempermudah perjalanan harian Rani, seorang pekerja di pusat perbelanjaan Bandung Indah Plaza (BIP).
Rani mulai menggunakan layanan bus tersebut sejak pekan lalu setelah melihat informasi rute melalui media sosial TikTok. Ia naik dari perhentian di dekat rumahnya di kawasan Leuwipanjang dan turun langsung di Halte Dago.
"Nyaman, ber-AC juga, dan murah cuma Rp5.000. Saya tinggal turun di Dago lanjut jalan sedikit ke BIP," kata Rani.
Membenahi Fasilitas di Pinggir Jalan
Perubahan wujud fasilitas publik ini turut menarik perhatian warga yang sehari-hari beraktivitas di sekitar lokasi. Fasya, seorang petugas keamanan berusia 40-an tahun di sebuah hotel dekat halte, mengamati perbedaan mencolok antara halte baru ini dengan tempat perhentian angkutan umum pada masa lalu.
Meski Fasya bukan pengguna transportasi umum, ia menilai desain halte saat ini jauh lebih tertata dan fungsional dalam mengatur tata ruang jalan.
"Kalau yang sekarang lebih baguslah. Dulu kan cuma sekadar bangku dan banyak coretan, belum ada papan informasinya juga. Keberadaan halte ini juga membantu yang menjemput agar tahu kalau tidak boleh parkir di depan halte. Apalagi di aspalnya sudah ada tanda merah bus stop, jadi mereka tahu tempat menunggu dan tidak berhenti sembarangan," tutur Fasya.
Keberadaan halte di lajur kiri Dago memang berhadapan langsung dengan padatnya kendaraan. Fasya menyebutkan, kemacetan hampir selalu terjadi pada jam pulang kerja, terutama dari arah atas Dago menuju pusat kota. Kendati lalu lintas padat, operasional bus yang merapat ke halte tetap berjalan aman tanpa mengganggu arus secara signifikan.
Mengejar Target Infrastruktur 2026
Halte Dago tipe small shelter ini hanya sebagian kecil dari proyek pembangunan infrastruktur transportasi massal. Pemerintah menargetkan pembangunan 256 titik halte off-corridor (di pinggir jalan raya) di seluruh wilayah metropolitan Cekungan Bandung. Sebanyak 232 titik di antaranya tersebar di 22 kecamatan di Kota Bandung.
Berdasarkan klasifikasi tipe, Kota Bandung akan memiliki 172 titik penanda tiang (bus pole), 80 titik halte kecil (small shelter), serta empat titik halte besar (big shelter). Halte besar ini rencananya berdiri di Stasiun Hall Bandung, Jalan Merdeka, Summarecon Mall Gedebage, dan Terminal Ledeng.
Selain halte pinggir jalan, pemerintah merancang pembangunan 37 titik halte on-corridor di lajur khusus terpisah pada bagian tengah jalan. Seluruh pengerjaan fisik bangunan ini dikebut agar rampung secara bertahap pada akhir tahun 2026.
Kecemasan pada Aksi Vandalisme
Di balik tampilan halte yang modern, muncul kekhawatiran terkait pemeliharaan fasilitas publik. Ruang terbuka di Bandung kerap menjadi sasaran coretan pihak yang tidak bertanggung jawab. Baik pengguna maupun warga sekitar menaruh harapan yang sama terhadap kelestarian bangunan ini.
Rani berharap pemerintah kota rutin merawat fasilitas serta memasang kamera pengawas di setiap bangunan halte. "Harapannya bisa saling menjaga. Jangan ada aksi vandalisme di halte-halte, karena sayang banget," ucap Rani.
Fasya menyampaikan pandangan serupa terkait perlunya menjaga ketertiban ruang publik yang baru dibangun tersebut. "Harapannya bisa digunakan untuk masyarakat umum dengan lebih baik lagi. Jangan sampai ada coret-coret lagi, harus rapi dan bersih," ujar Fasya.
Bus selanjutnya perlahan merapat ke bibir trotoar, memecah kepulan asap knalpot di jalan raya. Pintu bus kembali terbuka, menjemput gelombang komuter yang menaruh harap pada perbaikan sarana mobilitas di kota ini.
