Hujan deras mengguyur Kabupaten Bandung Barat dua hari berturut-turut. Berdasarkan penjelasan BMKG, musim peralihan atau pancaroba sudah tiba sehingga beberapa hari ke depan ada potensi cuaca ekstrem di Bandung Raya.
Hujan menjadi berkah bagi sebagian orang, setelah kemarau panjang mereka dilanda krisis air bersih. Namun bagi Rusmiyati, rintik air yang turun dari langit diiringi cuaca mendung dan bunyi 'geluduk' mengantarkan ingatannya pada peristiwa di awal tahun 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat hujan mengguyur selama beberapa hari, hingga pada Sabtu, 24 Januari 2026 sekitar pukul 02.30 WIB, material longsor dari Gunung Burangrang, menyapu puluhan rumah di Kampung Babakan Pasir Kuning dan Kampung Pasirkuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Bahala longsor itu membawa duka mendalam untuk warga setempat. Terlebih bagi keluarga yang sanak saudaranya jadi korban, tak tanggung-tanggung 103 orang dinyatakan tewas. Berdasarkan catatan SAR Mission Commander (SMC), Ade Dian Permana saat itu, 80 orang korban merupakan warga setempat dan 23 lainnya merupakan personel TNI yang sedang menjalani latihan di Gunung Burangrang.
"Ya kalau musim hujan seperti ini saya dan warga disini trauma, khawatir ada longsor lagi. Meskipun sudah lama, tapi trauma mah masih ada," kata Taya, warga Kampung Babakan Pasirkuning saat berbincang dengan detikJabar, Rabu (28/10/2026).
Trauma yang Taya rasakan bukan tanpa alasan. 10 orang anggota keluarganya jadi korban, delapan jasad ditemukan dan dikebumikan dengan manusiawi. Sementara dua jasad lagi masih bersemayam di pelukan Gunung Burangrang.
"Setiap hari, kalau saya lagi duduk di teras rumah pasti kepikiran cucu. 2 cucu saya Adel sama Rika enggak ketemu. Total keluarga saya yang jadi korban 10 orang, cuma 8 orang yang ketemu," kata Taya.
Rumah mereka yang dulu berdiri di lereng Gunung Burangrang, berdampingan dengan lahan kebun bunga dan sayuran tinggal kenangan, terkubur di bawah material lumpur dan bebatuan besar.
"Kemarin pas musim kemarau sungai yang muncul setelah longsor itu sempat surut, sekarang mulai muncul lagi soalnya sudah turun hujan. Ya kalau keinginan enggak sampai kejadian lagi, saya tinggal di sini sudah 40 tahun lebih. Pisah sama anak dan cucu, terus saudara dan tetangga karena bencana. Sedih, kadang masih suka nangis kalau ingat," kata Taya.
Tak cuma Taya saja yang masih sering terkenang dengan suasana Kampung Babakan Pasirkuning tempat ia tinggal. Ada juga Iman Rahmat, penyintas longsor Cisarua yang nasibnya lebih mujur.
Rumah Iman memang tak hancur diterjang longsor, istri dan anaknya juga selamat. Namun ia kehilangan saudaranya yang lain. Kini ia tak bisa tinggal di rumahnya lagi karena ada di dalam zona merah yang ditentukan pemerintah.
"Ya sesekali masih dicek rumahnya, sedih enggak bisa tinggal di sini lagi. Kalau lagi kesini, kadang ingat suasana dulu sebelum kejadian, ingat sama saudara, sama tetangga," kata Iman.
Di sisi lain, Iman juga mengkhawatirkan kehidupannya yang masih dalam proses pemulihan. Dulu, Iman menggarap lahan seluas 140 tumbak atau seluas 1.960 meter persegi untuk menanam sayuran. Kini, lahan itu hilang ditimbun longsor.
"Lahan saya 140 tumbak habis, sekarang ya enggak kerja karena mau garap apa. Belum tahu juga gimana, cuma ya untuk menutupi pengeluaran sehari-hari saya mulai bantu di lahan punya teman yang selamat. Sekarang tanam sayuran juga," ujar Iman.
Iman, Taya, serta penyintas longsor Cisarua lainnya masih punya beban psikologis untuk dipikul. Mereka hanya bisa saling menguatkan satu sama lain, meski sebagian kini berpencar tinggal di tempat baru usai menerima uang relokasi mandiri dari pemerintah daerah.
Para penyintas tahu betul, hidup harus terus berjalan demi masa depan mereka dan keluarga. Namun trauma tak bisa begitu saja menghilang dari ingatan. Harapan mereka banyak, tetapi utamanya tak mau lagi kejadian serupa menerjang dan merenggut nyawa.
(orb/orb)
