Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Tasikmalaya kali ini menyajikan pemandangan berbeda yang mengetuk kesadaran publik.
Di halaman sebuah restoran cepat saji di Jalan Ir. H. Juanda, Rabu (28/10/2026) ikrar persatuan bangsa diwujudkan secara nyata melalui aksi inklusif puluhan anak-anak penyandang disabilitas.
Jika upacara bendera pada umumnya menuntut ketangkasan fisik yang presisi dan sempurna, kegiatan ini justru membuktikan bahwa kesempurnaan sejati terletak pada ketulusan dan semangat kebangsaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah lalu lalang kendaraan Kota Tasikmalaya, area parkir restoran tersebut disulap menjadi panggung kesetaraan.
Seluruh jajaran petugas upacara mengemban peran vital sesuai dinamika dan keistimewaan mereka masing-masing.
Viola anak tunadaksa memandu jalannya acara sebagai protokol dengan tenang. Dava penyandang low vision berdiri tegak sebagai pemimpin upacara.
Nia dan Ella penyandang tunagrahita melantunkan naskah UUD 1945 dan Teks Sumpah Pemuda dengan penuh kesungguhan.
Sementara kolaborasi Azmi, Patra, dan Laal Bariq, trio tunarungu mengibarkan Sang Sangka Merah Putih dengan keharmonisan gerak yang luar biasa.
Kemudian ada Farand penderita down syndrome mendampingi Pembina Upacara dengan cekatan sebagai Ajudan. Di akhir acara Sibqi anak tunanetra memimpin doa dengan teks braile.
Anggota DPRD Kota Tasikmalaya, Enan Suherlan, yang bertindak sebagai pembina upacara, menegaskan momen ini merupakan refleksi penting bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah.
"Hari ini anak-anak kita memberikan pelajaran berharga. Sumpah Pemuda bukan sekadar sejarah milik mereka yang bertubuh lengkap, tetapi milik seluruh anak bangsa tanpa terkecuali. Tugas kita adalah membuka ruang kesetaraan itu seluas-luasnya," ungkap Enan.
Dia juga mendorong agar Pemkot Tasikmalaya bisa memberikan ruang bagi disabilitas untuk bisa berkarya dan bekerja di dunia usaha.
"Pemkot bisa saja menerbitkan peraturan bagi dunia usaha untuk bisa memberdayakan kalangan disabilitas ini, sesuai dengan kemampuannya," kata Enan.
Dia mengatakan di Kota Tasikmalaya ada 2.200 penyandang disabilitas ditambah 775 anak disabilitas yang menimba ilmu di 7 SLB. Saat ini hanya sekitar 0,2 persen saja yang bisa masuk di dunia usaha atau menjadi pekerja.
"Walau pun masih minim, tapi kan ada. Ini bisa menjadi percontohan bagi pelaku usaha lainnya, bahwa disabilitas pun bisa memiliki kemampuan untuk bekerja," kata Enan.
Secara pribadi Enan mengaku terkesan bisa menjadi pembina upacara. Dia mengaku menerima bahan introspeksi diri yang sangat berharga dengan berkumpul bersama anak-anak disabilitas.
"Upacara ini menggeser paradigma rasa kasihan menjadi empowerment (pemberdayaan). Saya bersyukur," kata Enan.
Pengurus Paguyuban Pegiat Disabilitas Tasikmalaya (Papeditas) Tata Tajudin mengatakan momentum Hari Sumpah Pemuda ke 98 tahun 2026 ini mengambil tema patriotik, gigih dan berempati.
"Kami mengambil implementasi dari tema tersebut, dimana patriotik disini kami ingin menumbuhkan cinta tanah air kepada anak-anak disabilitas. Gigihnya kami apresiasi, karena sepanjang hidupnya mereka berjuang dengan segala kekurangan. Sementara empati kita wujudkan dengan kolaborasi dengan berbagai pihak," kata Tata.
Kegiatan semacam ini menurut Tata sangat berharga bagi anak-anak disabilitas. Karena mereka mendapatkan ruang untuk unjuk diri termasuk jadi wahana sosialisasi.
"Ini melibatkan sekitar 100 anak disabilitas. Mereka senang diberi ruang untuk unjuk kebolehan," kata Tata
