Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober bisa menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pemuda dalam membangun bangsa.
Bandung tak hanya dikenal sebagai Kota Kreatif dan pusat pendidikan. Kota Kembang ini juga memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat pergerakan nasional pada masa kolonial Belanda.
Sejumlah tokoh muda turut memberikan kontribusi penting melalui pendidikan, pergerakan politik, perjuangan kemerdekaan, hingga pemberdayaan perempuan. Kiprah mereka ikut membentuk karakter Bandung sebagai kota yang memiliki tradisi intelektual, semangat kebangsaan, dan kepedulian terhadap masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kira-kira siapa saja tokoh yang berperan penting dalam sejarah perkembangan Kota Bandung dari masa ke masa?
1. Raden Dewi Sartika
Raden Dewi Sartika merupakan tokoh perintis pendidikan perempuan asal Jawa Barat yang lahir di Cicalengka pada 4 Desember 1884.
Pada 1904, Dewi Sartika mendirikan "Sakola Istri" di lingkungan Pendopo Kabupaten Bandung saat berusia 20 tahun. Meski awalnya hanya memilki sekitar 20 murid dan 3 orang pengajar termasuk dirinya, sekolah tersebut semakin berkembang dan berganti nama menjadi "Sakola Kautamaan Istri".
Para siswi mendapatkan pelajaran dasar seperti membaca, menulis, berhitung, serta keterampilan yang dapat membantu mereka menjalani kehidupan secara mandiri.
Kiprah Dewi Sartika memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan perempuan di Bandung dan wilayah Pasundan.
2. Mohammad Toha
Nama Mohammad Toha dikenal lekat dengan peristiwa Bandung Lautan Api 1946. Saat itu, para pejuang dan warga membumihanguskan sejumlah bagian Kota Bandung agar tak dapat dimanfaatkan oleh pihak lawan.
Toha merupakan anggota Barisan Rakyat Indonesia (BRI) yang dikenal karena aksi penyerangan terhadap gudang amunisi pasukan Sekutu di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian perjuangan rakyat Bandung menghadapi pasukan Sekutu dan Belanda setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Mohammad Toha lahir pada 1927 dan gugur di usia 19 tahun dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pengorbanannya dikenang sebagai simbol keberanian generasi muda dalam mempertahankan kemerdekaan, dan namanya diabadikan menjadi nama jalan di Bandung.
3. Raden Otto Iskandardinata
Raden Otto Iskandardinata yang juga dikenal dengan julukan Si Jalak Harupat merupakan tokoh pergerakan nasional kelahiran Bojongsoang, Bandung, pada 31 Maret 1897.
Ia dikenal berani menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial yang dinilai merugikan rakyat. Otto juga aktif dalam organisasi Budi Utomo dan memimpin Paguyuban Pasundan, organisasi yang berperan dalam memperjuangkan kemajuan masyarakat Sunda. Di bawah kepemimpinannya, organisasi tersebut semakin berkembang.
Otto kemudian menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat pada 1930. Ia menyuarakan kepentingan rakyat dan memperjuangkan perubahan di tengah sistem kolonial. Perannya ikut memperkuat posisi Bandung sebagai salah satu pusat pergerakan politik dan pemikiran kebangsaan.
Hingga kini, namanya dikenang melalui berbagai penamaan fasilitas publik, termasuk Jalan Otto Iskandardinata atau Otista.
4. Emma Poeradiredja
Emma Poeradiredja lahir di Cilimus, Kuningan, pada 13 Agustus 1902. Ia aktif dalam organisasi kepemudaan sejak masih berusia belasan tahun.
Emma bergabung dengan Jong Java sebelum kemudian aktif di Jong Islamieten Bond (JIB), bahkan dipercaya memimpin cabang JIB Bandung.
Emma juga turut menghadiri Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 dan menyuarakan pentingnya keterlibatan perempuan dalam perjuangan kebangsaan.
Perjuangannya berlanjut di Bandung melalui pendirian Pasoendan Bagian Isteri pada 30 April 1930. Organisasi tersebut kemudian dikenal sebagai Pasundan Istri (PASI) dan dipimpin olehnya sejak 1931 yang bergerak di bidang pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan pelestarian budaya Sunda.
5. Maskoen Soemadiredja
Maskoen Soemadiredja merupakan tokoh pergerakan nasional kelahiran Bandung pada 25 Mei 1907.
Ia mulai aktif dalam perjuangan politik sejak muda dan bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin Soekarno. Pada 1928, Maskoen dipercaya menjadi sekretaris II PNI cabang Bandung dan turut menyebarkan gagasan nasionalisme melalui kegiatan organisasi serta pertemuan dengan masyarakat.
Aktivitas politiknya membuat pemerintah kolonial Belanda menganggap PNI sebagai ancaman. Pada 29 Desember 1929, Maskoen ditangkap bersama Soekarno, Gatot Mangkoepradja, dan Soepriadinata di Yogyakarta. Mereka kemudian dibawa ke Bandung untuk menjalani proses pengadilan.
Persidangan yang dimulai pada 18 Agustus 1930 berlangsung di gedung Landraad, yang kini dikenal sebagai Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung. Gedung tersebut menjadi salah satu situs bersejarah yang merekam perjuangan tokoh pergerakan nasional menghadapi pengadilan kolonial.
Maskoen kemudian dijatuhi hukuman penjara dan menjalani masa tahanan di Bandung. Keterlibatannya dalam pergerakan nasional turut memperkuat posisi Bandung sebagai ruang penting bagi tumbuhnya pemikiran politik dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Kelima tokoh tersebut memperlihatkan beragam bentuk perjuangan yang turut membentuk sejarah Bandung. Dengan mengenang perjuangan para tokoh muda di Hari Sumpah Pemuda 2026, generasi sekarang diharapkan tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga meneruskan nilai persatuan dan kepedulian terhadap masyarakat yang menjadi dasar perjuangan mereka.
(sud/sud)
