Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat hari ini, mulai dari pembacokan Bobotoh di Bogor yang ditangkap polisi hingga heboh padepokan di Sukabumi.
Berikut rangkuman Jabar Hari Ini:
Pembacok Bobotoh Ditangkap dan Terancam 15 Tahun Bui
Polres Bogor meringkus pelaku pembacokan yang menewaskan seorang suporter bola berinisial ARK (16). Insiden berdarah ini terjadi di Jalan Raya Jakarta, Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar). Pelaku berinisial MR kini harus berurusan dengan hukum dan terancam hukuman penjara hingga 15 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Adapun pasal yang diterapkan adalah Pasal 80 ayat 3 Undang-Undang Perlindungan Anak dan/atau Pasal 307 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara," kata Kasi Humas Polres Bogor Ipda Sigit Wahyudi, hari ini.
Sigit menjelaskan, saat ini penyidik dari Satuan PPA Polres Bogor masih terus mendalami keterangan dari MR. Pihaknya menegaskan bahwa kasus ini menjadi atensi khusus karena melibatkan korban yang masih di bawah umur.
"Kami menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi perhatian serius, terlebih karena melibatkan anak di bawah umur dan mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang. Polres Bogor berkomitmen untuk menangani perkara ini secara profesional, objektif, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," ujar Sigit.
Sebagai pengingat, ARK ditemukan tewas mengenaskan setelah dibacok menggunakan celurit di Km 50 Jalan Raya Jakarta-Bogor pada Minggu (25/10) malam. Korban saat itu diketahui sedang dalam perjalanan pulang usai menyaksikan laga sepak bola antara Garudayaksa FC melawan Persib di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor.
Kondisi Ojol Korban Penembakan Misterius di Sukabumi
Muhammad Zhaldi (24), pengemudi ojek daring (ojol) yang menjadi korban penembakan misterius di Kota Sukabumi, saat ini masih terbaring dan menjalani perawatan medis di RSUD R. Syamsudin S.H. (RS Bunut). Meski dalam kondisi sadar, proyektil senapan angin yang mengenai leher belakangnya hingga kini belum dioperasi.
Direktur Utama UOBK RSUD R. Syamsudin S.H. Kota Sukabumi, Yanyan Rusyandi, menjelaskan kondisi fisik pasien sejauh ini relatif stabil (compos mentis) dan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda gangguan saraf.
"Jadi sampai sekarang kondisinya stabil, tidak ada tanda-tanda defisit neurologis," kata Yanyan hari ini.
Yanyan mengonfirmasi dari hasil pemeriksaan penunjang, proyektil tersebut memang masih bersarang di area leher belakang korban. Tim medis sengaja belum mengambil langkah pembedahan demi meminimalisasi risiko klinis yang bisa membahayakan sistem saraf pusat korban.
Dia menjelaskan, tindakan pembedahan seperti laminektomi atau pengangkatan bagian tulang belakang memerlukan kehati-hatian tingkat tinggi.
"Risiko untuk tindakan mengeluarkan itu ke sistem saraf pusat bisa saja terganggu. Pertimbangannya adalah kondisi klinis dengan memperhatikan risiko medis, jangan sampai ada dampak yang malah memperparah jika dilakukan tindakan operatif," jelasnya.
Untuk saat ini, penanganan medis diarahkan pada perawatan konservatif demi menjaga stabilitas kondisi umum pasien sebelum diputuskan langkah tindakan medis selanjutnya.
"Dari hasil pemeriksaan sementara oleh dokter spesialis bedah saraf, belum ada rencana untuk operasi. Arahan dari dokter Nizar sebagai dokter spesialis bedah saraf, penatalaksanaan untuk pasien sementara ini secara konservatif yaitu menstabilkan keadaan umum dan pemberian obat-obatan sesuai indikasi penyembuhan," papar Yanyan.
Sekadar informasi, Muhammad Zhaldi menjadi korban penembakan oleh orang tak dikenal saat sedang menanti orderan penumpang di Jalan Stasiun Timur, Kelurahan Gunungparang, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, pada Minggu (25/10) dini hari.
Aksi penembakan tersebut diduga dilakukan oleh dua orang pria dari jarak sekitar 7 meter menggunakan senapan angin. Saat ini, jajaran Satreskrim Polres Sukabumi Kota masih terus memburu para pelaku.
"Kita maksimalkan dulu olah TKP. Korban ojol dan terduga dua orang masi dalam penyelidikan, yang jelas bukan geng motor. Ini analisa awal sudah direncanakan," kata Kasat Reskrim Polres Sukabumi Kota AKP Hartono.
Puting Beliung di Padalarang, Ratusan Rumah Rusak
Puting beliung yang melanda sejumlah desa di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, pada Senin (26/10/2026) sore, menyebabkan 526 rumah rusak.
Kerusakan rumah tersebar di tiga desa. Di Desa Jayamekar, sebanyak 95 kepala keluarga (KK) terdampak dengan 95 rumah rusak, yang terdiri atas 71 rumah rusak ringan dan 24 rumah rusak berat.
Sementara di Desa Padalarang, terdapat 394 KK terdampak dengan 398 rumah rusak, dengan rincian 139 rumah rusak ringan, 161 rumah rusak sedang, 98 rumah rusak berat, serta satu warga terluka.
Kemudian di Desa Kertajaya, ada 26 KK terdampak dengan 27 rumah rusak. Rinciannya, 9 rumah rusak ringan, 4 rumah rusak sedang, dan 14 rumah rusak berat.
"Total 520-an unit rumah rusak akibat bencana angin puting beliung. Itu tersebar di 3 desa yakni Padalarang, Kertajaya, dan Jayamekar. Tapi paling banyak memang di Desa Padalarang," kata Camat Padalarang, Hendi Setiyadi saat ditemui di lokasi kejadian hari ini.
Selain bangunan rumah masyarakat, bencana angin puting beliung juga merusak 9 fasilitas umum meliputi masjid, madrasah, posyandu, kantor ketahanan pangan, hingga bangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
"Fasilitas umum yang rusak tersebut 7 unit di Desa Padalarang dan 2 unit di Kertajaya. Untuk total rumah rusak itu ada 125 unit rumah rusak," ujar Hendi.
Hendi mengatakan pihaknya sudah melakukan asesmen bersama personel BPBD Bandung Barat dan kepolisian. Warga juga sudah melakukan penanganan kerusakan untuk rumah yang mengalami rusak ringan hingga sedang.
"Kalau yang rumahnya rusak ringan-sedang itu rata-rata langsung diperbaiki oleh pemiliknya. Untuk yang rusak berat, kita cek dulu seperti apa dan koordinasi dengan pemerintah kabupaten. Kemudian personel diterjunkan membantu merapikan dampak kemarin," jelas Hendi.
Kekerasan di Padepokan, Buat Warga Sukabumi Heboh!
Kasus dugaan penganiayaan di Padepokan Al Baathin Al Waliyy, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, akhirnya menyingkap tabir keresahan mendalam yang selama ini dipendam warga Pajampangan.
Di balik insiden pemukulan yang berujung penetapan dua orang tersangka itu, tersimpan polemik panjang soal pamer klaim kesaktian ilmu laduni di media sosial yang kerap memancing kegaduhan publik.
Berdasarkan penelusuran detikJabar di akun media sosial padepokan tersebut maupun kanal pribadi Tabib Jalil Jampang, mereka kerap memamerkan demonstrasi bela diri batin tanpa sentuhan fisik atau ilmu kontak.
Dalam video-video atraksinya, komando kata "Rapet!" menjadi ciri khas utama yang dilontarkan pengasuh padepokan. Kata tersebut dipakai sebagai sugesti batin agar penantang atau penyerang seketika kaku, menempel di tempat, dan membeku bak patung saat melayangkan serangan.
Tak cuma kata "Rapet!", sejumlah istilah lain juga kerap diteriakkan saat sesi pembuktian atau tester, seperti kata "Mental!" untuk memantulkan lawan ke belakang hingga "Lemes!" guna melucuti tenaga lawan secara instan.
Aksi teatrikal dengan bentakan tegas itu rutin diproduksi untuk meyakinkan publik di jagat maya seputar keampuhan ilmu yang mereka klaim bersumber dari karomah Sunan Kalijaga.
Namun, gaya pamer kesaktian di ruang digital ini memicu kegeraman masyarakat lokal. Tokoh masyarakat Jampang, Yudi Pratama atau yang karib disapa Si Peci Bereum ti Jampang, mengungkapkan bahwa kedatangan dua perwakilan tamu, Ustaz Iskandar Abdul Jabar dan rekannya, ke padepokan awalnya adalah langkah tabayun murni atas nama warga yang resah.
"Keresahan warga itu pertama karena perguruan tersebut sering menantang orang lain untuk pembuktian di ruang publik. Dia punya akun Facebook, punya TikTok, selalu menantang dan seolah-olah perguruannya paling benar, ilmu karomah, ilmu laduni, sementara yang lain dianggap jelek," kata Yudi saat dihubungi detikJabar hari ini.
Keresahan kian meruncing di kalangan ulama, kiai, dan santri setempat lantaran klaim ilmu laduni tersebut justru dikomersialkan. Padahal, secara syariat Islam, ilmu laduni merupakan anugerah khusus dari Sang Pencipta yang tidak bisa diperjualbelikan dengan materi.
"Masyarakat, khususnya para kiai dan santri resah karena mereka mencatut nama laduni, tapi laduninya bisa dibayar pakai uang. Per tingkatan itu maharnya sampai Rp 1,5 juta. Kalau laduni menurut syariat Islam itu kan anugerah khusus yang Allah berikan kepada orang-orang pilihan, bukan siapa saja boleh asal punya duit," tutur Yudi membeberkan.
Puncaknya, masyarakat mengutus perwakilan untuk bersilaturahmi, berdialog, sekaligus mengonfirmasi langsung kebenaran klaim ilmu batin dan seruan "rapet" yang viral di medsos. Namun, niat musyawarah itu justru disambut arogansi hingga berujung aksi penamparan dan pengeroyokan di ruang tengah padepokan.
Yudi pun mengapresiasi langkah tegas dan cepat jajaran Satreskrim Polres Sukabumi yang langsung meringkus para pelaku sebelum memicu amuk massa yang lebih luas.
"Alhamdulillah kami warga masyarakat Jampang sangat mengapresiasi kinerja kepolisian yang luar biasa cepat, belum 1x24 jam pelaku sudah diamankan ke polres. Polisi sangat cepat tanggap dan situasional melihat masyarakat memang sudah sangat geram," pungkas Yudi.
Sebelumnya, Satreskrim Polres Sukabumi resmi menetapkan dua orang dari pihak padepokan berinisial JMI dan AY sebagai tersangka kasus dugaan kekerasan fisik usai video amatir penganiayaan tersebut viral di media sosial. Keduanya kini telah diamankan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Sopir Truk yang Hantam Tebing Cisarakan Sukabumi Meninggal
Muhamad Jahuri Nor (43), sopir truk boks muatan pupuk yang sempat terjepit usai kendaraannya menabrak tebing di jalur Cisarakan, Desa Buniwangi, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, dinyatakan meninggal dunia saat menjalani perawatan medis intensif di RSUD Palabuhanratu.
Kabar duka tersebut disampaikan oleh Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Palabuhanratu, dr. Radit, melalui Humas RSUD Palabuhanratu, Billy Agustian. Korban sebelumnya tiba di rumah sakit pada Senin (26/10/2026) sore dengan kondisi kritis akibat luka benturan keras.
"Pasien tiba di IGD pada tanggal 26 Oktober pukul 16.00 WIB dengan diantar langsung oleh petugas kepolisian dalam kondisi penurunan kesadaran," terang Billy menyampaikan keterangan resmi dr. Radit, hari ini.
Pihak rumah sakit menjelaskan, korban mengalami trauma fisik yang cukup berat pada sejumlah bagian tubuhnya. Tim medis mendapati luka terbuka di area wajah, memar hebat, serta patah tulang terbuka pada tangan dan tungkai sebelah kanan.
Upaya penanganan darurat telah dilakukan tim dokter guna menyelamatkan nyawa pengemudi asal Jepara tersebut.
"Pasien sempat diberikan tindakan medis dan obat-obatan, serta distabilkan. Namun, akibat luka berat di bagian kepala serta tungkai kanan, kondisi pasien mengalami perburukan hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Selasa, 27 Oktober 2026 sekitar pukul 01.00 WIB," jelasnya.
Sebelumnya, truk boks bernopol F 8303 NM yang dikemudikan korban mengalami kecelakaan tunggal beruntun di turunan curam Cisarakan sekitar pukul 14.30 WIB.
Truk diduga mengalami rem tekor hingga sempat menyenggol bagian samping Toyota Avanza sebelum akhirnya membanting setir dan menabrak tebing sisi kanan jalan hingga terbalik.
Peristiwa itu sempat membuat proses evakuasi berlangsung alot lantaran tubuh korban terjepit di balik kabin kemudi yang ringsek parah sebelum berhasil dikeluarkan oleh tim SAR gabungan.
Simak Video "Video: Tiga Desa dan Ratusan Rumah Terdampak Puting Beliung Padalarang"
[Gambas:Video 20detik] (wip/mso)
