One shot, one kill. Begitulah istilah yang dikemukakan oleh Faizul ketika tengah menjelaskan daya pikat yang dimiliki oleh kamera analog. Setiap jepretan yang dihasilkan tidak dapat langsung diketahui sehingga memaksanya untuk berhati-hati ketika hendak mengabadikan sebuah momen menggunakan kamera analog.
Di tengah kepadatan Pasar Kosambi, tepatnya pada kawasan The Hallway Space berdiri sebuah toko yang menjaga eksistensi kamera analog. Faizul atau lebih akrab dikenal dengan Izul mendirikan Izulgeokids sebagai bentuk pelestarian hobi yang telah berlangsung sejak 2010 silam.
Ide bisnis di bidang kamera analog semula datang dari kebutuhan Izul ketika tengah menjadi mahasiswa jurusan Geografi yang dituntut untuk mengumpulkan dokumentasi hasil praktikum di lapangan. Izul mengaku awalnya ia memang menggunakan kamera digital sebagai perangkat pendukung kebutuhannya, namun lama kelamaan Izul justru lebih terpikat dengan kamera analog.
"Jadi ketika kita main digital, instant, kalau misalkan jelek ya kita hapus. Kalau ini kan one shoot one kill, jadinya ketika kita motret, nunggu hasilnya itu beberapa hari, nah itu yang bikin penasaran sebenarnya. Penasaran jadinya memutuskan untuk di analog gitu, bukan di digital," ujar Izul saat berbincang dengan detikJabar di gerainya belum lama ini.
Ketertarikannya terhadap kamera analog kemudian berkembang menjadi aktivitas jual-beli kamera. Usahanya bermula di ranah marketplace online layaknya Kaskus yang kemudian dilanjutkan dengan berdagang secara langsung di Pasar Antik Cikapundung. Kini, bisnisnya mencakup layanan servis kamera, khususnya untuk bagian lensa dan bodi kamera dengan sistem full manual.
"Jadi memutuskan untuk jualan yang pertama bisa motret sesuka hati, pakai film sendiri, terus bisa menambah uang jajan. Menambah uang kuliah lah," ujarnya.
Sebagian orang mungkin akan menganggap kamera analog sudah ketinggalan zaman karena hasilnya yang tidak instan. Izul menjelaskan proses pencucian film hitam-putih secara manual membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
Tahapan pencucian film dimulai dengan mengeluarkan film dari kamera, tepatnya di bagian tabung atau canister, lalu menggulung film ke dalam rel khusus sebelum menjalani proses pengembangan atau developing. Selama proses tersebut, film perlu digoyang atau digerakkan secara manual sesuai teknik pencucian.
Durasi pencucian dapat berubah tergantung pada kondisi film, sebab jika sudah kadaluarsa membutuhkan waktu lebih lama karena sensitivitasnya terhadap cahaya sudah menurun seiring waktu. Untuk mengantisipasi hasil yang kurang optimal, waktu pencucian perlu ditambah sekitar 10-15 menit jika film sudah kadaluarsa.
"Kalau pakai mesin emang udah diciptakan buat cuci otomatis. Jadi kita masukin film, keluar tuh udah jadi berbentuk klise yang panjang. Tinggal potong dan scan bisa langsung masuk ke handphone," kata Izul lebih dalam.
Pesona yang dihasilkan oleh kamera analog menjadi salah satu alasan mengapa kamera analog masih terus dicari hingga saat ini. Menurut Izul, warna foto yang dihasilkan cenderung memiliki karakteristik tersendiri dan memberi kesan vintage.
Walau begitu, tata cara penggunaan kamera analog dapat sedikit membingungkan bagi pemula yang baru mencobanya. Keterbatasan frame yang tersedia dalam satu roll film menjadi tantangan tersendiri. Terlebih, tidak semua hasil foto berakhir sesuai dengan keinginan diri.
"Mendingan dari awal 36 frame itu dipikirin kita mau motret apa dulu? Street kah? Atau misalkan wildlife kah? Atau human interest kah? Nah, itu pilih dulu jenis fotonya, jangan buru-buru. Kalau misalkan enggak mau boros, ingat harga roll film itu mahal. Jadi harus latihan supaya hasilnya bagus," ucap Izul.
Di sisi lain, hasil fotografi dengan menggunakan kamera analog juga berpotensi terbakar. Izul menjelaskan hal tersebut bisa terjadi ketika ada celah pada bagian penutup kamera sehingga roll film terkena paparan sinar matahari secara berlebih.
Maraknya pelanggan yang datang ke gerai Izul membuatnya mengkategorikan ke dalam tiga jenis, yakni pemula, hobi, serta kolektor. Izul bercerita pelanggan yang baru berkenalan dengan dunia roll film kerap tidak mengenal kamera analog dengan baik sehingga ia perlu mengedukasi mereka terlebih dahulu sebelum melakukan transaksi.
Tantangan lain berasal dari harga roll film yang kian hari kian melambung. Izul menjelaskan bahwa sebelum pandemi terjadi, satu buah roll film bisa dijual mulai dari Rp75 ribu. Saat ini, harga jual roll film telah mencapai Rp150 ribu. Faktor tersebut yang menjadi penentu siapa saja yang masih berminat untuk mendalami fotografi analog.
"Sebenarnya sempat tidak laku selama beberapa bulan gitu. Pas pandemi itu harganya pada naik. Sekarang tuh generasi baru yang menurutku penentunya saat pandemi. Kalau misalkan yang banyak uangnya bakal terus main. Disebutnya hukum alam antara orang yang sekadar hobi dan yang pengen belajar," tambahnya.
Izulgeokids menjual berbagai macam jenis kamera analog, mulai dari disposable, point and shoot, hingga single-lens reflex (SLR). Lensa dengan berbagai jenis ukuran juga tersedia bagi pelanggan yang membutuhkannya. Walau begitu, Izul tidak menerima jasa pencucian roll film di gerainya sebab menurutnya terlalu banyak risiko yang perlu ditanggung, terutama dari segi lingkungan.
"Limbah hasil cuci roll film itu mengandung nikel dan merkuri sehingga bisa merusak lingkungan dan bahkan bisa bikin melepuh kalau kena kulit. Biasanya kalau zaman dulu, Fuji dan Kodak bakal jemput langsung limbahnya dari seluruh cabang lab cuci-cetak milik mereka. Kalau kita buang sembarangan ke sungai bisa bikin ikan mati. Itu berbahaya banget," pungkasnya.
Di tengah era digital yang menawarkan segala sesuatu secara instan, kamera analog masih banyak diminati oleh segala rentang usia. Meski memerlukan proses yang panjang, Izul berharap eksistensi kamera analog akan terus dilestarikan dengan berbekal literasi dan pengalaman.
Simak Video "Menginap di Hotel Nyaman di Bandung, Menikmati Liburan "
(dir/dir)