DPRD Dorong Integrasi BRT dan Angkot untuk Atasi Macet di Bandung

DPRD Dorong Integrasi BRT dan Angkot untuk Atasi Macet di Bandung

Rifat Alhamidi - detikJabar
Sabtu, 24 Okt 2026 19:11 WIB
BRT Bandung Raya terparkir di terminal Kota Baru Parahyangan
BRT (Foto: Whisnu Pradana)
Bandung -

Penanganan kemacetan di Kota Bandung dinilai tak cukup hanya dengan menghadirkan moda transportasi baru. Anggota DPRD Kota Bandung, Juniarso Ridwan, menilai pengoperasian Bus Rapid Transit (BRT) perlu dibarengi penataan angkot agar keduanya terintegrasi dalam satu sistem transportasi publik.

Juniarso mengatakan, pengoperasian BRT dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap angko yang selama ini masih menghadapi persoalan ketertiban dalam menaikkan dan menurunkan penumpang. Meskipun sebetulnya, Dinas Perhubungan telah menyediakan shelter atau tempat pemberhentian.

"Dishub sebenarnya sudah menyiapkan shelter untuk angkot. Namun, dalam praktiknya, angkot masih banyak yang berhenti di mana saja untuk mencari penumpang. Akibatnya, shelter yang sudah dibangun justru tidak dimanfaatkan secara optimal," katanya dikutip Sabtu (24/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi tersebut, lanjut Juniarso, turut mempengaruhi kelancaran arus lalu lintas. Kendaraan yang berhenti tidak pada tempatnya berpotensi menghambat pergerakan kendaraan lain, terutama di ruas jalan yang padat.

ADVERTISEMENT

Berbeda dengan angkot, BRT memiliki titik pemberhentian yang sudah ditetapkan. Dengan sistem tersebut, bus hanya berhenti di shelter yang telah disediakan sehingga operasionalnya diharapkan lebih tertib dan teratur.

"Kalau BRT, tempat berhentinya sudah jelas. Bus tidak bisa berhenti sembarangan karena harus mengikuti sistem dan titik pemberhentian yang telah ditentukan. Ini menjadi salah satu keunggulan dalam membangun transportasi publik yang lebih tertib," jelasnya.

Juniarso menambahkan, keunggulan lain BRT terletak pada kapasitas angkutnya yang relatif besar. Dengan kemampuan membawa lebih banyak penumpang dalam satu perjalanan, kebutuhan jumlah bus dapat ditekan dibandingkan jika mobilitas masyarakat hanya mengandalkan kendaraan berkapasitas kecil.

"Dengan kapasitas angkut yang besar, jumlah bus yang dibutuhkan tidak harus terlalu banyak. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang menggunakan transportasi massal, semakin berkurang pula jumlah kendaraan yang memenuhi jalan," katanya.

Selain itu, keberadaan subsidi dalam program BRT menjadi keuntungan bagi masyarakat. Dukungan tersebut diharapkan membuat ongkos perjalanan lebih murah sehingga layanan transportasi publik dapat dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.

Juniarso menilai, tarif yang terjangkau, kenyamanan, dan ketertiban pelayanan merupakan faktor penting untuk mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam memilih moda transportasi. Ia optimistis, apabila BRT mampu memberikan pelayanan yang baik, masyarakat yang selama ini menggunakan kendaraan pribadi berpeluang beralih ke transportasi umum.

"Kalau transportasi publik nyaman, tertib, dan biayanya terjangkau, masyarakat tentu akan mempertimbangkan untuk menggunakannya. Bahkan, pengguna mobil pribadi pun bisa beralih karena ingin menghemat biaya perjalanan sekaligus menghindari kemacetan," tuturnya.

Karena itu, ia berharap proses pembangunan BRT dapat dituntaskan dengan perencanaan yang matang, sehingga tidak hanya menghadirkan sarana transportasi baru. Di sisi lain, Juniarso menegaskan, pengembangan BRT bukan berarti menghilangkan keberadaan angkot yang selama ini menjadi salah satu moda transportasi masyarakat.

Menurutnya, angkot justru dapat diarahkan untuk menjalankan fungsi sebagai feeder atau angkutan pengumpan yang menghubungkan kawasan permukiman dengan koridor maupun halte BRT. Dengan pola tersebut, angkot bisa melayani wilayah perumahan dan permukiman yang belum terjangkau langsung oleh jaringan BRT.

"Bukan berarti angkot dihilangkan. Angkot tetap bisa beroperasi, tetapi diarahkan menjadi feeder, terutama untuk melayani kawasan perumahan dan permukiman yang belum terjangkau BRT," tegasnya.

Ia juga menyebutkan, pembenahan terhadap angkot mulai dilakukan sehingga keberadaannya diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan sistem transportasi yang lebih terintegrasi. Integrasi antara BRT dan angkot dinilai penting agar masyarakat memiliki pilihan perjalanan yang lebih mudah, teratur, dan efisien.

Dengan demikian, setiap moda transportasi dapat menjalankan fungsi sesuai kebutuhan wilayah dan karakteristik pelayanannya. Juniarso berharap, pengembangan BRT yang dibarengi penataan angkot mampu mendorong terciptanya sistem transportasi publik yang lebih tertib dan nyaman.

"Harapannya, transportasi di Kota Bandung semakin tertib dan nyaman. Kalau penataannya dilakukan secara berkesinambungan, bukan hanya lalu lintas yang membaik, tetapi wajah kota juga akan semakin tertata," pungkasnya.



(ral/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads