Masih ingat dengan nasib ratusan siswa SMPN 60 Bandung? Setelah sempat menumpang di SDN 192 Ciburuy untuk aktivitas belajar, mereka kini punya gedung baru yang berlokasi di Jalan Murdasan, Wates, Kecamatan Bandung Kidul.
Aktivitas belajar pun telah berlangsung normal sejak awal tahun 2026. Keceriaan tentu menyelimuti siswa SMPN 60 Bandung yang tidak harus menumpang belajar atau bahkan duduk lesehan di bawah pohon rindang beralaskan terpal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, gedung baru SMPN 60 Bandung menghadapi kendala status lahan. Lokasi gedung tersebut diketahui berada di kawasan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) yang memerlukan penyelesaian administrasi segera.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Asep Gufron mengatakan, pembelajaran ratusan siswa di SMPN 60 Bandung kini sudah berjalan dengan normal. Pemkot Bandung pun sedang mengupayakan agar urusan administrasi lahan di sana bisa segera diselesaikan.
"Jadi gini, sekarang kan itu dibangun, udah dua tahap. Tahap pertama tahun kemarin, sekarang dibangun lagi. Jadi dulu numpang, sekarang udah pindah. Udah dipakai setahun ini untuk belajar," katanya, Kamis (22/10/2026).
Siswa SMPN 60 Bandung saat itu sempat mengalami kondisi yang memilukan. Mereka terpaksa belajar di teras sekolah dan di bawah pohon rindang karena menumpang di SDN 192 Ciburuy, Regol, Kota Bandung.
Sampai kemudian, aktivitas belajar siswa SMPN 60 Bandung tahun lalu membaik. Mereka dapat menggunakan kelas SDN 192 Ciburuy dengan sistem belajar siang hari.
Hingga kemudian, Pemkot Bandung memutuskan membangun gedung baru SMPN 60 di Jalan Murdasan, Wates, Kecamatan Bandung Kidul. Anggaran pembangunan saat itu disiapkan sebesar Rp 9,6 miliar.
Akhirnya, pada awal 2026, gedung baru SMPN 60 Bandung telah rampung dan bisa digunakan untuk aktivitas belajar. Tahun ini, Pemkot Bandung berencana mengerjakan kembali proyek pembangunan tahap 2 dengan anggaran Rp 3,8 miliar.
Terkait status lahan, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan angkat bicara. Ia memastikan Pemkot sedang mengurus lahan tersebut dengan BPN agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
"Sekarang namanya LP2B (Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan). Nah ini kami sedang melakukan, istilahnya verifikasi dan pengusulan mengenai LP2B," katanya di Pendopo Kota Bandung.
"LP2B itu kan prosesnya dari BPN datang ke Kota Bandung, Kota Bandung menganalisis atau mengajukan usulan kembali. Nah, ini bolak-baliknya ini belum selesai. Dari pada nunggu itu lama, bisa anak-anak enggak sekolah, sekolah aja dulu," tambahnya.
Farhan menegaskan Pemkot Bandung bakal segera menyelesaikan masalah tersebut. Menurutnya, yang paling penting adalah siswa di sana dapat belajar dengan nyaman tanpa dibayangi kekhawatiran.
"Yang namanya urusan status agraria itu tidak pernah sederhana. Tapi kami bersedia menjalani proses yang tidak sederhana ini agar mendapatkan kepastian. Sampai hari ini kita kan sering mengalami konflik-konflik agraria karena dari awal kita mengabaikan proses-proses administrasi status agraria ini. Maka belajar dari kesalahan yang lama, kita tidak mau lagi mengabaikan proses administrasi agraria dan administrasi. Jadi penting belajar dulu, prosesnya nanti berjalan," pungkasnya.
(iqk/iqk)
