Mahasiswa ITB Kembangkan AI untuk Pabrik hingga Truk Pendingin

Mahasiswa ITB Kembangkan AI untuk Pabrik hingga Truk Pendingin

Bima Bagaskara - detikJabar
Selasa, 20 Okt 2026 19:36 WIB
Mahasiswa ITB saat bikin inovasi berbasis AI
Mahasiswa ITB saat bikin inovasi berbasis AI (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)
Bandung -

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin mudah diakses. Namun, sekadar mampu menggunakannya belum cukup untuk menjawab kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa dituntut memiliki kemampuan komputasi, berpikir kritis, serta keterampilan teknis untuk mengubah teknologi menjadi solusi nyata.

Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) membuktikan hal tersebut dengan mengembangkan proyek berbasis AI untuk menjawab persoalan dunia nyata. Ketiga proyek ini dipresentasikan oleh Izhar Alif Akbar, Tsabita Khoirunnisa, dan Muhammad Taufiq Al Fikri.

Izhar Alif Akbar dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB mengembangkan REBA.ai, sistem berbasis computer vision yang memanfaatkan rekaman CCTV untuk memantau risiko ergonomi pekerja di pabrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, Tsabita Khoirunnisa menciptakan ColdTrack AI, sistem pemantauan prediktif untuk mendeteksi gangguan suhu pada truk berpendingin agar kualitas muatan tetap terjaga.

ADVERTISEMENT

Adapun Muhammad Taufiq Al Fikri mengembangkan RecycledFiberAI, teknologi computer vision untuk mendeteksi kontaminan seperti plastik dan logam dalam proses daur ulang kertas secara real-time.

Mahasiswa Perlu Pengalaman Membangun AI

Country Consumer Business Lead Indonesia NVIDIA, Adrian Lesmono, mengatakan kolaborasi dengan ITB dirancang untuk membantu mahasiswa mempersiapkan diri memasuki dunia industri melalui pendampingan dan praktik kerja.

"Kita bakal membangun kerja sama NVIDIA dengan ITB. Jadi semacam mentoring, mini internship. Itu program itu intention-nya untuk melatih mereka, jadi mereka tuh lebih siap masuk ke industri. Jadi itu akan kita bantu mereka juga, kita arahin, ajarin, kasih kesempatan untuk join, bekerja secara skala kecil ya, selama mereka mahasiswa," ujarnya, Selasa (20/10/2026).

Menurut Adrian, program ini masih dalam tahap uji coba. Namun, kualitas proyek yang dikembangkan membuka peluang agar inisiatif tersebut berlanjut dalam jangka panjang.

"Kalau program berhasil dan kita bisa mengeksplor lebih lanjut, kita juga mungkin berencana untuk meng-extend inisiatif ini buat long term. Jadi sekarang ini masih tahap pilot project," tuturnya.

Ia menilai, pertemuan antara talenta mahasiswa dan proyek yang memiliki penerapan nyata menjadi alasan kuat untuk mengeksplorasi kelanjutan program tersebut.

"Jadi yang pertama kali dan so far kita merasa ini potensi besar sekali karena ketemu talenta yang bagus dan real project juga. Jadi kita juga buat masuk ke yang long term-nya lebih pede. Jadi kira-kira rencana saat ini seperti itu dulu," katanya.

Kesempatan Menjadi AI Builder Makin Luas

Adrian menegaskan, menjadi pengembang solusi AI atau AI builder tidak terbatas pada mahasiswa dengan perangkat mahal. Kemudahan akses terhadap berbagai model AI membuka peluang bagi siapa saja untuk bereksperimen.

"Jadi kita melihat dari level SMA atau mahasiswa ya, itu semua berpotensi jadi AI builder, semuanya. Kenapa? Karena pertama AI itu sama rata semuanya. Kita membuka pintu AI itu memberikan kesempatan yang sama untuk everyone," katanya.

Ia menekankan bahwa keterbatasan perangkat bukan penghalang. Berbagai layanan gratis dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal sebelum beranjak ke pengembangan yang lebih kompleks.

"Jadi nggak cuma orang yang bisa punya akses ke AI itu hanya orang yang beruang saja, nggak juga. Karena sekarang kalau nggak punya device yang mahal pun bisa pakai AI yang gratis dulu," ungkapnya.

Bagi Adrian, potensi pengembangan AI di Indonesia sangat luas. Siapa pun yang memiliki ketertarikan untuk membangun solusi berbasis AI berpeluang memulai proses tersebut.

"Jadi artinya potensi AI builder itu sama seperti jumlah mahasiswa dan anak-anak yang tertarik untuk building AI solution. Jadi boleh dibilang ya kita hitung aja berapa ya ada di Indonesia itu 200 juta orang dan that's the number of potential of AI builder di Indonesia," ucapnya.

Dorong Pemanfaatan AI yang Kritis dan Bertanggung Jawab

Plt Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Edwan Kardena, menyampaikan bahwa perkembangan AI yang pesat telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan.

"Kehadiran AI merupakan perkembangan yang tidak dapat dihindari, baik oleh mahasiswa maupun dosen. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu beradaptasi agar teknologi tersebut dapat mendukung proses pembelajaran tanpa mengurangi kemampuan berpikir kritis mahasiswa," ujar Edwan.

Ia menekankan pentingnya kesadaran dalam proses belajar serta pengembangan keterampilan nonteknis, seperti komunikasi, kerja sama tim, dan kemampuan berbahasa.

Di sisi lain, perkembangan AI menuntut dosen untuk menyesuaikan metode pengajaran. Proses pembelajaran diharapkan tidak sekadar berorientasi pada hasil akhir, tetapi mampu mendorong mahasiswa memahami persoalan dan menemukan solusi secara mandiri.

"Sebagai bagian dari upaya tersebut, ITB tengah menyusun regulasi internal terkait penggunaan AI di lingkungan kampus. Langkah ini dilakukan agar pemanfaatan teknologi AI dapat berlangsung secara bijaksana, merata, dan optimal untuk mendukung pendidikan maupun penelitian," katanya.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads