Bayangkan sebuah dunia di mana akhir pekan dimulai lebih awal, dan beban mencari nafkah tak lagi menguras seluruh energi dalam sepekan. Bagi Jeff Bezos, pendiri Amazon sekaligus salah satu tokoh paling berpengaruh di jagat teknologi, gambaran ini bukan sekadar angan-angan. Di tengah pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) pada tahun 2026 ini, Bezos meyakini bahwa lonjakan produktivitas akan mengubah total ritme hidup manusia.
Dalam sebuah perbincangan dengan Fox News yang dikutip dari detikINET, Bezos memaparkan bagaimana efisiensi yang dibawa AI dapat memangkas waktu kerja secara drastis tanpa mengurangi kesejahteraan.
"Sebagian orang akan memutuskan, 'Saya bisa menghidupi keluarga saya dengan bekerja tiga hari seminggu.' Itulah makna produktivitas dalam perekonomian," ujar Bezos.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Visi ini membawa angin segar bagi konsep rumah tangga modern. Jika selama ini banyak keluarga merasa wajib memiliki dua pencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup, AI diprediksi akan memberikan pilihan yang lebih luwes. Menurut Bezos, peningkatan produktivitas ini memungkinkan satu orang saja yang bekerja, sementara pasangannya memiliki keleluasaan untuk fokus pada hal lain.
"Anda tidak lagi harus memiliki rumah tangga dengan dua pencari nafkah. Jika Anda tetap menginginkannya, silakan. Namun jika tidak, salah satu dari kalian bisa berhenti," sebutnya.
Menariknya, Bezos justru melihat tantangan masa depan dari sudut pandang yang berbeda. Di saat banyak pihak mencemaskan gelombang pengangguran massal akibat otomatisasi, ia justru memprediksi dunia akan menghadapi kelangkaan tenaga kerja. Baginya, ketika ekonomi menjadi sangat produktif, orang-orang akan memiliki standar hidup yang tercukupi dengan usaha yang lebih sedikit, sehingga mereka tidak lagi merasa perlu mengejar jam kerja yang panjang.
"Akan sulit merekrut orang, karena produktivitas ekonomi akan menciptakan kondisi di mana jika orang tak ingin merangkap dua pekerjaan, mereka tak perlu melakukannya," cetusnya.
Optimisme ini bukan sekadar teori di atas kertas. Melalui Prometheus, perusahaan rintisan AI yang ia nakhodai sebagai co-CEO, Bezos sedang berupaya menciptakan artificial general engineer atau insinyur umum buatan. Tujuannya ambisius: mendemokratisasi keahlian teknik sehingga siapa pun bisa mewujudkan ide menjadi produk fisik tanpa hambatan teknis yang rumit.
"Kami akan membuat perangkat yang sangat mudah digunakan sehingga siapa pun akan bisa menjadi seorang insinyur," ujarnya.
Namun, narasi cerah ini bukannya tanpa catatan. Langkah Amazon yang memangkas sekitar 30.000 posisi korporat dalam setahun terakhir sempat memicu tanda tanya besar. Menanggapi hal tersebut, Bezos berdalih bahwa efisiensi tersebut merupakan konsekuensi dari ekspansi dan perekrutan yang terlalu agresif saat masa pandemi lalu, bukan semata-mata karena tekanan AI.
Hingga Oktober 2026, posisi Bezos di puncak rantai ekonomi dunia tetap tak tergoyahkan. Forbes mencatat kekayaan bersihnya menyentuh angka US$380,8 miliar, menempatkannya sebagai orang terkaya kedua di dunia, tepat di bawah bayang-bayang CEO Tesla, Elon Musk.
Pandangan Bezos tentang masa depan kerja yang lebih singkat ini nyatanya diamini oleh banyak raksasa teknologi lainnya. Jensen Huang dari Nvidia melihat potensi empat hari kerja seminggu, sementara Jamie Dimon dari JPMorgan Chase memprediksi angka tiga setengah hari. Bahkan, Bill Gates melangkah lebih jauh dengan membayangkan dunia di mana manusia hanya perlu bekerja dua hari dalam seminggu.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan mengubah cara kita bekerja, melainkan seberapa cepat kita siap beradaptasi dengan waktu luang yang lebih banyak dan struktur ekonomi yang baru.
Artikel ini sudah tayang di detikInet
