OpenAI menghadapi gugatan hukum dari delapan negara bagian Amerika Serikat (AS). Mereka menuduh perusahaan pengembang ChatGPT itu membahayakan anak-anak dan menyesatkan pengguna mengenai keamanan layanan kecerdasan buatan (AI) tersebut.
Gugatan itu diajukan secara terpisah oleh Iowa, Kansas, Nebraska, West Virginia, Arkansas, Arizona, Idaho, dan Montana. Kedelapan negara bagian menuding OpenAI lebih mengutamakan keuntungan bisnis daripada keselamatan pengguna dalam mengembangkan ChatGPT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"OpenAI telah menyimpang dari misi awalnya sebagai organisasi nirlaba yang mengutamakan kepentingan dan keselamatan publik, menjadi peringatan tentang apa yang bisa terjadi ketika pengembangan teknologi secanggih AI tidak didorong oleh prinsip keselamatan, melainkan pola pikir yang mengejar keuntungan dengan cara apapun yang mengesampingkan perlindungan yang penting," tulis gugatan dari negara bagian Arizona, seperti dikutip dari The Verge, Jumat (16/10/2026).
OpenAI Dituding Menyesatkan Pengguna soal Keamanan ChatGPT
Kedelapan negara bagian menilai OpenAI melanggar undang-undang perlindungan konsumen setempat karena tidak memperingatkan masyarakat tentang potensi bahaya ChatGPT.
Mereka juga menuduh perusahaan itu sengaja menggambarkan ChatGPT sebagai layanan yang aman dan cocok untuk anak muda, tanpa memberikan perlindungan yang memadai.
Dalam gugatan tersebut, ChatGPT dikaitkan dengan sejumlah risiko, mulai dari melemahnya kemampuan berpikir kritis hingga munculnya paranoia dan delusi. Layanan AI itu juga dituduh memberikan saran medis berbahaya serta mendorong perilaku dan hubungan yang tidak sehat.
Para penggugat turut menyoroti sejumlah kasus ketika ChatGPT diduga berperan dalam kematian pengguna remaja akibat bunuh diri. Mereka juga menyinggung insiden ketika pengguna menerima informasi yang tidak tepat hingga mengalami overdosis.
Kasus-kasus tersebut sebelumnya telah memicu gugatan hukum terpisah terhadap OpenAI.
Soroti Data Anak dan Perlindungan Pengguna
Selain persoalan keamanan, delapan negara bagian AS itu menuduh OpenAI mengumpulkan data dari pengguna di bawah umur. Mereka menilai perusahaan tersebut juga belum mengambil langkah yang cukup untuk mencegah penyalahgunaan ChatGPT oleh pengguna.
Gugatan itu turut merujuk pada insiden peretasan yang melibatkan agen AI. Para penggugat menjadikan insiden tersebut sebagai salah satu bukti yang, menurut mereka, menunjukkan kelalaian OpenAI dalam mengelola risiko teknologi AI.
Respons OpenAI atas Gugatan Delapan Negara Bagian
Juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, mengatakan perusahaan telah mengembangkan perlindungan khusus berdasarkan usia pengguna di dalam sistem ChatGPT.
"Meskipun tidak ada sistem yang sempurna, kami terus bekerja sama dengan para ahli untuk memberi masukan bagi upaya kami dan membangun perlindungan tambahan, seperti kontrol orang tua, pengingat istirahat, dan perlindungan berbasis model sesuai usai yang sudah tersedia saat ini," kata juru bicara OpenAI.
Ia menegaskan, OpenAI juga ingin bekerja sama dengan pemerintah negara bagian untuk mendorong kebijakan AI yang berlaku bagi seluruh industri.
"Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan berbagai negara bagian dalam memajukan kebijakan AI yang pragmatis yang berlaku bagi seluruh industri AI-bukan hanya untuk satu perusahaan saja," sambungnya.
Penggugat Minta Ganti Rugi dan Penghapusan Data
Dalam gugatan tersebut, delapan negara bagian meminta pengadilan memerintahkan OpenAI membayar ganti rugi dan menghentikan praktik yang mereka nilai menyesatkan publik mengenai keamanan ChatGPT.
Beberapa negara bagian juga meminta pengadilan memerintahkan penghapusan data pribadi yang diduga dikumpulkan secara tidak sah.
Gugatan-gugatan itu menambah tekanan hukum terhadap OpenAI terkait keamanan ChatGPT, terutama menyangkut perlindungan anak, privasi pengguna, dan risiko penggunaan teknologi AI.
Baca berita selengkapnya di detikINET.
(vmp/sud)
