Di atas sebidang tanah di Kampung Babakan Bandung, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, bau arang sisa amukan api sebulan lalu perlahan pudar.
Pada Kamis (23/7/2026) malam, tragedi kebakaran maut meratakan rumah panggung kayu milik Nia Kurniasih (59) dan merenggut nyawa tiga cucunya yang tertidur lelap, Aljenar (SD), Saka (PAUD), dan Shakila (balita).
Kini, air mata duka sang nenek berganti haru. Di atas puing kelam itu, sebuah rumah permanen bercat bersih berdiri tegak. Bantuan hunian layak huni tersebut diresmikan dan diserahkan langsung kepada Mak Nia pada Sabtu (22/8/2026) sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kala itu, hadir di lokasi, Pendiri Komunitas Sosial Bagong Mogok Irjen Pol Asep Guntur Rahayu bersama Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi, AKBP Rossa Purbo Bekti, serta jajaran Polsek Nyalindung.
Pembangunan rumah Mak Nia menjadi salah satu potret nyata dari sinergi kemanusiaan yang digerakkan Komunitas Bagong Mogok bersama jajaran kepolisian dan warga di tatar Sukabumi.
"Pembangunan rumah layak huni ini bukan dari saya pribadi, melainkan dari donasi para dermawan yang dihimpun melalui Komunitas Sosial Bagong Mogok untuk kegiatan sosial," ungkap Asep Guntur saat menyerahkan kunci hunian.
Sentuhan Kemanusiaan di Titik Kritis
Sinergi Bagong Mogok di Sukabumi bukan sekadar hadir saat gunting pita seremonial. Di bawah komando AKBP Benny Cahyadi, kepolisian menanggalkan batas protokoler dan terjun langsung ke medan-medan darurat yang minim sorotan.
Potret itu terekam jelas di Kampung Cipulus, Desa Cibodas, Palabuhanratu. Pascamusibah kebakaran yang merenggut nyawa seorang ibu dan melukai anak balitanya, tim langsung bergerak, mendatangi bangsal perawatan rumah sakit, menghibur sang bocah dengan mainan mobil polisi, hingga mendirikan kembali rumah tembok permanen yang kokoh bagi keluarga korban.
Aksi tanggap serupa terjadi di lereng Kampung Cigadog, Desa Kertajaya, Simpenan. Usai si jago merah melalap tujuh rumah warga, rombongan kepolisian menyusuri reruntuhan bata yang hangus.
Di sana, canda tawa hangat sempat pecah saat AKBP Benny bersama Ketua Bhayangkari berdialog dengan Mak Mae, seorang lansia korban kebakaran yang secara polos meminta kompor gas dan bahan pangan.
Permintaan sederhana itu dijawab tuntas: tak hanya sembako, rumah tembok baru untuk Mak Mae pun langsung dibangun secara gotong royong.
Drama Duka Mak Yatmi dan Senyum Mak Kaesih
Namun, kerja-kerja kemanusiaan di lapangan tak selalu berakhir dengan senyum penerima. Di pelosok Simpenan, tim relawan dan personel Dokkes Polres Sukabumi sempat mengevakuasi Mak Yatmi, seorang lansia pemulung yang tinggal bersama suaminya, Abah Koko, yang menderita tunanetra di gubuk lapuk tak layak huni.
Saat rumahnya mulai dibongkar untuk dibedah, kondisi kesehatan Mak Yatmi merosot drastis. Petugas Dokkes bahkan harus berjalan kaki menembus medan terjal dan menyeberangi jembatan kayu reyot saat ambulans tak mampu melintas.
Takdir berkata lain. Mak Yatmi berpulang ke haribaan Ilahi sebelum sempat mencicipi rumah tembok bercat kuning yang telah rampung dibangun. Agar asas manfaatnya tak terputus, hunian tersebut kemudian dialihkan kepada Pak Ajudin, seorang buruh serabutan prasejahtera dengan dua balita dan istri yang tengah mengalami gangguan kejiwaan.
Sentuhan cepat juga menyasar Mak Kaesih (70), lansia sebatang kara yang saban hari menatap atap biliknya yang bolong menganga dan menunjukkan wadah berasnya yang kosong melompong. Polisi wanita bersama relawan datang merenovasi total kediamannya sekaligus menjamin suplai kebutuhan pangan rutinnya.
Menyelamatkan Ruang Kelas Roboh di Ciemas
Jangkauan aksi kolaborasi ini kian meluas saat menyentuh sektor pendidikan. Di pelosok selatan, tepatnya di SDN Bihbul, Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, pergerakan tanah sempat meruntuhkan plafon dan meremukkan atap ruang kelas. Para siswa sempat membuat video permohonan bantuan karena harus berdesakan belajar dalam rasa waswas atap ambruk.
Merespons video anak-anak tersebut, AKBP Benny Cahyadi bersama relawan langsung bertolak ke lokasi. Selain mentraktir jajanan dan memompa semangat para murid di halaman sekolah, tim bergerak cepat merombak konstruksi bangunan.
Rangka kayu lapuk diturunkan dan diganti total menggunakan rangka baja ringan galvalum baru yang kokoh.
Melalui semangat pantang menyerah "Satekah Polah Ngabela nu Susah", deretan puing musibah di berbagai pelosok Sukabumi perlahan disulap menjadi dinding-dinding asa baru. Sebuah bukti bahwa ketika empati aparat, kerelawanan warga, dan kepercayaan publik menyatu, kepedulian sosial tak perlu menunggu sekat birokrasi yang berbelit.
(sya/sud)
