Penyebab Keracunan MBG 212 Siswa-Guru di Sukabumi

Penyebab Keracunan MBG 212 Siswa-Guru di Sukabumi

Siti Fatimah - detikJabar
Minggu, 18 Okt 2026 18:56 WIB
ilustrasi keracunan
Ilustrasi keracunan (Foto: Dok.Detikcom)
Sukabumi -

Penyelidikan kasus dugaan keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 212 siswa dan guru di SMKN 1 Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, mengungkap fakta baru yang mengejutkan. Kejadian yang sempat ditutupi ini ternyata disebabkan oleh olahan dimsum mentai yang tidak matang hingga ditemukannya kontaminasi bakteri pada peralatan dapur.

Laporan kejadian yang berlangsung pada Jumat (2/10/2026) tersebut baru diterima oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi dari Puskesmas Gunungguruh dan Cibolang pada Rabu (7/10/2026). Jeda waktu lima hari ini membuat sampel makanan sisa di sekolah maupun bank sampel di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunungguruh Cikujang 1 tidak bisa diperiksa laboratorium karena batas penyimpanan sampel maksimal 2x24 jam.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi menjelaskan, bahwa terungkapnya penyebab keracunan ini berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi dengan metode wawancara dan observasi kepada para penderita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi melalui wawancara dan observasi pada penderita, didapatkan keterangan bahwa menu dimsum mentai dan kentang (potato wedges) memiliki kondisi tidak matang, berbau, rasa asam, dan berlendir," kata Masykur Alawi kepada detikJabar, Minggu (18/10/2026).

Masykur merincikan, dari total 212 kasus bergejala, sebanyak 5 orang sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Mayoritas korban mengalami keluhan pencernaan yang parah.

ADVERTISEMENT

"Dari 212 kasus bergejala, sebanyak 204 kasus (96,23%) merasakan gejala sakit perut, 184 kasus (86,79%) mengalami diare, dan 159 kasus (75%) merasakan perut melilit. Saat ini seluruh korban bergejala dipastikan sudah sembuh," jelasnya.

Tak hanya menemukan makanan olahan yang tidak layak konsumsi, tim investigasi Dinkes yang melakukan uji laboratorium terhadap sampel lingkungan menemukan fakta mengejutkan terkait sanitasi dapur pengolah makanan di SPPG Gunungguruh Cikujang 1.

Air bersih sumur yang digunakan untuk mencuci alat makan di dapur SPPG terbukti mengandung bakteri E.coli hingga +100. Akibatnya, alat makan yang digunakan juga ikut tercemar bakteri E.coli melebihi Baku Mutu Kesehatan Lingkungan (NAB = 0), yakni pada pisau (+17), talenan (+18), dan ompreng (+111).

"Di SPPG ditemukan fasilitas pemanas air (water heater) untuk cuci alat makan dalam kondisi tidak berfungsi dan tidak ada alat sterilisasi. Selain itu, dari 50 penjamah makanan, baru 20 orang yang memiliki sertifikat Pelatihan Keamanan Pangan (PKP)," ungkap Masykur.

Atas temuan tersebut, Dinkes Kabupaten Sukabumi menerbitkan rekomendasi tegas, termasuk melarang penggunaan air sumur untuk kegiatan pengolahan makanan di SPPG dan mewajibkan penggunaan air galon isi ulang teruji laboratorium, perbaikan fasilitas sanitasi dan sterilisasi, serta evaluasi total terhadap kepatuhan SOP pengolahan makanan.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads