Menghadapi king kobra bukan perkara mudah. Salah memperhitungkan gerakan atau posisi ular berbisa itu bisa berakibat fatal bagi petugas yang melakukan evakuasi. Karena itu, keterampilan, peralatan, dan alat pelindung diri (APD) menjadi bekal penting bagi petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Ciamis saat menerima laporan ular masuk ke rumah warga.
Di balik keberhasilan mengevakuasi ular, para petugas ternyata banyak mengandalkan pengalaman lapangan dan belajar secara otodidak. Mereka memanfaatkan berbagai sumber pengetahuan, termasuk tutorial di YouTube, hingga mendapat kesempatan belajar dari praktisi yang dikenal luas, seperti Heri Si Gundul dan Panji Petualang.
Danru 2 Mako UPTD Damkar Ciamis Andi Kuswandi mengatakan, dirinya telah bergabung dengan Damkar Ciamis sejak 2009. Selama bertugas, ia bersama rekan-rekannya terus mengembangkan kemampuan menangani ular, termasuk jenis berbisa seperti king kobra.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama ini kami banyak belajar secara otodidak. Kami mencari pengetahuan dari berbagai sumber, termasuk tutorial di YouTube. Kami juga pernah mendapat pengetahuan dari praktisi seperti Panji Petualang," ujar Andi.
Menurutnya, pengalaman langsung di lapangan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kemampuan petugas. Mereka harus memahami karakter ular, memperhatikan posisi satwa, serta menentukan teknik yang tepat agar proses evakuasi berjalan aman.
Andi mengenang, Heri Si Gundul dan Panji Petualang pernah datang ke Ciamis. Saat itu, mereka membawa sejumlah ular, yakni lima ekor ular sanca dan satu ekor kobra. Ular-ular tersebut berada di damkar selama sekitar satu minggu.
"Ular itu biasanya keluar untuk mencari makan, kemudian kembali ke tempat asalnya. Kalau musim hujan besar, ular juga bisa keluar karena lubang atau tempat persembunyiannya terisi air," katanya, belum lama ini.
Permintaan bantuan untuk mengevakuasi ular di Ciamis mulai banyak diterima ketika penggunaan internet dan telepon pintar semakin meluas, sekitar 2015 hingga 2016. Warga yang menemukan ular di rumah atau lingkungan permukiman mulai menghubungi Damkar untuk meminta pertolongan.
Bagi Andi, laporan seperti itu merupakan bagian dari pelayanan kepada masyarakat. Petugas berupaya merespons laporan warga, termasuk ketika harus berhadapan dengan ular yang berpotensi membahayakan keselamatan.
"Bagi kami, yang penting pelayanan. Kalau ada laporan ular, kami berusaha membantu warga. Biasanya pelapor diminta memantau dari jarak aman supaya posisi terakhir ular bisa diketahui," tuturnya.
Dalam proses pelaporan, warga diminta menjelaskan lokasi penemuan, posisi ular, serta ciri-cirinya. Jika memungkinkan, pelapor diminta tetap memantau keberadaan ular dari tempat aman agar petugas lebih mudah menemukan sasaran ketika tiba di lokasi.
"Warga bisa menghubungi Damkar, menjelaskan lokasinya di mana, ular jenis apa, dan seperti apa ciri-cirinya. Kalau posisinya masih diketahui, petugas bisa langsung mencari dan melakukan evakuasi," jelas Andi.
Ia menegaskan, petugas tidak berorientasi pada biaya alias gratis ketika memberikan bantuan evakuasi ular. Prioritas utamanya adalah memastikan warga aman dan ular dapat ditangani dengan tepat.
Kreativitas Petugas Membuat Alat Evakuasi
Selain keterampilan, peralatan juga menjadi penunjang penting dalam proses evakuasi. Andi menyebut, peralatan Damkar Ciamis yang digunakan untuk menangani ular sejauh ini masih layak digunakan. Petugas juga mengembangkan alat secara mandiri sesuai kebutuhan di lapangan, salah satunya alat yang disebut laso, yakni tongkat yang dilengkapi tali sehingga dapat mengunci ular dari jauh tanpa harus kontak langsung.
Petugas turut menggunakan alat pelindung diri, seperti sarung tangan dan helm penyelamatan (rescue helmet). Untuk menghadapi kobra Jawa yang dapat menyemburkan bisa, pelindung kepala yang dilengkapi kacamata menjadi salah satu perlengkapan yang digunakan.
"Alhamdulillah, peralatan yang ada masih bisa digunakan. Kami juga membuat alat sendiri sesuai kebutuhan, bagaimana caranya ular bisa dievakuasi dengan aman dan keselamatan petugas tetap diutamakan," ungkapnya.
Meski demikian, kondisi perlengkapan tetap menjadi perhatian. Andi mengatakan, sarung tangan terkadang mengalami kerusakan. Dalam kondisi tertentu, anggota bahkan membeli sarung tangan sendiri untuk menunjang pekerjaan.
"Kadang sarung tangan dari pengadaan sudah rusak. Ada anggota yang membeli sendiri. Kebanyakan kami juga berkreasi membuat alat agar proses evakuasi bisa dilakukan dengan aman," katanya.
Ukuran ular dan lokasi persembunyiannya turut menentukan lamanya proses evakuasi. Jika ular berada di lantai atau sudut ruangan yang mudah dijangkau, penanganan bisa selesai dalam waktu kurang dari 30 menit.
Namun, apabila ular bersembunyi di atap rumah atau tempat yang sulit dijangkau, petugas membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan dan mengamankannya. Proses tersebut bisa berlangsung sekitar satu jam.
Andi menyebut, ular king kobra terpanjang yang pernah dievakuasi petugas Damkar Ciamis mencapai sekitar 4,5 meter.
"Kalau posisi ular ada di bawah atau di pojok ruangan, biasanya tidak sampai setengah jam. Tetapi kalau di atap rumah, kami harus mencari dan memperhitungkan pergerakannya. Itu bisa sampai satu jam," pungkasnya.
