Tekan Kecelakaan, KAI Akan Tutup Permanen Perlintasan Liar Ciroyom

Kota Bandung

Tekan Kecelakaan, KAI Akan Tutup Permanen Perlintasan Liar Ciroyom

Wisma Putra - detikJabar
Kamis, 15 Okt 2026 13:36 WIB
Perlintasan kereta di kawasan Ciroyom, Kota Bandung.
Perlintasan kereta di kawasan Ciroyom, Kota Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

PT KAI kembali mengambil langkah tegas untuk menekan angka kecelakaan di perlintasan sebidang. Kali ini, fokus penutupan menyasar perlintasan liar di bawah Flyover Ciroyom, Kota Bandung, yang sebelumnya sempat dibuka paksa oleh warga.

Langkah ini diambil sebagai upaya preventif demi menjamin keselamatan perjalanan kereta api (KA) sekaligus pengguna jalan. Belajar dari insiden menonjol di wilayah Bekasi beberapa waktu lalu, PT KAI kini semakin gencar menutup akses perlintasan yang tidak dilengkapi palang pintu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa pihaknya telah menutup banyak perlintasan liar di wilayah Daop 2 Bandung. Untuk perlintasan di bawah Flyover Ciroyom, penutupan kali ini bersifat final.

"Jadi kita akan tutup permanen, targetnya bulan ini," kata Anne di Bandung, Kamis (15/10/2026).

ADVERTISEMENT

Anne memaparkan data terkini terkait perlintasan di wilayah operasionalnya. Saat ini, terdapat 141 perlintasan yang terjaga dan 154 perlintasan yang belum terjaga.

"Dan yang akan kita lanjut di 2026, itu ada 80 dan 62-nya sudah ditindaklanjuti," ujarnya.

Meski PT KAI telah menutup 172 perlintasan liar, tantangan di lapangan masih cukup besar karena perlintasan serupa kerap muncul kembali. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat peningkatan kecepatan operasional kereta api.

"Jadi, ada beberapa hal concern terkait dengan perlintasan ini karena kecepatan kereta saat ini sudah mencapai 120 km/jam. Kemudian, kita melihat bahwa ini sangat berbahaya untuk yang melakukan pelanggaran. Jadi, ini adalah gambaran dari perlintasan yang ada di Jawa Barat," ungkapnya.

Berdasarkan data KAI, perlintasan terjaga saat ini terdiri dari 93 titik yang dikelola KAI, 23 titik oleh Pemda, dan 25 titik swadaya masyarakat. Pihaknya terus melakukan survei untuk menentukan langkah selanjutnya, apakah perlintasan tersebut harus ditutup atau dilengkapi dengan petugas dan palang pintu.

"Tidak terjaga itu 154, ini PR kita dan ini yang tadi disurvei itu, apakah dia harus ditutup atau disiapkan penjaga dan juga palang pintu. Tetapi, di antara 80, sudah 63 itu ada tindak lanjut dari KAI, ada yang disiapkan petugasnya, palang pintunya disiapkan, dan ada juga yang ditutup," terangnya.

Menjelang akhir tahun, Anne berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya keselamatan di perlintasan sebidang. Mengingat frekuensi perjalanan kereta yang diprediksi meningkat, standar keamanan di setiap perlintasan menjadi prioritas utama.

"Kami berharap sosialisasi keselamatan perlintasan ini terus kita gaungkan, karena frekuensi perjalanan kereta, apalagi menuju tahun baru, ini bisa saja bertambah. Jadi, mudah-mudahan ini kita bisa antisipasi dan semakin banyak perlintasan yang resmi ya, sehingga ada standar pelayanan, baik itu di perlintasan juga petugas," pungkasnya.

(wip/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads