Tidak hanya di area permukiman warga, Petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Kuningan juga pernah menangani ular kobra yang masuk ke area objek wisata. Tak hanya satu, tapi ada empat ular kobra berukuran besar yang sedang kawin di temukan di area wisata tersebut.
Kepala UPT Pemadam Kebakaran Kuningan, Andri Arga Kusuma, memaparkan bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar awal bulan Oktober 2026 sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 WIB di objek wisata Curug Bangkong, Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan.
Kala itu, petugas damkar mendapatkan laporan dari pengelola wisata tentang adanya empat ekor kobra dengan panjang 5 meter sedang bereproduksi atau kawin di area fasilitas tempat wisata dekat Curug Bangkong. Dalam video yang juga beredar di media sosial terlihat beberapa ekor kobra sedang berdiri dan melakukan aktivitas reproduksi di dekat area jalan menuju Curug Bangkong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu di Curug Bangkong, Nusaherang. Tuh itu lagi kawin itu, videonya juga ada, ada empat ekor malahan. Berpasang-pasangan sampai, kan ngeri kan berdiri gitu kan kayak lagi nari gitu kan. Itu panjangnya 5 meteran," tutur Arga.
Karena kondisi ular yang sedang berdiri dan berukuran besar, petugas wisata langsung melaporkan kejadian tersebut kepada warga sekitar kemudian diteruskan pada Pemadam Kebakaran Kuningan. Mendapat laporan dari pengelola wisata dan warga setempat, petugas langsung meluncur ke lokasi kejadian.
Namun, sesampainya di lokasi, proses evakuasi berjalan dramatis akibat akses jalan yang terbatas yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Menurut Arga, untuk sampai ke area Curug Bangkong di mana tempat ular tersebut berada, petugas harus berjalan kaki terlebih dahulu dengan panjang sekitar 1 kilometer yang dimulai dari pintu masuk wisata.
Situasi kian sulit ketika beberapa warga yang panik mencoba mengusik keberadaan reptil tersebut sebelum petugas tiba di lokasi. Usikan warga membuat gerombolan ular berukuran masif itu terkejut dan terpisah. Akibatnya, dari empat ular yang ada, hanya dua ular yang berhasil dievakuasi petugas, sedangkan dua ular sisanya lari ke aliran air curug dan ke semak-semak hutan.
Menurutnya, dengan menggunakan alat capit, petugas sendiri membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk bisa mengevakuasi ular tersebut.
"Kesulitannya mobil nggak bisa langsung masuk. Kita jalan kaki mungkin ada kurang lebih ke tempat itu teh hampir 1 kilo lah masuk ke dekat Curug Bangkong di situ. Ketika warga laporan, mereka ganggu, mereka lemparin, jadi sebagian kabur. Jadi hanya dua bisa tertangkap dan ketahuan sedangkan yang duanya kabur," tutur Arga.
Arga memaparkan munculnya kelompok kobra berukuran besar di tempat wisata publik disinyalir karena bertepatan dengan musim kawin satwa di musim kemarau. Karakter kobra yang menyukai air juga memicu reptil ini mendatangi area kolam, sungai, hingga taman wisata perairan saat suhu udara meningkat.
"Musim kawinlah. Dan kalau kobra itu kan karakternya emang suka berenang gitu. Dia tuh besok kalau panas gini di tempat di kolam, di sungai gitu, dia mandi. Nanti berjemur, udah nyari lagi," tutur Arga.
Usai dievakuasi, ular-ular berbisa besar tersebut ditampung sementara di Kantor Pemadam Kebakaran Kuningan sebelum diserahkan kepada komunitas pecinta reptil untuk selanjutnya dirilis kembali ke habitat yang jauh dari aktivitas manusia.
Pihak Damkar Kuningan pun mengimbau pengelola tempat wisata dan masyarakat untuk tidak melempari atau mengganggu saat menemukan satwa berbahaya, melainkan segera melapor ke petugas agar evakuasi berjalan aman.
(yum/yum)
