Jaga Mutu Pendidik, LLDIKTI Tekankan Pentingnya Riset Dosen

Jaga Mutu Pendidik, LLDIKTI Tekankan Pentingnya Riset Dosen

Whisnu Pradana - detikJabar
Rabu, 14 Okt 2026 22:40 WIB
Ketua Tim Kerja Sumber Daya LLDIKTI Wilayah IV, Idik Nursidik
Ketua Tim Kerja Sumber Daya LLDIKTI Wilayah IV, Idik Nursidik (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Cimahi -

Pemerintah melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) meminta dosen-dosen di perguruan tinggi lebih produktif menghasilkan produk berupa jurnal ilmiah yang dipublikasikan sebagai langkah menjaga mutu tenaga pendidik.

Ketua Tim Kerja Sumber Daya LLDIKTI Wilayah IV, Idik Nursidik mengungkapkan jika saat ini masih banyak dosen mengalami kendala dalam memahami mekanisme penulisan dan penerbitan artikel ilmiah yang benar sesuai standar.

"Dosen itu kan kewajibannya tridarma perguruan tinggi, salah satunya penelitian dan publikasi artikel ilmiah. Banyak dosen yang sebenarnya memiliki potensi namun terhambat, yang paling umum ditemui adalah dosen belum mengetahui di mana karya ilmiah mereka seharusnya diterbitkan dan bagaimana bentuk penulisan artikel ilmiah yang benar," kata Idik saat ditemui, Rabu (14/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belum lagi soal minimnya informasi mengenai jurnal sebagai sumber literatur yang kredibel, format penulisan yang tepat, serta pemahaman tentang etika publikasi artikel ilmiah. Untuk itu, dosen mesti mendapatkan bimbingan secara langsung mulai dari menentukan jurnal tujuan, menyusun naskah sesuai kaidah ilmiah hingga memastikan seluruh proses memenuhi standar integritas akademik yang berlaku.

ADVERTISEMENT

"Di sinilah peran perguruan tinggi unggul untuk berbagi sumber daya dan pengalaman yang lebih memadai. Sehingga mereka paham kendala yang dialami, dan bagaimana solusinya," kata Idik.

Di sisi lain, dosen mesti mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Di antaranya bisa memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk membantu mereka memproduksi artikel ilmiah sesuai standar.

"Secara prinsip, AI tetap boleh digunakan selama tidak menggantikan peran penulis secara utuh dan keberadaannya dicantumkan secara terbuka dalam naskah," kata Idik.

Kendati demikian, dalam pemanfaatan AI untuk produksi artikel ilmiah mesti dipahami oleh dosen batasan-batasannya. Setiap jurnal yang dipublikasikan memiliki kebijakan masing-masing yang akan semakin diperketat, termasuk penerapan alat pendeteksi plagiasi dan pelacakan jejak penggunaan AI.

"Penting dipahami, biaya publikasi memang ada di jurnal mana pun, namun yang terpenting adalah prosesnya harus transparan, melalui mekanisme review yang ketat, dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah," kata Idik.

Di tengah tingginya tuntutan dosen melahirkan artikel atau jurnal ilmiah, menjadi celah munculnya oknum tidak bertanggung jawab yang menawarkan jalur pintas dengan biaya mahal. Praktik-praktik semacam itu tidak hanya melanggar aturan, namun juga merusak kredibilitas akademik.

"Dengan bekal pemahaman yang tepat, dosen tidak akan mudah terjebak penawaran yang terdengar menguntungkan namun sebenarnya merugikan diri sendiri dan dunia akademik," kata Idik.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads