Senjata Kota Bandung Antisipasi Penutupan TPA Sarimukti

Senjata Kota Bandung Antisipasi Penutupan TPA Sarimukti

Bima Bagaskara - detikJabar
Selasa, 13 Okt 2026 16:15 WIB
Mesin insinerator di TPS Jl Indramayu, Antapani, Kota Bandung.
Mesin insinerator di TPS Jl Indramayu, Antapani, Kota Bandung. (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

TPA Sarimukti kini sedang berada dalam kondisi kritis. Usia fasilitas penampungan sampah itu diprediksi makin pendek dan hanya bisa bertahan hingga November 2026.

Kondisi ini membuat Kota Bandung harus memutar otak. Dengan timbulan sampah sekitar 1.500 ton per hari, Bandung jadi wilayah yang menyumbang kiriman paling banyak sampah ke TPA Sarimukti.

Untuk antisipasi, Pemkot Bandung pun menyiapkan sejumlah jalan demi menangani masalah persampahan. Salah satu caranya dengan mengembangkan fasilitas kompos fit yang bakal disebar di 6.500 titik hingga akhir 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung Darto mengatakan, ribuan kompos fit itu nantinya akan disebar hingga bisa berada di 3-4 titik di setiap RT. Upaya ini ditargetkan bisa menangani secara perlahan timbulan sampah organik yang bisa mencapai 611 ton per hari.

"Tingkat kepadatan sampah organik per 1 meter kubik itu bisa menampung 500 kilogram. Jadi untuk menampung 611 ton itu sudah terkalkulasi, kompos pit yang kita butuhkan satu kota yaitu 109.800," katanya, Selasa (13/10/2026).

ADVERTISEMENT

"Memang masih jauh. Terus bagaimana cara kita melakukan itu? Ya, bertahap. Nah, akhir tahun ini berarti kita sudah punya lebih dari 6.000-an kan. Nah, tahapan berikutnya ya tinggal melipatgandakan pada tahun-tahun berikutnya," ungkapnya menambahkan.

Kompos fit sendiri kata Darto bekerja dengan cara menampung sampah organik di sebuah lubang yang sudah ditentukan. Lubang itu tidak perlu penanganan khusus dan bakal punya rentang usia sekitar 3 bulan.

Setelah penuh, lubang kompos fit nantinya bisa dikosongkan. Proses pengisian sampah organik setelah itu pun bisa dimulai lagi dari awal.

Selanjutnya, Pemkot Bandung bakal mengaktifkan kembali 32 unit teknologi termal untuk pengolahan sampah. Satu unit teknologi itu kata Darto bisa mengolah 10 ton sampah per harinya.

"Gaslah kita juga sudah (bisa mengolah sampah) di atas 100 ton lah sehari. Dan kemungkinannya, kalau kompos pit-nya berhasil kita gelar, maka berarti butuh petugas yang memilah sampah organik yang lebih banyak lagi supaya 611 teh bisa diselesaikan. Sekarang baru sampai angka 100-an dari 600. Ya, bahasa gampangnya berarti butuh enam kali lipat kira-kira. Tapi tentu nanti untuk mengeksekusinya, ya lihat kemampuan budget-nya ya," ucapnya.

Untuk kebutuhan pengolahan sampah jangka panjang, Pemkot Bandung sedang mengembangkan teknologi Solid Recovered Fuel (SRF) dengan Danantara. Konsepnya, Danantara bakal menyiapkan pembiayaan, sementara Pemkot bertugas untuk mencari lahan.

Yang paling bisa terjangkau dalam waktu dekat yaitu pembangunan proyek itu di kawasan Gedebage. Teknologinya sendiri kata Darto bisa mengolah 300 ton sampah per hari.

"Dan kalau itu jalan satu, maka kita sudah mempersiapkan tiga yang lainnya. Jadi kapasitasnya bisa 300 ton kali 4," ucap Darto.

Adapun tiga lokasi lain yaitu di antaranya di Jalan Supadio, Kecamatan Cicendo dan eks TPA Cicabe. Di Gedebage sendiri, teknologi itu ditarget bisa dijalankan pada tahun depan.

"imeline-nya yang bikin itu Danantara, kita sedang menunggu tahapan-tahapan berikutnya. Tahapan yang terakhir yang sudah pernah kita lakukan teh kick-off di Jakarta. Targetnya Danantara sih justru Februari-Maret itu sudah beroperasi. Tapi apakah sesuai sama target itu, ya nanti kita lihat perkembangannya ya," pungkasnya.

(bba/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads