Sejumlah masyarakat melakukan aksi protes di Jalan Raya Laswi, Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Senin (12/10/2026). Aksi dilakukan imbas adanya pembangunan Jembatan Munjul 2 yang kerap menjadi pemicu kemacetan.
Pantauan detikJabar di lokasi, warga tersebut melakukan aksi di pinggir jalan. Mereka membentangkan berbagai spanduk bernada protes sambil melakukan orasi.
Adanya pembangunan jembatan tersebut membuat warga yang melintas terganggu. Bahkan pada saat pagi dan menjelang petang, jalan tersebut kerap mengalami kemacetan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengendara yang melintas hanya bisa menggunakan satu jalur secara bergantian. Hal tersebut membuat warga yang melintas kerap naik pitam.
Kemacetan di Jalan Laswi, Baleendah, Kabupaten Bandung (Foto: Yuga Hasani/detikJabar). |
Merespons keluhan tersebut, Gerakan Masyarakat (Gema) Kabupaten Bandung langsung melakukan aksi di pinggir jalan tersebut. Mereka menginginkan pembangunan tersebut bisa segera diselesaikan.
"Kita sebetulnya anak muda asli orang Kabupaten Bandung yang selama ini merasa resah dengan kondisi kemacetan yang terjadi karena adanya perbaikan Jembatan Munjul 2 yang sangat merugikan kami sebagai generasi muda," ujar Koordinator Aksi, Abi Muhamad Rafli, saat ditemui di lokasi.
Abi menjelaskan bahwa pembangunan tersebut membuat warga terganggu sehingga pengendara yang melintas kerap terlambat sampai ke tujuan.
"Kami menjadi sering telat ke kuliah, ke kampus, kita sering telat juga ke sekolah. Kalau pekerja dia suka telat ke tempat kerjanya dan banyak lagi kerugian-kerugian yang disebabkan oleh kemacetan tersebut," katanya.
Dia mengaku perbaikan tersebut telah dilakukan sejak dua bulan yang lalu dan sampai saat ini belum selesai. Sehingga warga resah dan ingin pembangunan segera diselesaikan.
"Sebetulnya untuk tuntutan kita ada tiga, yang pertama ini kita mendesak kontraktor supaya menyelesaikan pengerjaan Jembatan Munjul 2 ini secepat-cepatnya gitu," jelasnya.
Abi pun mendesak Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Pemprov Jabar supaya melakukan pengawasan pembangunan tersebut. Kemudian proses audit kepada kontraktor bisa segera dilakukan.
"Ketiga, kami juga mendesak kepada kontraktor untuk Transparansi dalam membuka dokumen publik. Soalnya kita hari ini bisa melihat polisi dan juga Dishub sekarang mengatur lalu lintas. Tapi di hari-hari biasa itu polisi, Dishub itu tidak ada yang mengatur lalu lintas," bebernya.
"Ditambah manajemen rekayasa lalu lintasnya pun tidak ada, yang semakin memperparah kondisi kemacetan di jalan ini gitu," tambahnya.
Jalan tersebut merupakan penghubung dari Kabupaten menuju ke Kota Bandung atau sebaliknya. Sehingga jalan tersebut merupakan urat nadi bagi masyarakat Kabupaten Bandung.
"Kami juga resah gitu setiap hari macet di sini. Bahkan kami pernah terjebak di sini 2 jam baru nyampe ke rumah. Itu kan sangat-sangat menjengkelkan untuk kita sebagai warga, karena warga juga mempunyai hak," ungkapnya.
Dia menambahkan akan terus bersuara terkait pembangunan tersebut. Bahkan dirinya mengancam akan menurunkan massa yang lebih besar jika tidak ditanggapi.
"Kalau pemerintahnya ataupun pihak kontraktornya tidak menanggapi tuntutan kita. Jadi kita akan menambah eskalasi lagi gitu ya, kita akan melakukan eskalasi gerakan yang lebih masif, kita akan melakukan konsolidasi-konsolidasi," kata Abi.
"Jika tidak ditanggapi, ini bisa membuktikan bahwasanya pemerintah tidak serius gitu dalam melindungi pengguna lalu lintas di sini gitu," pungkasnya.
Simak Video "Video: Kronologi Kantor Tambang Nikel di Morowali Dibakar Warga"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

