Sejarah Pagarsih, Tulang Punggung Industri Cetak Bandung

Sejarah Pagarsih, Tulang Punggung Industri Cetak Bandung

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Senin, 12 Okt 2026 09:00 WIB
Banjir di Bandung, kondisi Jalan Pagarsih usai banjir
Suasana Jalan Pagarsih (Foto: Baban Gandapurnama)
Bandung -

Di jantung Kota Bandung, terdapat sebuah kawasan yang telah lama menjadi nadi industri kreatif berbasis cetak. Jalan Pagarsih, yang membentang di Kecamatan Andir, bukan sekadar nama jalan biasa. Ia adalah simbol ketahanan ekonomi rakyat, pusat kreativitas desain, dan saksi bisu transformasi Bandung dari kota persawahan menjadi metropolitan kreatif.

Sejak era 1990-an, ratusan usaha percetakan kecil dan menengah tumbuh subur di sepanjang jalan ini, menawarkan segala kebutuhan cetak mulai dari undangan pernikahan, kartu nama, poster, hingga buku-buku keagamaan seperti buku Yasin.

Pagarsih bukan hanya tempat mencetak kertas, melainkan ekosistem industri yang telah menghidupi ribuan keluarga, melahirkan desainer grafis, dan menjadi tulang punggung ekonomi kreatif Bandung yang terkenal hingga mancanegara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asal Usul Nama Pagarsih

Nama Pagarsih memiliki akar sejarah yang dalam dan terkait erat dengan perkembangan wilayah Bandung pada masa kolonial. Pada era 1940-an, kawasan yang kini dikenal sebagai sentra percetakan ini masih berupa hamparan persawahan, kebun kangkung, dan kebun kelapa.

ADVERTISEMENT

Jalan Pagarsih diperkirakan sudah ada sejak tahun 1930-an, meskipun kondisinya belum selebar seperti sekarang. Konon, seorang tuan tanah bernama Garsih pernah tinggal di wilayah ini. Karena termasuk orang terpandang dan berpengaruh di kawasan tersebut, masyarakat sekitar kerap memanggilnya dengan sebutan Pak Garsih, yang dalam bahasa Sunda, "Pa" adalah panggilan hormat untuk laki-laki.

Selain sosok yang dihormati, Pak Garsih dikenal memiliki jasa besar bagi warga sekitar. Ia adalah orang yang berjasa membangun pintu air di Sungai Citepus yang berfungsi untuk mengairi persawahan, kebun kangkung, dan kebun kelapa yang ada di daerah tersebut.

Atas prakarsanya, ia bersama warga membuat pintu air atau irigasi yang melekuk ke arah Jalan Babakan Irigasi sekarang. Dalam bahasa Sunda, bentuk melekuk ini disebut "ulekan". Maka tak heran jika di wilayah ini terdapat Pasar Ulekan, yang kini lebih dikenal sebagai Pasar Pagarsih. Dari sinilah nama Pagarsih melekat dan menjadi identitas kawasan yang kini terkenal sebagai sentra percetakan terbesar di Bandung.

Transformasi dari Pasar Tradisional ke Sentra Industri

Dalam penelitian Maryadi, A. (2019), di sampaikan jika perjalanan Pagarsih menjadi sentra percetakan modern tidak terlepas dari peran Pemerintah Kota Bandung dalam memberdayakan potensi ekonomi lokal.

Sentra Percetakan Pagarsih pertama kali berdiri pada tahun 2005, yang awalnya berupa pasar tradisional. Kemudian pemerintah daerah Bandung kemudian memberdayakan kawasan ini untuk kegiatan perekonomian masyarakat.

Seiring berjalannya waktu dan untuk memenuhi kebutuhan penataan kota yang lebih baik, pada tahun 2008 pemerintah daerah mengubah Pasar Tradisional Pagarsih menjadi sentra percetakan resmi. Transformasi ini ditandai dengan pembangunan gedung baru melalui kerja sama dengan pihak swasta, yaitu PT PRADUTA, dengan sistem kontrak.

Setelah habisnya masa kontrak atau kerja sama pemerintah daerah dengan PT PRADUTA pada tahun 2012, kini Sentra Percetakan Pagarsih sepenuhnya dikelola oleh pemerintah daerah.

Tak hanya itu, Dinas Koperasi, Perdagangan, dan Industri Kota Bandung telah memasukkan Sentra Industri Percetakan di Pasar Ulekan Pagarsih ke dalam situs resmi 30 sentra industri di Kota Bandung sejak tahun 2012.

Pengakuan resmi ini menandai Pagarsih sebagai salah satu sentra industri kreatif Bandung yang fokus pada jasa percetakan dengan berbagai macam produk seperti suvenir, gift card, undangan, buku yasin, dan lainnya.

Ekosistem Industri Kreatif Bandung

Pagarsih telah lama menjadi bagian integral dari ekosistem industri kreatif Bandung. Industri ini memainkan peran penting dalam membantu kota pulih secara ekonomi setelah krisis 1998, dan hingga kini tetap menjadi tulang punggung industri kreatif Bandung.

Sebagian besar toko kertas dan percetakan terletak di sepanjang Jalan Pagarsih yang membentang sekitar dua kilometer. Usaha-usaha ini beroperasi di dalam ruko-ruko dan sebagian besar dijalankan oleh keluarga Tionghoa. Setiap toko memiliki spesialisasi mesin dan proses cetak yang berbeda-beda, dan mereka siap menerima produksi dalam skala kecil.

Fleksibilitas inilah yang membuat Pagarsih menjadi destinasi utama bagi desainer, penerbit independen, dan pelaku usaha kreatif yang membutuhkan layanan cetak dengan berbagai skala produksi.

Para penyedia jasa percetakan di kawasan ini siap membantu melayani pencetakan skala kecil, menengah, maupun besar. Konsumen dapat menemukan berbagai layanan, mulai dari cetak undangan pernikahan dan khitanan, kartu ucapan, spanduk, poster, amplop, flyer, hand tag, hingga buku Yasin dan suvenir lainnya. Pelayanan khusus dengan kualitas baik dan harga terjangkau menjadi daya tarik utama kawasan ini.

Tantangan Kawasan Pagarsih

Meskipun telah mapan sebagai sentra industri, Pagarsih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu yang paling signifikan adalah kerentanan terhadap bencana banjir.

Pagarsih merupakan sentra percetakan yang sering sekali terkena bencana banjir yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kepadatan penduduk, penyempitan sungai, dan curah hujan yang tinggi yang terjadi di kawasan ini.

Terdapat pula upaya modernisasi melalui pembangunan Plaza Pagarsih, sebuah gedung mirip mal yang dibangun beberapa tahun lalu dan seharusnya menggantikan toko-toko kecil.

Namun, gedung ini sebagian besar dibiarkan kosong, dan sebagian besar pemilik usaha serta pekerja tetap memilih beroperasi di tempat asli mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa ekosistem Pagarsih telah terbentuk sedemikian kuatnya bahwa pemindahan ke gedung baru tidak serta-merta diterima oleh pelaku usaha.

Usaha percetakan di Pagarsih juga bersifat turun-temurun. Banyak usaha yang telah ada sejak tahun 1990-an dan dijalankan secara lintas generasi. Hal ini menunjukkan adanya transfer pengetahuan dan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya, yang menjadi modal sosial penting bagi keberlanjutan industri ini.

Halaman 2 dari 2
(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads